Milad Pertama, Klinik Surya Medika Sumbawa Siap Beralih Menjadi RS PKU

Merayakan milad pertama Klinik Surya Medika Sumbawa menggelar serangkaian kegiatan Seminar Sumbawa Bebas Narkoba dan Jalan Sehat. Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu (31/10) di pelataran lingkungan dihadiri oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Drs Fauzan MPd dan jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sumbawa. Menjajaki pencapaian yang memuaskan, saat ini Klinik Surya Medika telah memiliki 51 orang pegawai operasional, empat dokter umum, delapan dokter spesialis, enam poliklinik, enam belas ruang rawat inap, satu ruang bersalin dan satu ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Berdasarkan pencapaian tersebut, Klinik Surya Medika yang saat ini pengelolaanya ada di bawah naungan UMM, tengah bersiap untuk berubah status menjadi Rumah Sakit Pelayanan Kesejahteraan Umum (RS PKU). “Fokus kami saat ini ingin merubah status Klinik Surya Medika menjadi Rumah Sakit PKU Surya Medika. Hal tersebut didukung dengan keberadaan tenaga ahli kesehatan kami yang telah memenuhi standart” jelas Direktur Klinik Surya Medika, Yogi Triatma Kusuma. Sebagai bagian dari amal usaha UMM, Klinik Surya Medika saat ini juga berupaya terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan home care bernama Pintu Surya Medika. Selain itu, bekerjasama dengan BNN kinik tersebut juga berfokus menyusun rancangan kegiatan rehabilitasi. (nis/sil)
Perguruan Tinggi Muhammadiyah Satukan Langkah, Ciptakan SDM Guru Berkualitas

LEMBAGA Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (LPTK PTM) menggelar Workshop Pra-jabatan Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada Selasa-Rabu (31/10-01/11) di Aula Hotel UMM Inn, Malang. Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama LPTK PTM bersama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM). Kegiatan dihadiri perwakilan sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), di antaranya Universitas Prof Dr Hamka (UHAMKA), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), STKIP Muhammadiyah Sorong, dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua ALPTK PTM Prof Harun Joko Prayitno. Pada sambutannya, Harun menjelaskan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah awal bagi PTM di Indonesia untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia guru PPG yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan lapangan. “Rangkaian kegiatan-kegiatan yang akan bapak ibu ikuti selama dua hari ini diharapkan dapat menyelaraskan pengkoordinasian dan penyamaan persepsi untuk peningkatan kualitas lulusan PPG,” jelas Harun. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini akan membahas beberapa hal yang akan menjadi kesempatan bersama oleh seluruh PTM yang hadir, di antaranya sistem pembelajaran dan evaluasi, bentukan kurikulum, susunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sistem Program Pengalaman Lapangan (PPL), peningkatan keterlibatan guru pamong, dan upaya peningkatan kualitas pedagogik guru pamong. Di akhir kegiatan ini, diharapkan akan menghasilkan format resmi yang akan digunakan oleh seluruh PTM di Indonesia. (nis/han)
Di UMM, 24 Peneliti HAM Suarakan Hak-hak Minoritas di Indonesia

SEBANYAK 24 peneliti muda hak asasi manusia (HAM) dari berbagai daerah di Indonesia mempresentasikan hasil risetnya tentang hak-hak kelompok minoritas di Indonesia, Selasa (31/10) di Hotel UMM Inn, Malang, Jawa Timur. Presentasi riset ini merupakan kelanjutan dari kursus selevel-master (Master-Level Course/MLC) on Human Rights and Sharia yang diadakan atas kerjasama Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Oslo Coalition Norwegia dan The Asia Foundation (TAF) pada bulan Juli lalu. Selepas MLC, para peneliti itu selanjutnya melakukan mikro riset selama tiga bulan tentang berbagai isu dan persoalan yang dihadapi kelompok minoritas di Indonesia. Hasil riset itulah yang kemudian direview oleh perwakilan PUSAM UMM, Dr Vina Salviana, dan TAF, Dr Budhy Munawar-Rachman. Budhy mengatakan, program MLC yang telah berlangsung sejak 2011 ini sangat menarik karena selalu menghasilkan temuan-temuan yang bermanfaat bagi penegakan HAM di Indonesia. “Tahun ini yang menjadi fokus yaitu kelompok minoritas di Indonesia. Saya tadi baca-baca hasil risetnya menarik sekali. Banyak perspektif. Berbagai problemnya juga menyebar di berbagai daerah di Indonesia,” tutur Budhy. Jika dilihat dari daftar topik riset yang dilakukan para peneliti muda itu, beberapa topik menarik yang diangkat semisal tentang kelompok Dayak Kaharingan di Kalimantan Selatan, hukuman cambuk bagi non-Muslim di Aceh, kasus penutupan patung Kwan Sing Tee Koen di Tuban, studi pemimpin non-Muslim di Pilkada Jakarta, hingga kerjasama Muslim dan Kristiani dalam membangun masjid di Nusa Tenggara Timur. (iel/han)