Kerjasama dengan KEMENDIKBUD, UMM Gelar Tes Minat Bakat Siswa Papua

Untuk membantu identifikasi minat dan bakat siswa afirmasi dari wilayah Papua, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (FPSI UMM) menyelenggarakan Program Pendampingan Minat dan Potensi Siswa Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) 2017, Sabtu (04/11) di Gedung Kuliah Bersama 1 (GKB 1) UMM. Bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMDIKBUD) melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK), FPSI mengadakan Tes Potensi Minat dan Bakat dan Forum Group Discussion (FGD) yang berlangsung selama satu hari penuh. Kegiatan yang digelar setiap tahun ini diikuti oleh 205 siswa dari 35 sekolah yang tersebar di Regional 3 yaitu wilayah Malang Raya, Kota Batu, Kediri, Blitar, dan Pasuruan. Menjadi salah satu dari lima fakultas se-Indonesia yang dipilih oleh KEMDIKBUD melalui PKLK, Ketua Pelaksana Kegiatan, Siti Maimunah, S.Psi., MM., MA mengaku bangga atas kepercayaan yang diberikan. “Fakultas Psikologi UMM ini adalah salah satu fakultas dari lima fakultas se-Indonesia yang dipercaya oleh KEMDIKBUD. Ini merupakan sesuatu yang sangat membanggakan bagi FPSI UMM,” tuturnya. FPSI tidak sebatas melaksanakan tes dan pendampingan pada siswa namun juga pada guru sekolah yang menjadi pendamping siswa ADEM. Kegiatan pendampingan bagi guru ini dilaksanakan secara terpisah dan dipandu oleh dosen-dosen Psikologi UMM. “Kami tidak membiarkan guru pendamping itu terlantar dan menghabiskan waktu tanpa tambahan ilmu, sehingga kita kumpulkan dan pertemukan beliau-beliau ini pada satu grup diskusi sendiri untuk dapat saling bertukar pengalaman,” tambah Siti. Peserta pada kegiatan ini adalah siswa dari Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berada pada tingkat 10 dan 12. Pemetaan peserta tes berdasarkan kebutuhan siswa kelas 10 yang akan menghadapi penjurusan pada tingkat SMA dan siswa kelas 12 yang akan menghadapi peminatan pada tingkat universitas. (nis/sil)
UMM FC Juarai Torabika Campus Cup 2017

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menyabet juara satu dalam kompetisi Torabika Campus Cup (TCC) 2017. Ajang TCC yang digelar di Stadion Universitas Negeri Malang (UM) ini merupakan turnamen sepakbola yang diselenggarakan setiap tahun. Sebelumnya, UMM terlebih lebih dulu mengalahkan tim Universitas Brawijaya (UB) dengan skor 3-0, kemudian mengungguli Universitas Dr Soetomo Surabaya (Unitomo) dengan skor 2-1. Sorak sorai dukungan supporter UMM membangkitkan gelora semangat tim untuk bertanding dengan baik. Hasilnya di final (2/11) UMM tampil memukau dengan menaklukkan tuan rumah UM dengan skor 2-0. Keunggulan tim UMM tidak lepas dari persiapan yang matang. Dipimpin coach Edi, proses seleksi menjadi langkah awal untuk menentukan pemain yang memenuhi kualifikasi. Para pemain yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UMM Football Club (UMM FC) melewati seleksi dalam tiga tahap meliputi ketahanan fisik, ketangkasan dan pemahaman yang baik terkait bola. Setelah didapatkan 16 pemain yang memenuhi kualifikasi, latihan dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Berupaya mengukur kemampuan setelah rutin berlatih, tim TCC UMM dua kali melakukan uji coba melawan tim dari STIE Malang Kucecwara dengan skor UMM unggul 6-0 dan tim dari Sekolah Sepak Bola Kasembon, Kabupaten Malang. Persiapan yang intens ini mampu membentuk tim sepak bola UMM yang tangguh dan penuh strategi. “Membawa nama UMM jadi kita satu tim harus terus berjuang sampai menang,” ungkap Abusalam Kulum, mahasiswa UMM asal Thailand yang juga menjadi second striker dalam kompetisi ini. Sempat mencetak gol pada final, Muhammad Dicky Haedar selaku gelandang tim UMM merasakan atmosfir yang luar biasa pada kompetisi ini. “Kami mendapat motivasi dari para coach bahwa setiap pertandingan adalah final, dengan begitu kami akan terus maksimal dalam bertanding,” ujar Dicky dengan bangga. Kemenangan UMM sekaligus menjadikannya sebagai wakil Jawa Timur dalam ajang Torabika Campus Cup 2017 melawan Padang, Jakarta, Bandung dan Makasar. (nim/han)
Muhammadiyah Siapkan Metode Ajarkan Islam Toleran Bagi Mahasiswa Non-Muslim

RIBUAN mahasiswa non-Muslim yang kuliah di sejumah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) menjadi perhatian khusus bagi Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Menindaklanjuti hal tersebut, sejumlah PTM di Indonesia, terkhusus PTM yang berada di wilayah Timur Indonesia datang ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membincang metode dan materi pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) untuk mahasiswa non-Muslim. Diadakan di Hotel UMM Inn akhir pekan lalu (3-4/11) kegiatan ini dirangkai dalam Workshop Panduan AIK untuk Non-Muslim. Workshop ini dihadiri oleh perwakilan Universitas Muhammadiyah Sorong, Universitas Muhammadiyah Kupang, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, dan IKIP Muhammadiyah Maumere. Selain itu juga dari perwakilan STIKOM Jayapura, STKIP Muhammadiyah Sorong, STKIP Muhammadiyah Palopo, STIKES Manado, Universitas Prof Hamka Jakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan tuan rumah UMM. Hadir pula perwakilan Universitas Ma Chung sebagai pembanding pengajaran mata kuliah agama Rektor UMM Fauzan menyampaikan jika program AIK memang memiliki dinamika yang cukup tinggi dan harus mengikuti perkembangan zaman. “Jika model pembelajaran AIK itu hanya untuk kognitif saja tanpa ada tujuan afektif dan konatif, maka nantinya mahasiswa tidak akan dapat mengaplikasikannya dan hanya akan menjadi sekedar mata kuliah,” terang Fauzan. Senada dengan Fauzan, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof Lincolin Arsyad MSc PhD menjelaskan, esensi dari AIK adalah akhlakul karimah. “Di AIK, intinya kita akan dituntun untuk berbuat baik dan berhubungan sosial secara baik,” jelas Lincolin. Asisten Rektor Bidang AIK UMM, Dr Moh Nurhakim MA juga menerangkan, luaran yang diharapkan setelah workshop adalah poin-poin penting hasil diskusi yang bisa diterapkan untuk menyusun kurikulum AIK bagi PTM, khususnya yang mayoritas mahasiswanya non-Muslim. “Contohnya ada di Sorong, Manokwari, Jayapura dan Kupang. PTM di sana mahasiswa non-muslimnya kisaran 60% hingga 90%,” jelasnya. (iel/han)
Lective, Software Perancang Kurikulum Karya Dosen dan Mahasiswa UMM

Galih Wasis Wicaksono, M.Cs. dan Nur Putri Hidayah, M.H. saat berpartisipasi dalam SenasPro 2017 di UMM Dome Oktober lalu Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil membuat software perancang Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) dan perangkat pembelajaran berupa silabus, Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bernama “Lective”. Tim ini terdiri dari dosen UMM Galih Wasis Wicaksono MCs, Nur Putri Hidayah MH dan Dr Hari Windu Asrini, dibantu mahasiswa Teknik Informatika UMM, M Andi Al-Rizqi. Ketua tim peneliti, Galih memaparkan, penelitian yang sudah dimulai sejak 2014 ini berawal dari kesulitan beberapa dosen muda dalam penyusunan kurikulum. Karena dalam realitanya, tidak semua dosen atau tenaga pendidik mendapatkan materi untuk menyusun kurikulum secara reguler. “Oleh karena itu kami berniat untuk mempermudah dan mempersingat penyusunan kurikulum dengan menggunakan software aplikasi,” jelas dosen jurusan Teknik Informatika UMM ini. Nur Putri Hidayah sebagai CMO dan LO tim peneliti juga menambahkan, penelitian yang didanai Kemenristek Dikti ini sampai saat ini sudah memiliki banyak fitur dan produk yakni Lective Gegulang, Lective Huluakan, Paket dan Pelatihan. “Ke depan, kami akan mulai mengembangkan Lective Imbagas yang merupakan software untuk perencanaan penliaian hasil belajar peserta didik. Selain itu rencana lebih jauh lagi, pada 2021 Lective akan bisa mendukung penjaminan mutu dan akreditasi,” jelas dosen Fakultas Hukum UMM ini. Untuk saat ini, lanjut Nur, Lective lebih fokus dalam mencari rekognisi dari lembaga-lembaga pendidikan. “Kami aktif untuk mencari rekognisi dengan cara mengikuti pameran-pameran dan bahkan presentasi langsung ke lembaga berpotensi,” sambungnya. Uniknya, meskipun belum dipasarkan secara profesional, sudah banyak tenaga pendidik maupun lembaga-lembaga pendidikan yang menggunakan produk ini. Selain digunakan di beberapa fakultas di UMM, Lective juga digunakan beberapa tenaga pendidik di Universitas Ma Chung dan Universitas Muhammadiyah Mataram. Total sudah ada 98 dosen, 11 fakultas, dan 41 program studi yang tersebar di Indonesia yang sudah menggunakan produk Lective. (iel/han)