Onky Cucuk Salencer, Kapten Tim UMM FC yang Juarai Piala Torabika

BERANGKAT dari semangat untuk meningkatkan kemampuan mengolah bola, Onky Cucuk Salencer memutuskan untuk hijrah ke Malang. Pengalaman pertama datang ke Malang ia alami saat mewakili sepak bola Kota Blitar. Hal itu menjadi pengalaman spesial bagi mahasiswa Budidaya Perairan Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Cucuk berkeyakinan, dengan melanjutkan pendidikan di Malang akan sangat membantu meningkatkan kemampuannya bermain sepak bola. “Setelah mewakili Kota Blitar dan bertemu banyak pemain di Malang, saya merasa bahwa kalau saya di Malang pasti saya bisa menjadi pemain profesional karena di Malang banyak klub-klub sepak bola,” ungkap Cucuk. Setelah resmi menjadi mahasiswa baru di Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM, Cucuk langsung memutuskan melanjutkan karir sepak bola dengan bergabung bersama unit kegiatan mahasiswa (UKM) UMM FC lantaran motivasi dari senior yang juga alumnus UMM. Pertama kali main bersama UMM FC, ia bukanlah pemain utama. Namun, hal itu memotivasinya untuk terus memperbaiki keterampilannya mengolah si kulit bundar. “Saya terima dan maklum saja menjadi pemain cadangan karena saya waktu itu masih maba dan saya sadar betul bahwa sepak bola Malang itu keras. Ini bagus juga untuk menempa ketahanan diri saya sebagai seorang pemain,” ujar pemuda kelahiran Blitar ini. Pada pertandingan kedua di Laga Internal Kota Malang, Cucuk mendapatkan kesempatan untuk terjun langsung di lapangan walaupun saat itu ia dimulai dari bangku cadangan. “Hal yang sangat mengesankan bagi saya karena pertama kali ini saya bisa bermain di Laga Internal Kota Malang, sekalipun untuk menggantikan senior saya,” jelas Cucuk. Menjadi pemain pengganti bukan hal yang menciutkan hati Cucuk. Pada laga ini Cucuk berhasil menjadi pencetak gol pertama dan hal itu menjadi sangat membanggkan baginya. Namun, rintangan tidak berhenti di situ. Tahun berikutnya, ia tidak bisa ikut bermain karena laga ini mensyaratkan hanya boleh diikuti mahasiswa yang berkartu tanda penduduk Malang Raya. Akhirnya ia mencoba peruntungan lain, setelah berkali-kali mengikuti seleksi untuk menjadi pemain di Persema akhirnya ia dinyatakan lolos dan bisa menjadi pemain di Persema di awal tahun 2017 ini. Setelah beberapa rintangan ia rasakan, sekarang Cucuk merasa karirnya dalam sepak bola mulai lebih baik dan menyenangkan. Saat ditunjuk sebagai Kapten pada Laga Torabika Campus Cup (TCC) ia merasa semakin semangat dan tertantang untuk terus meningkatkkan keterampilannya merumput. “Ada rasa sungkan sama senior tapi senior saya justru memberikan semangat dan motivasi kepada saya,” jelasnya.
Laboratorium Sentral UMM Perkuat Kerjasama dengan BSN dan SNI-Halal
MENINDAKLANJUTI kerjasama yang telah dijalin dengan Badan Standarisasi Nasional (BSN), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Workshop Laboratorium Sentral UMM (4/11). Workshop ini sekaligus sebagai launching akreditasi ISO/IEC 17025:2008 Laboratorium Sentral UMM dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan BSN dan SNI-Halal. “Dengan akreditasi Lab Sentral ini UMM menjadi kampus yang patut diperhitungkan. Ke depan kita akan menata manajemen internal agar terus mendapat rekognisi nasional dan internasional,” ujar Rektor UMM Fauzan. Sementara itu, Dr Elfi Anis Saati MP selaku Kepala Laboratorium Sentral UMM mengungkapkan, persaingan global baik dari SDM maupun bentuk produk menjadi alasan penting adanya standarisasi. “Lab Sentral UMM diarahkan dapat meningkatkan sistem manajemen mutu di UMM. Selain itu kampus ini memiliki 51 lab di antaranya 25 Lab Eksakta dan 17 lab Sosial sehingga diharapkan Lab Sentral ini dapat menjadi pintu untuk mengurus dan mengkoordinir seluruh lab di UMM,” ujarnya. Lab Sentral berhasil memperoleh akreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) ISO 9001 pada empat laboratorium yakni Laboratorium Nutrisi, Bioteknologi, Biologi dan Ilmu Teknologi Pangan (ITP). Sementara itu uji sertifikasi yang meraih ISO 17025 yaitu pengujian proxima dari Lab Nutrisi, uji total gula dan uji protein dari Lab Bioteknologi, uji total plate count (TPC) dari Lab Biologi serta uji antosianin dari Lab ITP Workshop bertema “Peran Perguruan Tinggi dalam Meningkatkan Kompetensi SDM” ini dihadiri pula oleh Kepala BSN Prof Dr Bambang Prasetya MSc, serta Kepala Bagian Pusat Sistem Penerapan Standar Dr Ir Wahyu Purbowasito Setyo Waskito. Pada kesempatan ini, Bambang menyampaikan materi terkait peran standarisasi produk guna mendukung persaingan global. Bambang memaparkan macam-macam standarisasi. “SNI tidak melulu tentang helm. Ada standarisasi manajemen resiko, standarisasi kebijakan, hingga sertifikasi anti-penyuapan,” ujarnya. Kemudian, materi kedua disampaikan Wahyu mengenai peran ipteks perguruan tinggi dan pentingnya peningkatan mutu produk dengan branding SNI dan sertifikasi halal dalam pasar global. (nim/han)