Ironisnya Kondisi Perikanan Indonesia

Kondisi perikanan di Indonesia saat ini bisa disebut ironis. Sebabnya, di tengah kebutuhan pasar yang besar, Indonesia masih banyak mengimpor teknologi untuk menangkap ikan dari luar negeri. “Padahal, jika ditelisik lebih dalam alat untuk menangkap ikan maupun melakukan budiaya ikan merupakan jenis teknologi yang mudah dibuat,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan RI ke 2 Periode 2001-2004, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS pada diskusi nasional bertema “Warisan Ir. H. Juanda, Solusi Pembangunan Kejayaan Nusantara”. Pada acara yang digelar dalam rangka memperingati Hari Nusantara oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani) tersebut Rokhmin menyampaikan uraiannya. Menurutnya, saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia mengkonsumsi protein hewani yang berasal dari ikan. Sayangnya, hal tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan teknologi untuk menangkap ikan yang memadai. “Menurut data, 65 persen protein hewani yang dikonsumsi masyarakat di Indonesia bukan berasal dari hewan terrestrial atau hewan darat, melainkan dari ikan,” jelas Rokhmin di Aula BAU, Rabu (13/12). Selain Rokhmin, diskusi nasional kali ini juga dihadiri berbagai stakeholder dari dunia perikanan Indonesia, antara lain guru besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB) Prof. Dr. Ir. H. Ari Purbayanto, M.Sc., Sekertaris Jendral Masyarakat Perikanan Nusantara Dr. Nimmi Zulbainarni, Ketua Umum Aliansi Nelayan Indonesia (ANNI) Riyono S.Kel, M.Si serta para tokoh nelayan dari Pati dan Rembang. Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM, Dr. Ir. David Hermawan, MP,menyambut baik adanya diskusi ini. Selain memberikan solusi bagi perikanan di Indonesia, ia juga berharap diskusi ini dapat memberikan wawasan kepada mahasiswa program studi perikanan. “Saya berharap diskusi seperti ini juga dapat memberikan suasana akademis yang baik bagi fakultas terutama bagi Program Studi Perikanan UMM,” tukasnya. Pada hari kedua, diskusi nasional ini membahas tentang “Resolusi dan Akselerasi Pembangunan Perikanan di Indonesia untuk Menghadapi Era Globalisasi”. Hadir dalam diskusi tersebut Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhy P sebagai keynote speaker, Anggota Komisi IV DPR RI Ono Surono ST, sekretaris Jenderal ASTUIN Hendra Sugandhi, dan Sekretaris Jenderal MAI Dr. Agung Sudaryono. (iel/sil)
Jembatani Karir Alumni, UMM Gelar Job Fair dan Entrepreneur Expo

SEBAGAI bentuk tanggung jawab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam ‘melepas’ alumninya, hari ini Kamis (14/12) digelar Job Fair dan Enterpreneur Expo di Hall Dome UMM. Kegiatan yang di prakarsai oleh unit Pengembagan Kewirausahaan Mahasiswa dan Alumni (PKMA) ini untuk mewadahi alumni-alumni UMM dalam menapaki jenjang yang lebih tinggi yakni dunia kerja. Tidak hanya menghadirkan 25 perusahaan BUMN dari Malang Raya, diantaranya perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, bidang perhotelan, bidang finance, bidang telekomunikasi, bidang jasa dan transportasi, gelaran ini turut dimeriahkan oleh hadirnya bazar mahasiswa dan alumni UMM. Kepala Bidang Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa dan Alumni (PKMA) Fien Zulfikarijah menuturkan bahwa Job Fair yang merupakan agenda rutin PKMA ini menjadi jembatan antara alumni UMM dengan perusahaan-perusahaan. “Tentu saja ini juga membantu pemerintah dalam menyelesaikan masalah ketenaga kerjaan,” ujar Fien. Pihaknya menambahkan bahwa UMM sebagai perguruan tinggi berupaya tidak hanya menerima mahasiswa, namun juga memberikan fasilitas kepada alumni UMM untuk melamar dan mendapatkan pekerjaan. Salah satunya dengan mendatangkan perusahaan-perusahaan melalui gelaran Job Fair ini. Menariknya, tidak hanya para job seekers yang memadati Hall Dome, kegiatan ini juga ditujukan untuk para job creators yakni para wirausaha muda dari UMM dalam lingkup Enterpreneur Expo. Fien menyebut dengan terselenggaranya Job Fair dan Enterpreneur Expo, alumni dapat menemukan pekerjaan yang diinginkan. Di sisi lain, perusahaan yang hadir juga dapat memperoleh tenaga kerja yang sesuai kriteria, sehingga keduanya dapat diselaraskan. Lebih jauh, Fien berharap di masa yang akan datang, dapat terjalin kerjasama lebih luas antara UMM dengan perusahaan-perusahaan. Salah satunya dalam hal pemagangan mahasiswa, audiensi dan penelitian. Salah satu job seeker yang hadir, Aulia Rahmawati mengungkapkan ketertarikannya terhadap Job Fair yang diselenggarakan UMM. Alumni prodi Ilmu Komunikasi UMM ini mengaku Job Fair memberikan wawasan terhadap pekerjaan yang akan dipilihnya. “Ada beberapa perusahaan tadi sudah lihat-lihat dan apply. Kedepan semoga Job Fair UMM lebih variatif lagi perusahaan-perusahaannya,” tandas Aulia. (nim/sil)