Prodi Bahasa Inggris UMM Kreasikan Produk Media dan Sumber Belajar

Jumat (29/12), Program Studi Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pameran produk media dan sumber belajar. Pameran yang bertajuk Innovative Teaching Media ini digelar di Lantai 3,5 UMM dan diikuti oleh 18 kelompok. Media belajar yang dipamerkan pun beragam, mulai dari media ajar tradisional atau analog hingga yang berbasis IT. Dosen pengampu mata kuliah Media dan Sumber Belajar, Rahmawati Khadijah Maro mengungkapkan, pameran ini merupakan refleksi akhir dari matakuliah media dan sumber belajar. Ia menyebutkan bahwa tujuan dari pameran ini agar mahasiswa terbiasa berpikir kreatif. “Mahasiswa tidak boleh hanya pandai dalam berteori saja, namun juga harus pandai dalam mengaplikasikan ide dan gagasan mereka,” ujar Rahma. Rahma juga menambahkan, meskipun pameran ini hanya merupakan projek mata kuliah, mahasiswanya tetap maksimal dalam menggelar pameran ini. Terbukti, produk-produk yang dipamerkan oleh mahasiswa semua menarik dan inovatif. “Di sini ada 18 kelompok, dan produk dari setiap kelompok tersebut memiliki keunggulan masing-masing. Keragaman produk tersebut meliputi target media tersebut, untuk usia PAUD, sekolah hingga dewasa. Bahkan ada salah satu produk IT yang dipamerkan sudah bisa diunduh dari Playstore,” sambung Rahma. Salah satu peserta pameran, Tri Juniyanti, mengaku merasa sangat tertarik dengan projek mata kuliah ini. Ia dan kelompoknya membuat aplikasi bernama VOCAPOS (Vocabulary and Part of Speech) yang merupakan aplikasi untuk membantu memahami part of speech dalam Bahasa Inggris. “Aplikasi ini berbentuk TTS (teka-teki silang.red), kami memprogram seperti itu agar para pembelajar bisa lebih tertarik dan mudah dalam belajar vocabulary dan part of speech,” tukasnya. Dibalik itu semua, Tri tak menampik jika ada kesulitan dalam pengerjaan aplikasi VOCAPOS tersebut. Salah satunya yang mendasar ialah kesulitan untuk membuat software aplikasi itu sendiri. “Kami bukan mahasiswa jurusan IT, jadi kami kesulitan dalam membuat program aplikasinya. Namun kami tetap tertarik mengembangkan VOCAPOS lebih jauh lagi setelah semester ini berakhir,” ungkap Mahasiswi Program Studi Bahasa Inggris angkatan 2016 itu. Selain aplikasi TTS VOCAPOS, ada juga media belajar dalam bentuk TTS yang lain yakni SCRABBLE, yang dikhususkan untuk siswa kelas 6 SD belajar vocabulary dengan cara yang lebih menyenangkan dalam bentuk analog atau tradisional.(iel/sil)
Mahasiswa PGSD UMM Ciptakan 36 Tarian Tradisional

Sabtu (30/12) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Pagelaran Seni PGSD 2017. Gelaran tari yang bertajuk “Create Entrepreneur in Traditional Dance to Build World of Education” ini digelar di parkiran mobil UMM. Gelaran tari kali ini merupakan bentuk tugas akhir dari mata kuliah Seni Budaya Sekolah Dasar 1 yang ditempuh oleh mahasiswa Prodi PGSD angkatan 2016. Total, ada 36 tarian yang disuguhkan. Menariknya tarian-tarian tersebut murni hasil karya mahasiswa PGSD, mulai dari musik hingga koreografinya. Dosen pengampu mata kuliah Seni Budaya Sekolah Dasar 1, Arina Reftian, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan tujuan dari kegiatan ini adalah agar mahasiswa dapat menjaga warisan budaya Indonesia, terutama dalam bentuk seni tari. “Dari kegiatan ini diharapkan setiap lulusan PGSD UMM selain menjadi pendidik yang profesional, mereka bisa menciptakan karya seni autentik mereka sendiri,” ujar Arina. Arina juga menambahkan, menurutnya kurikulum yang ada saat ini masih kurang dalam mendorong siswa dan mahasiswa untuk mengembangkan nilai-nilai seni budaya Indonesia. Karenanya, dibutuhkan acara sejenis untuk mendorong mahasiswa lebih aktif menjaga nilai-nilai budaya. “Harapannya, dengan kegiatan ini mahasiswa lebih terdorong untuk menjaga nilai budaya Indonesia,” pungkas salah satu inisiator Rumah Budaya Indonesia, yang juga bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Kedutaan Besar RI di Selandia Baru itu. Membuat sebuah tarian dan menampilkannya secara perdana di muka umum ternyata bukanlah hal yang sederhana. Hal ini diungkapkan oleh Galih Ayuningtyas, salah satu peserta Pagelaran Seni PGSD 2017. Selain kikuk harus tampil di muka umum, ia juga mengungkapkan Tarian Burung Nuri yang ia peragakan bersama teman-teman melalui proses yang panjang dalam pembuatannya. “Kesulitannya ada di pembuatan lagunya, bagaimana menyambung nada satu dengan yang lain, tetapi lain ceritanya dengan koreografinya, karena saya sudah pernah menari,” ungkap Galih. (iel/sil)
Teknik Industri UMM Bangun Semangat Penciptaan Produk Berbasis Teknologi