Sadar Budaya, LK UMM Gelar Silaturahmi Budaya

MENJALIN sinergitas antara akademisi, masyarakat, dan komunitas di Malang Raya menjadi tujuan Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar “Silaturrahmi Budaya: Mempererat Jejaring Budaya Seni dan Musik di Malang”, pada Sabtu (20/1). Berlokasi di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), kegiatan ini mempertemukan para budayawan asal Malang Raya, komunitas seni, mahasiswa serta dosen. Pada sambutannya Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin M.Si mengungkapkan bahwa budaya di Malang saat ini telah tergerus perkembangan zaman. Hal itu dibuktikan dengan maraknya lahan-lahan hijau yang beralih fungsi menjadi café, ruko, maupun tempat kongkow. Menanggapi fenomena tersebut Syamsul berharap acara silaturrahmi ini dapat menghasilkan satu perspektif yang bisa dikontribusikan. Ia juga menyampaikan bahwa UMM terbuka pada budaya. “Muhammadiyah sebagai payung dari UMM ini tidak anti budaya, tidak tabu dengan budaya. Mubah, boleh-boleh saja,” tutur Syamsul. Turut hadir dalam silaturrahmi ini penggagas Kampung Cempluk Malang, Redy Eko Prasetyo. Selain memaparkan sejarah berdirinya Kampung Cempluk, Redy juga mengulas tentang keberadaan masyarakat kampung dan adanya anekdot kampungan di masyarakat. Kampung, baginya justru adalah suatu hal yang berbeda dan istimewa. Kampung dan masyarakat di dalamnya merupakan lumbung sebuah ide. Jika lumbung ide tersebut dikelola dengan baik, maka hasil nyatanya dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat, contohnya seperti Kampung Budaya Cempluk. “Itulah, maka kampung harus kita geliatkan secara produktif,” ujar Redy. Selain Redy, hadir pula Kepala LK Dr Daroe Iswatiningsih MSi dan Ketua Museum Musik Indonesia Hengki Herwanto. (nim/sil)
Dipercaya Kemenristekdikti, UMM Jalankan Program PPG

Untuk meningkatkan kualitas calon guru yang profesional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipercaya oleh pemerintah sebagai penyelenggara program Pendidikan Profesi Guru (PPG). PPG merupakan salah satu program yang dirancang oleh Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Program ini ditempuh selama dua semester atau satu tahun. Melalui program tersebut diharapkan akan lahir lulusan calon guru yang profesional dan siap menghadapi tantangan. Dirancang sejak tahun 2014, berbagai upaya dilakukan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM hingga dapat sampai di titik ini, mulai dari proses pengajuan proposal, evaluasi proposal, hingga akhirnya mendapat amanah untuk menyelenggarakan program PPG ini. Bukan hanya itu, Dr Poncojari Wahyono MPd selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) juga menyampaikan berbagai perbaikan dilakukan, mulai dari fasilitas hingga tenaga pengajar yang disiapkan. “Memperbaiki sarana prasarana, juga mempersiapkan SDM dosen-dosen disini,” tambahnya. Program PPG di UMM terbagi dalam dua jenis, yaitu PPG Bersubsidi dan PPG Mandiri. PPG Bersubsidi ialah PPG yang mendapat bantuan pembiayaan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dari pemerintah. Sementara itu, PPG Mandiri ialah PPG yang menggunakan pembiayaan pribadi peserta. Setelah sebelumnya dipercaya sebagai penyelenggara Program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) kembali dipercayanya UMM untuk menjadi partner pemerintah merupakan sebuah kebanggan tersendiri. Hal tersebut lantaran tidak semua kampus dapat menjalankan program ini. Bahkan, UMM menjadi satu-satunya universitas swasta di Jawa Timur yang menjalankan program tersebut. Dalam menindaklanjuti program ini Ponco menyampaikan bahwa pihaknya akan mempertahankan dan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan cara monitoring, karena salah satu indikator keberhasilan PPG adalah jumlah lulusan yang banyak. “Harus mengontrol agar tidak terjadi degradasi,” pungkas Ponco. (Humas UMM)