Refleksi Awal Tahun, PUSAM UMM Gelar Kolokium Pancasila

Kepedulian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terhadap polemik sosial yang sedang terjadi di Indonesia tidak perlu diragukan. Slogan Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa sudah mendarah daging. Hal ini tercermin dari salah satu kegiatan Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme UMM (PUSAM UMM) yakni Kolokium Pancasila yang mengambil tema “Refleksi Awal Tahun : Pancasila sebagai Living Values”. Kolokium tersebut di gelar pada Senin(22/1) di Ruang Sidang Senat UMM. Digelarnya kolokium ini tidak lepas dari polemik sosial di Indonesia yang saat ini sering meneriakkan anti Pancasila. Dengan digelarnya kolokium ini harapannya dapat membuka pikiran para peserta yang hadir untuk memahami luar dalam dari Pancasila itu sendiri. Pada kesempatan kali ini, PUSAM UMM mendatangkan empat narasumber yang sudah sangat ahli di bidangnya. Keempat narasumber tersebut adalah Deputi Bidang Advokasi Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang Prof. Dr. Rm. F.X. Eko Armada Riyanto, Program Officer Islam and Development Yayasan The Asia Foundation Dr. Budhy Munawar Rachman, serta akademisi dari Program Studi Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Pascasarjana UMM Dr. Agustinus, M.Pd. Dalam Kolokium tersebut, Deputi Bidang Advokasi UKP-PIP, Hariyono, memaparkan bahwasannya Pancasila bukan hanya menjadi tanggung jawab aparatur negara, tetapi tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia. “Hal ini ditujukan agar Pancasila tidak lagi menjadi monopoli kebenaran dari sebuah rezim atau kekuasaan sebagaimana yang terjadi di masa lampau,” ujar Hariyono. Narasumber berikutnya, Budhy Munawar Rachman memaparkan, saat ini Pancasila sudah dianggap sebagai kontrak sosial. Ia juga menjelaskan, pada titik tersebut Pancasila menjadi nilai bersama yang diwariskan para pendirinya. “Singkatnya dalam Pancasila ada 5 nilai, yakni nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah untuk demokrasi dan keadilan. Untuk menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam masyarakat dibutuhkan juga hubungan antar nilai yang satu dan yang lain, jadi nilai-nilai tersebut tidak berdiri sendiri,” jelasnya. Di sisi lain, Eko Armada Riyanto memaparkan sejarah terbentuknya Pancasila. Menurutnya, cara kita untuk memahami bangsa adalah dengan cara memahami riset sejarah termasuk sejarah Pancasila. Ia juga menambahkan bahwa sikap diskriminatif yang sering terjadi saat ini dapat mencoreng narasi Pancasila itu sendiri. “Ekslusifisme bukan hanya bertentangan dengan Pancasila akan tetapi juga bertentangan dengan kodrat dari bangsa,” pungkasnya. Setali tiga uang dengan Eko, Agustinus menghimbau untuk tidak lagi membahas dan mepermaslahkan lagi tentang ideologi, namun menurutnya yang harus dipermasalahkan ialah bagaimana menentukan program yang terbaik bagi bangsa. “ Kita harusnya lebih fokus membahas program-program pemerintah yang ditujukan untuk bangsa,” ujarnya. (iel/sil)
Gelar Musikalisasi Puisi, UMM Cetak Guru Profesional

Upaya progam studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Imu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membentuk karakter pendidik yang berkualitas tidak main-main. Hal ini telihat dari kreatifitas mahasiswa dan dosennya dalam mengapreasiasi sastra, yang salah satunya dilakukan melalui pementasan Musikalisasi Puisi. Dosen pegampu mata kuliah Musikalisasi Puisi Hari Sunaryo menyampaikan, melalui acara ini mahasiswa diajak untuk dapat mengolah rasa dalam mengapresiasi puisi. “Kegiatan ini ditujukkan untuk melatih mahasiswa menikmati refleksi batin dengan menikmati puisi yang dipadupadankan dengan musik,” ungkap Hari. Puisi yang biasanya dideklamasikan dengan sekedar dibaca, pada kesempatan kali ini juga dikaryakan bersama musik. Kreativitas ini merupakan upaya untuk menciptakan guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang memiliki apresiasi tinggi pada karya sastra. “Ini mutlak, karena mereka calon guru Bahasa dan Sastra Indonesia sehingga ini taruhannya profesionalitas ketika nanti mengawal murid- muridnya,” tegasnya. Tugas akhir dari mata kuliah Musikalisasi Puisi ini menampilkan 40 karya musikalisasi mahasiswa di Laboratorium Drama UMM, Senin hingga Jumat (15-19/1). Meski Hari mengaku bahwa berbagai tahap pembuatan musikalisasi puisi tidaklah mudah, namun kerjasama dan keuletan dalam proses ini memberikan pelajaran tersendiri bagi seluruh mahasiswa dan dosen yang terlibat, termasuk juga dirinya “Totalitas ketika mengampu mata kuliah musikalisasi puisi tidak bisa dilupakan. Bersama semangat anak-anak saya menjadi semakin percaya diri,” pungkas Hari. (ben/nis/sil)