Aplikasikan Program UMM Pasti, FPP UMM Gelar Pelatihan Softskill bagi Calon Wisudawan
Program UMM Pasti yang dicanangkan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan, pada pertengahan 2017 silam mulai direspon oleh seluruh civitas akademika UMM. Contohnya pada tingkat fakultas yakni Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) UMM. Program yang memiliki tiga tujuan yakni, mahasiswa pasti lulus 4 tahun, mahasiswa pasti bekerja setelah lulus dan mahasiswa pasti mandiri tersebut diaplikasikan dalam prosesi yudisium di fakultas yang memiliki enam program studi ini. Tepatnya pada rangkaian Yudisium FPP UMM Periode I tahun 2018, pihak fakultas menambahkan satu rangkaian kegiatan yakni Pelatihan Soft Skill dalam Menghadapi Dunia Kerja yang digelar pada Senin (12/2) di Aula BAU UMM. Dekan FPP UMM, David Hermawan mengungkapkan bahwa tidak mudah untuk merealisasikan program UMM Pasti ini. Ia menambahkan, ada beberapa unsur dari fakultas yang juga harus ikut mendukung program ini yakni kurikulum, dosen dan infrasturktur. “Adanya pelatihan ini bertujuan untuk mewujudkan program bagian terakhir, yakni mahasiswa pasti mandiri setelah lulus,”jelas David. Pemateri pelatihan, Kepala Bagian Kepegawaian Biro Hukum dan Kepegawaian UMM Zakarija Achmat menyampaikan bahwa dalam dunia kerja para calon wisudawan harus bisa melihat sesuatu hal dengan berbagai sudut pandang “Karena biasanya, bukan kita yang tidak bisa menyelesaikan masalah, tetapi kita yang salah memilih sudut pandang dalam menyelesaikan masalah,” ungkap pemateri yang juga salah satu dosen Fakultas Psikologi UMM ini. Salah satu wisudawan FPP UMM Periode I tahun 2018, Esta Juliana, mengaku cukup antusias dengan pelatihan softskill pra yudisium dan wisuda. Ia juga merasa pelatihan soft skill seperti ini sangat penting bagi para calon wisudawan yang akan segera menghadapi dunia kerja. “Pelatihan soft skill semacam ini sangat bermanfaat bagi kami. Kami sangat senang sebelum kami lulus fakultas memberikan fasilitas seperti ini kepada kami,” ujar calon wisudawan program studi Ilmu dan Teknologi Pangan UMM tersebut. Pada akhir prosesi yudisium FPP UMM yang akan digelar pada 23 Februari nanti, juga akan diadakan gelar prestasi dari para wisudawan. Prestasi yang ditampilkan termasuk prestasi akademik dan non akademik dari 121 orang calon wisudawan yang akan disaksikan langsung oleh para orang tua wali calon wisudawan. (iel/sil)
Perkuat Rekognisi Internasional, UMM Kirim 11 Dosen dan Staff Peraih Beasiswa ERASMUS+ ke Eropa

Sebagai upaya memperkuat rekognisi internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengirimkan mahasiswa, dosen serta staf untuk belajar dan merasakan suasana internasional. Hal tersebut dilakukan dengan menjalin beberapa kerjasama, salah satunya melalui program Erasmus Mundus yang menjadi Erasmus +, sejak tahun 2007 hingga kini. Melalui program beasiswa Erasmus+, tahun ini UMM mengirim 11 mahasiswa, dosen serta staf ke beberapa perguruan tinggi di Eropa untuk mengikuti program pertukaran selama satu semester. Mereka diberangkatkan secara bersama-sama pada Minggu, (11/2). Sebelum keberangkatan, Rektor UMM Fauzan berpesan agar para penerima beasiswa Erasmus+ UMM dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan baik dan bertanggung jawab, serta senantiasa merasa bangga karena tidak banyak yang bisa mendapatkan beasiswa bergengsi ini. “Harus bertanggung jawab disana, karena ini sebagai representasi dari UMM dan juga Indonesia,” tutur Fauzan saat memberikan pembekalan pada para penerima beasiswa Erasmus+. Senada dengan hal tersebut, Asisten Khusus Rektor Bidang Kerjasama UMM, Suparto menjelaskan bahwa keberangkatan para Awardees Erasmus+ UMM membawa misi Pengembangan International Exposure. UMM ingin mahasiswa, dosen dan stafnya mendapatkan pengalaman internasional, bagaimana cara hidup, bekerja dan berinteraksi langsung orang asing. “Ini penting karena orang yang berbeda jauh tempat tinggal akan punya karakteristik, sifat dan perilaku yang sangat beda,” tandas dosen program studi Pendidikan Bahasa Inggris tersebut. Lebih dalam disebut Suparto, program Erasmus + dapat memberikan manfaat yang luar biasa untuk para penerimanya. Selain memperoleh pengalaman internasional, mereka juga dapat mengembangkan kemampuan dan kemandirian hidup di negeri orang. “Dengan punya pengalaman itu harapannya civitas akademik UMM terbiasa dengan berbagai perbedaan internasional,” ujar Suparto. Tata Budhi Prasetyo, salah satu mahasiswa UMM penerima beasiswa Erasmus+ mengaku siap dengan tantangan yang akan dihadapi di Polandia. Baginya program ini adalah kesempatan emas untuk belajar sembari berpetualang. Bahkan, mahasiswa Program Studi Manajemen ini sudah merancang rencana perjalanan yang akan dilakukan sebelum masuk perkuliahan dan saat liburan. “Saya suka alam, jadi memanfaatkan kesempatan ini untuk ke Pegunungan Tatra. InsyaAllah kalau memungkinkan akan kesana, juga ke beberapa negara tetangga,” tutur Tata. Sementara itu, menindaklanjuti kerjasama program Erasmus+ khususnya antara UMM dengan University of Opole Polandia, Michal Wanke selaku Coordinator Office for International Study Programmes dan Magdalena Hlawacz selaku Associate Professor Erasmus+ Departamental Coordinator University of Opole mengunjungi UMM. Hal ini dilakukan untuk mencari tahu lebih dalam tentang UMM sebelum kedua perguruan tinggi ini melakukan pertukaran mahasiswa, dosen, dan karyawan. Dalam kunjungannnya, Michal dan Magdalena berkesempatan menyambangi American Corner (Amcor) UMM, Kantor Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) UMM, dan beberapa kantor program studi. Michal mengaku University of Opole Polandia tidak memerlukan waktu lama untuk menerima tawaran kerjasama dengan UMM. Hal itu lantaran UMM telah memiliki kredibilitas yang baik utamanya dalam hal kerjasama. “Kami melihat UMM sangat aktif dalam kerjasama internasional dan memiliki banyak koneksi,” tukas Michal. Michal menambahkan dalam waktu dekat program Erasmus+ akan secepat mungkin dijalankan pada tahun ini. “Kami berharap dapat menjalankan program pertukaran pada semester depan,” tuturnya. Nantinya, pertukaran dosen dan karyawan dikedua perguruan tinggi ini akan menyesuaikan kebutuhan masing-masing universitas. University of Opole sendiri mempunyai kelas internasional untuk mahasiswa, dosen, maupun karyawan UMM ditempatkan disana. Selama sepekan di UMM, Magdalena Hlawacz selaku kordinator Program Erasmus+ mengaku senang berada di UMM karena baginya UMM adalah perguruan tinggi yang menarik. “Saya suka karena ada BIPA disini. Saya yakin bahwa UMM mampu menjalankan program internasional dengan baik,” pungkas Magdalena. Kedepan, tidak hanya program beasiswa Erasmus+ UMM juga mengembangkan kerjasama dibidang lain seperti join research, summer course, dan credit transfer dengan University of Opole. (nim/sil)