KKN Internasional UMM 2018, Siap Kenalkan Budaya dan Pariwisata Indonesia

KESEMPATAN mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk merasakan iklim belajar internasional sangat luas. Berbagai kerjasama internasional yang dijalin pihak universitas memperbesar peluang ini. Salah satu yang dapat diikuti yaitu program dari Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales UMM (AIESEC UMM) yakni Global Volunteer yang merupakan program tahunan AIESEC UMM yang bertujuan untuk menggalakan kegiatan sosial di luar negeri. Menariknya kini Global Volunteer yang diselenggarakan oleh AIESEC UMM dapat diekuavalensikan menjadi nilai Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk para pesertanya. Program tersebut bernama KKN Internasional. Wakil Direktur II Bidang Pengabdian Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM, Dr. Masduki, M.Si., memaparkan hal ini merupakan bentuk apresiasi universitas terhadap mahasiswa yang berkegiatan di luar negeri, tentunya dalam aspek sosial dan pengabdian masyarakat. Selain itu program ini memberikan pilihan terhadap mahasiswa dalam menjalankan perkuliahan terutama untuk pelaksanaan KKN. “Selain seleksi yang ketat, ada beberapa misi yang harus dibawa mahasiswa peserta KKN Internasional, yakni memperkenalkan budaya, pariwisata dan tentunya UMM di dunia Internasional,” jelas Masduki. Perlu diketahui bahwa pelaksanaan KKN International UMM terbuka untuk mahasiswa dari berbagai program studi. Sama halnya dengan KKN di Indonesia, KKN International juga dilaksanakan selama satu bulan. Untuk dapat menjadi peserta KKN International, tidak ada kuota spesifik yang ditentukan. “Kami lihat animonya, tidak ada kuota khusus. Karena nantinya mereka tetap harus menjalani seleksi dulu,” pungkas Masduki. Vice President Outgoing Global Volunteer AIESEC UMM, Ika Risna, menambahkan nantinya peserta KKN Internasional akan disebar ke negara Thailand untuk menyelenggarakan kegiatan sosial di kota tujuan mereka. “Untuk jumlah kelompok di setiap kotanyanya tidak akan sama karena setiap kota memiliki masalah sosial budaya yang berbeda-beda. Dan setiap masalah membutuhkan solusi yang berbeda agar tepat sasaran dan efisien,” ujar Ika. Menetapkan negara Thailand sebagai lokasi KKN, Ika mengaku telah mempertimbangkan hal tersebut dengan matang,salah satunya mengingat bahwa biaya hidup di Thailand relatif lebih murah dibanding dengan negara-negara lain di Asia. Disamping itu ada sebuah projek tentang pendidikan yang dapat mengembangkan skill mahasiswa UMM. Ketika berada di Thailand, peserta KKN International UMM akan melaksanakan project tentang Quality Education Sdgs 4 dengan nama projek Sawasdee. “Bisa buat negara di Asia dan Eropa, tapi memang yang kita suggest atau prioritasnya yang living cost nya murah dan project nya bagus seperti Sawasdee Thailand Project ini,” ungkap Ika. Meski begitu, Ika menjelaskan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan jika nantinya ada peserta yang memilih negara lain untuk KKN seperti Turki, Ukraina atau Polandia. (iel/sil)

LEx UMM Feat Singapore Polytechnic Selesaikan Problem Usaha Lokal

KERJASAMA yang dibangun antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Singapore Polytechnic (SP) sejak tahun 2014, terus gencar untuk membangun kualitas sumber daya manusia melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Dibalut dalam program Learning Express (LEx), mahasiswa UMM berkolaborasi bersama mahasiswa SP melalui pengembangan pembelajaran Design Thinking (DT). DT merupakan metode yang berfokus pada penyelesain masalah yang digali melalui observasi lapangan dan berorientasi pada terciptanya produk atau program. Pada LEx angkatan 2018 ini, mahasiswa UMM dan SP tersebar di beberapa unit usaha masyarakat yang ada di Desa Temas Kota Batu. Menurut Ambika Putri Co-Facilitator LEx, angkatan pertama tahun ini diikuti oleh 56 peserta, yakni 28 dari UMM dan 28 dari SP. Mereka dibagi menjadi empat kelompok. Jumlah ini bertambah dari angkatan sebelumnya, dengan tujuan agar program yang diciptakan lebih banyak, fokus serta dapat segera diaplikasikan di desa tempat observasi. “Ini ditujukan agar hasil kerja kita lebih maksimal sehingga dapat menyelesaikan banyak problem dan segera diaplikasikan di desa,” ungkap Ambika. Rangkaian kegiatan dibagi menjadi enam tahapan yang merupakan tahapan dari metode DT, yakni Sense and Sensibility, Define, Ideation, Prototyping, Co-Creation, dan Gallery Walk. Kegiatan-kegiatan tersebut akan diikuti oleh peserta mulai 11 Maret hingga 22 Maret. “Seluruh mahasiswa akan melewati enam tahap yang merupakan tahapan dari design thinking itu sendiri,” jelas Ambika. Pada tahapan Sense and Sensibility dan Define, mahasiswa turun ke lapangan lalu bersama masyarakat melakukan rembuk untuk membuat outline dari problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat. Pemandangan unik pun muncul saat mahasiswa asing bersama masyarakat, turun ke lapangan seperti pergi ke pasar tradisional lalu ikut menjajakan dagangan. Tan Zhi Yuan (Luke) salah satu mahasiswa SP menyatakan bahwa pengalaman istimewa ini dapat mengenalkannya lebih dengan kehidupan masyarakat setempat. “Kegiatan ini unik dan seru soalnya mahasiswa asing bisa ikut jualan dan lebih dekat dengan masyarakat yang jadi tempat observasi, juga mengetahui budaya masyarakat di sini,” jelas mahasiswa Akuntasi tersebut. Selanjutnya, pada tahapan Ideation dan Prototyping mahasiswa akan kembali ke kampus dan merancang ide dan menciptakan alat yang dapat menuntaskan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Pada proses ini mahasiswa akan mulai berdiskusi secara intensif bersama kelompok masing-masing. Salah satu kelompok bernama Tim Bakso menciptakan alat bernama Express Bakso Machine. Alat ini diciptakan untuk menjawab keresahan para pedagang bakso yang mengaku tidak dapat memproduksi bakso dalam jumlah banyak dalam waktu singkat sedangkan permintaan konsumen sangat tinggi. Hesti Mirandah mahasiswa UMM yang juga merupakan salah satu anggota Tim Bakso menyampaikan, alat yang dibuat bersama mahasiswa SP ini sudah disetujui dan sesuai dengan kebutuhan pemilik usaha Bakso di Desa Temas. “Alat yang kita presentasikan ini sudah dilihat dan disetujui oleh pemilik usaha. Bahkan beliau sangat senang melihat alat yang kami buat ini,” jelas Hesti. Diakhir, sebelum melaksanakan Gallery Walk mahasiswa akan melaksanakan ¬Co-Creation yaitu kegiatan mempresentasikan ide atau alat yang sudah diciptakan ke masyarakat di desa observasi. Menurut Supriyatin Ketua PKK RT 01 Desa Temas program LEx adalah program yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat di Temas. “Warga selalu nunggu kehadiran mahasiswa UMM dan Singapura itu untuk bisa menyumbangkan ide atas masalah usaha mereka,” tegas Supriyatin. Program Lex diadakan sekali dalam setiap semester. Pada Kamis (22/03) nanti, akan digelar Gallery Walk di Aula BAU UMM sebagai penutup acara dimana para peserta akan mempresentasikan hasil. (nisa/sil)