Rancang Lembaga Pendidikan Vokasi, UMM Siapkan SDM untuk Profesi Kreatif

Kebutuhan sumberdaya manusia dengan keterampilan khusus dalam memenuhi kebutuhan industri terus dilahirkan oleh lulusan Pendidikan Vokasi. Lulusan Pendidikan Vokasi dinilai lebih mumpuni karena lebih banyak melaksanakan praktik dari pada teori. Kesadaran akan hal tersebut membuat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersiap untuk merancang Lembaga Pendidikan Vokasi. Hadir dalam gelaran diskusi perancangan Pendidikan Vokasi, Ananto Kusuma Seta yang menyampaikan bahwa di Indonesia saat ini membutuhkan sumberdaya manusia dalam bidang tertentu yang dituntut memiliki kualifikasi keterampilan secara terpusat. “Saat ini reformasi industri menuntut banyak hal pada setiap sumberdaya manusia salah satunya kualifikasi keterampilan secara khusus,” jelas Staff Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dalam perannya, pendidikan vokasi mempersiapkan sumberdaya manusia yang benar-benar sesuai kebutuhan industri. Selain itu, sumberdaya manusia yang dididik melaluI pendidikan vokasi telah memenuhi kebutuhan keterampilan industri seperti lebih memahami teknis, managerial dan praktik di lapangan. “Lulusan vokasi adalah sumberdaya manusia yang lebih melek dengan keadaan lapangan,” terang Ananto. Rektor UMM Fauzan menyatakan bahwa rencana pendirian pendidikan vokasi di UMM adalah sebagai tindak lanjut dari beberapa program studi di UMM yang sudah lebih dahulu melakukan kerjasama. Saat ini program kerjasama tersebut masih dalam bentuk praktik lapang yang tujuannya juga sebagai bekal mahasiswa untuk memperoleh peningkatan keterampilan sesuai bidang keahlian masing-masing. “Rencana didirikannya lembaga pendidikan vokasi ini sebagai bentuk tindaklanjut kerjasama-kerjasama dalam bidang peningkatan keterampilan bagi mahasiswa,” terangnya. Sementara itu, Lembaga Pendidikan Vokasi yang akan dibuka oleh UMM akan menjadi lembaga pendidikan vokasi pertama yang dimiliki perguruan tinggi swasta di Jawa Timur. (nis/…)
Sambut Perayaan HFN, Kemendikbud RI Gandeng Kine Klub UMM Gelar Nobar Film Sejarah

Menjadi salah satu pelopor perfilman di Malang menjadikan Kine Klub UMM terus berkreasi dalam berbagai kegiatan salah satunya dalam menyambut perayaan Hari Film Nasional (HFN) ke – 68 yang dipusatkan di Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada pembukaan rangkaian acara Nontom Bareng (Nobar) ini hadir Staff Khusus Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) bidang Komunikasi Publik Nasrullah menyampaikan bahwa film adalah produk budaya yang harus dijaga dan terus dilestarikan sebagai bentuk penguatan karakter bangsa. “Kemendikbud menjadikan film sebagai produk budaya, sebagai bentuk penguatan karakter bangsa,” jelasnya. Selain itu, Nasrullah juga mendukung sekali produk-produk film yang telah dibuat oleh mahasiswa UMM yang bergabung di Kine Klub atau secara perseorangan. Menurutnya, masa depan perfilman Indonesia menunjukkan hal yang semakin baik dari segi kualitas dan kuantitas. Film adalah produk ekonomi kreatif yang menjadi magnet baru untuk melahirkan sineas muda di Malang khusunya. “Era saat ini profesi-profesi kreatif akan terus mendominasi perkembangan perekonomian nasional salah satunya adalah film,” tegas Nasrullah. Menggandeng Pusat Pengembangan Film (Pusbang Film Kemendikbud RI) dan PPPPTK PKn dan IPS, acara yang dikemas dalam kegiatan Nonbar film “Ketika Bung di Ende” ini mendapat antusiasme yang luar biasa dari mahasiswa UMM dan masyarakat umum. Salah satu masyarakat umum yang hadir, Yuhalisana Kusuma Wardhani mengaku tertarik hadir dalam kegiatan ini karena sangat menggemari film bertemakan sejarah dan pemutaran film ini sangat berkesan baginya. “Memang sengaja datang ke UMM untuk nonton film sejarah ini apalagi nonton bareng Pusbangfilm,” jelasnya. Melalui penayangan film-film bergenre sejarah seperti ini diharapkan dapat memperkuat nasionalisme yang dimiliki oleh pemuda khusunya mahasiswa. Ketua Umum Kine Klub UMM Hafidz Alamudi, dipilihnya film Ketika Bung di Ende ini merupakan upaya untuk mengingatkan kembali kepada seluruh pemuda bahwa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika dan melalui film karakter bangsa akan semakin kuat. “Penayangan film ini sebagai bentuk upaya kita untuk memperkenalkan pada khalayak bahwa film dapat menjadi saran penguatan karakter bangsa,” jelasnya. Film Ketika Bung di Ende ini merupakan film yang digarap oleh Kemendikbud sebagai bentuk apresiasi kepada Proklamator Indonesia Soekarno sekaligus sebagai bentuk unjuk gigi bahwa melalui pertunjukkan drama yang merupakan salah satu adegan dalam film ini masyarakat Indonesia bisa menjadi kuat. (nis/sil)