UMM Dampingi Desa Tertinggal Melalui Smart Village

Salah satu poin dalam program Nawacita yang dicetuskan oleh pemerintahan Jokowi – JK menyebutkan bahwa pembangunan Indonesia harus dimulai dari daerah-daerah dan utamanya desa. Pemerintah melalui program-programnya juga telah berupaya menjangkau masyarakat desa. Sayangnya dalam beberapa waktu terakhir, banyak kasus-kasus penyalahgunaan tujuan dari hadirnya program-program tersebut. Berangkat dari persoalan ini, Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan (EP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) menggagas program”Smart Village”. Dekan FEB UMM Idah Zuhro menyampaikan jika sebagian besar program pengabdian masyarakat terwujud dalam bentuk pembangunan infrastruktur, kali ini program “Smart Village” lebih menyentuh pada membangun kesadaran dan etos kerja masyarakat. Beberapa agenda yang dibuat untuk mendukung program ini antara lain membentuk kesadaran berfikir tentang lingkungan sekitar agar lebih maju. “Masyarakat sudah harus sadar dan mau berpikir bagaimana caranya untuk menjadikan desanya maju,” jelasnya. Lebih lanjut Idah menjabarkan, penguatan spritualitas masyarakat dapat menjadi salah satu bentuk dorongan dalam membangun etos kerja yang berkualitas. Berkualitas dalam hal ini berarti mampu menghadirkan kebaikan dan kebermafaatan di tengah lingkungan masyarakat itu sendiri. “Kalau spiritualitas mereka sudah mantap maka kita dapat mendorong terbentuknya etos kerja yang berkualitas,” jelas Idah. Selain itu, melalui pendekatan spiritual ini diharapkan dapat terbentuk masyarakat yang mampu membangun desanya dengan suka rela, mandiri serta merasa terikat oleh kepentingan bersama. Jadi kesadaran itu muncul dari dalam diri masing-masing warga dan bukan sesuatu yang dipaksakan. “Pendekatan spritual itu dapat membentuk masyarakat yang utuh untuk berjuang bersama,” tandas Idah. Rangkaian program yang rencananya akan diawali dengan pemetaan beberapa desa tertinggal di sekitar pesisir dan pegunungan di Kabupaten Malang pada akhir April tersebut, akan berorientasi pada tiga agenda rekayasa pemberdayaan masyarakat seperti kelembagaan, sosial dan sumberdaya pembangunan. Sekertaris Prodi EP Muhammad Sri Wahyudi mengatakan berdasarkan hasil observasi lapangan beberapa agenda bersama sudah disepakati. “Agenda-agenda yang akan kami laksanakan ini merupakan hasil observasi lapang secara umum yang dihadapi bebeberapa desa tertinggal,” jelas Wahyudi. Pada penyelenggaraannya menurut Wahyudi, agenda-agenda program ini tidak dapat dilaksanakan dalam kurun waktu satu, dua atau tiga tahun. Perlu adanya keberlanjutan dan fokus awal pada program untuk membangun kesadaran masyarakat tentang persoalan yang ada di lingkungan sekitarnya. “Harapannya dalam program ini masyarakat dapat didampingi dalam menemukan dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang menghambat majunya desa tersebut,” pungkas Wahyudi. (nis/ sil)

Mahasiswa UMM Siap Terjun Hadapi Konvergensi Media

Menjawab tuntutan zaman, program studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kuliah tamu bertajuk “Peluang Konvergensi Media Televisi di Indonesia”. Berlokasi di Aula GKB III UMM Kampus acara tersebut menghadirkan Gatot Triyanto selaku direktur TV Muhammadiyah dan Rudi Satrio Lelono selaku manajer kreatif malangvoice.com Dihadiri sekitar 277 peserta dari mahasiswa ilmu komunikasi angkatan 2016 dan 2017, acara berlangsung meriah. Direktur TV Muhammadiyah Gatot Triyanto memaparkan bahwa pada tahun 2016 tercatat 132,7 juta penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Melihat fenomena ini, banyak pengusaha media beralih ke dunia digital. Berkaitan dengan hal tersebut Gatot mengingatkan bahwa pada konvergensi media ada hal harus diperhatikan, yakni soal permodalan. Selain itu, pemilihan sudut pandang juga perlu dilakukan agar berita memiliki nilai tambah tersendiri. “Kita juga harus memperhatikan betul perihal pemilihan angle berita untuk meminimalisir keseragaman sebagai akibat yang ada dari konvergensi media,” ujar Gatot yang merupakan Direktur Utama Tv Muhammadiyah. Himawan Sutanto, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi UMM menuturkan, kuliah tamu ini menjadi salah satu upaya dari Prodi Ilmu Komunikasi untuk mempersiapkan mahasiswanya menghadapi tantangan yang ada di dunia media, khususnya jurnalistik baik online maupun on air. “Kedepannya kita akan adakan MoU untuk mendukung dan bekerjasama tentang pengembangan TV jejaring yang dibangun Muhammadiyah yang berhubungan dengan pengembangan informasi dan ide-ide Muhammadiyah yang berkemajuan,” pungkas Himawan. (Usy/ Sil)

Sekul UMM, Hadirkan Wisata Kuliner Bernuansa Kekayaan Budaya

Malang adalah kota tua yang kaya akan budaya, salah satunya adalah Topeng Malangan. Berangkat dari hal tersebut, pada Sabtu (31/3) Sengkaling Kuliner (Sekul) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) atas inisiatif Dr.Nazaruddin Malik selaku Direktur Utama Taman Sengkaling UMM, menggelar pertunjukan budaya Pagelaran Topeng Malangan yang bertajuk “Panji Mbangun Candi”. Pagelaran ini dimainkan oleh seniman dan seniwati dari Sanggar Kayu Tangan Malang. Pertunjukan menceritakan kisah kepahlawanan seorang Panji yang bernama Raden Inu Kertapati atau Panji Asmarabangun dalam membangun Candi yang banyak menghadapi rintangan. Karena semangatnya yang luar biasa, Panji berhasil mengalahkan musuh-musuhnya sehingga rakyatnya pun hidup aman dan sejahtera. Rektor UMM, Fauzan, menyampaikan bahwa pertunjukan topeng ini mencerminkan semangat yang diusung UMM.  Seperti halnya kegigihan Panji dalam membangun candi, UMM bertekad untuk berekspansi dalam hal sarana dan prasarana untuk mendukung dan memajukan pendidikan meskipun banyak rintangan yang harus dihadapi. “Kami akan terus memperbaiki sarana dan prasarana agar kualitas pendidikan kami semakin baik dan maju,” tandas Fauzan. Selain itu Fauzan juga menambahkan, pagelaran ini diharapkan dapat memberi warna baru dalam mengenalkan budaya serta kearifan lokal Malang Raya pada masyarakat luas dengan cara baru. “Selain berkuliner, pengunjung juga bisa belajar mengenal dan mempelajari budaya lokal asli Malang,”katanya. Seperti diketahui, untuk menunjang pendanaan kampus, UMM memiliki banyak unit bisnis salah satunya adalah Taman Rekreasi Sengkaling yang diakuisisi UMM sejak 2013 lalu dan berubah nama menjadi Taman Sengkaling UMM. Selain civitas akademika, acara ini juga dihadiri masyarakat umum. Huynh My Phoi, seorang mahasiswa asing asal Vietnam mengaku senang menyaksikan pertunjukan ini karena dapat belajar budaya dan bahasa lokal Indonesia. ”Saya suka gamelan dan angklung. Tarian Indonesia sangat indah, bajunya juga indah,”pungkas mahasiswi yang sudah setahun di Indonesia tersebut. (lus/sil)