Reaktualisasi Pancasila, Prodi PPKN UMM Selamatkan Karakter Generasi Muda

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia dan merupakan pedoman dan pandangan hidup bagi masyarakat. Namun pada saat ini masyarakat Indonesia khususnya generasi muda hanya sedikit yang paham dan mengerti hakikat dari Pancasila, sehingga perilaku dan moral mereka tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada di Pancasila. Situasi tersebut membuat Program Studi (Prodi) PPKN (Civic Hukum) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tergerak mengadakan Seminar Nasional Pancasila bertemakan ‘Reaktualisasi Pancasila sebagai Roh Penguatan Pendidikan Karakter’ yang digelar di Aula GKB 4 lantai 9 pada Sabtu (28/4). Seminar ini merupakan serangkaian kegiatan dari Festival Pancasila II yang diadakan Prodi PPKN UMM. Lewat seminar ini para pembicara yaitu Rektor Universitas Negeri Surabaya Prof. Dr. Warsono, M.S, Wakil Ketua DPRD dan Budayawan Jatim Dr. H.M. Soenarjo, M.Si dan Dosen Prodi PPKN UMM dan Ketua PDM Kota Batu Drs. Nurbani Yusuf, M.Si mengajak generasi muda Indonesia untuk berperilaku sesuai dengan Pancasila karena Pancasila merupakan ideologi bangsa. Rektor Universitas Negeri Surabaya Prof. Dr. Warsono juga merinci Pancasila sesungguhnya ada didalam diri para manusia, oleh karena itu negara-negara yang tidak punya Pancasila pun sebetulnya memiliki nilai-nilai tersebut. Sayangnya, bangsa Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara justru kehilangan hal ini. “Bangsa Indonesia masih belum bisa menerapkan nilai-nilai tersebut, maka dari itu kita harus bisa mengamalkan Pancasila yang merupakan ideologi bangsa kita sendiri,” ujar Warsono. Mengamini Warsono, Ketua Prodi PPKN UMM, Drs. M. Mansur Ibrahim, M.Hum. menyampaikan bahwa saat ini para generasi muda telah megalami degradasi moral. Untuknya, pembaruan nilai-nilai kehidupan masyarakat perlu dilakukan. “Kegiatan ini bagian dari kepedulian Prodi PPKN untuk mereaktualisasi yang mana sekarang banyak persoalan seperti anak-anak kecil degradasi moralnya sudah tidak bagus lagi,” pungkasnya. (gan/sil)
Sukses Digelar, Rektor Cup UMM jadi Kompetisi Elegan untuk Lahirkan Generasi Hebat
Sabtu (28/4), menjadi hari terakhir penyelenggaraan rangkaian kegiatan Rektor Cup 2018 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setelah berlangsung (10/3-28/4) akhirnya hari ini Rektor Cup mencapai puncaknya. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Drs. H. Fauzan, M. Pd menutup secara resmi rangkaian kegiatan Rektor Cup 2018 di Helypad kampus III UMM. “Hari ini saya lihat, tahun ini masa saya pelaksanaan rektor cup cukup menggembirakan, tidak menyisahkan ketegangan, tidak menyisakan dendam, tidak menyisakan hal-hal yang negatif, tetapi semuanya dijalaankan dengan fair dan Alhamdulillah berakhir dengn husnul khotimah (berakhir dengan baik.red)”, ujar Drs. H. Fauzan, M. Pd selaku rektor umm sekaligus menutup kegiatan Rektor Cup 2018. Dimeriahkan oleh penampilan pemenang delegasi pada kompetisi Rektor Cup 2018 diantaranya Perform Solo Vokal Pop (Pa/Pi), Perform Vokal Dangdut dan tampilan-tampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) acara berhasil menarik animo mahasiswa dan sebagian besar civitas akademika. Dengan mengusung tema “Smart And Elegant Competition to be Great Generation” Ketua pelaksana Rektor Cup 2018, Dr. Nur Subeki, MT memaparkan bahwa Rektor Cup merupakan kesatuan program yang tidak dapat dipisahkan dari garis kebijakan UMM sebagai lembaga pendidikan. “Seluruh program kegiatan senantiasa diarahkan pada penggalian dan pengembangan potensi mahasiswa demi terciptanya insan yang utama,”tandasnya. Bekerjasama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mempertandingkan dan memperlombakan bidang olahraga, kesenian, penalaran dan keagamaan rangkaian kompetisi tertinggi di tingkat universitas ini diikuti oleh kontingan dari 10 fakultas dan didampingi oleh 34 UKM di UMM. Mengumpulkan medali emas terbanyak, pada Rektor Cup 2018 ini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP0 ) kembali meraih juara umum, diikuti dengan Juara II dari Fakultas Teknik dan Juara III diraih Fakultas Psikologi.
Mahasiswa UMM Motivasi Korban Bullying Hingga ke AS
Publikasi data yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada akhir tahun 2017 menyatakan bahwa hampir satu juta orang pada setiap bulannya meregang nyawa karena gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang dialami oleh orang-orang tersebut pada umumnya adalah berakar dari depresi dan rasa kecewa akibat bullying. Fenomena tersebut menggugah, Rizka Aliya Putri untuk mengampanyekan kesadaran masyarakat pada korban gangguan kesehatan mental yang berujung pada tindakan bullying. Rizka mengaku bahwa isu ini bukan hanya terjadi di Indonesia, namun di luar sana juga menjadi isu utama dalam penanganan kesehatan jiwa. “Isu ini, isu yang legit untuk diselesaikan soalnya ini kan berhubungan dengan kehidupan manusia yang bukan sekedar how to manage people orang sakit terus biar jadi nurut,” jelas mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Melalui Teman Bicara yang merupakan hasil praktikum pada salah satu mata kuliah di Ilmu Komunikasi, Rizka melanjutkan projek ini untuk bisa menjangkau lebih luas individu dengan gangguan kesehatan jiwa ini. “Aku udah minta restu ke temen-temen pas ngerjakan praktikum ini buat terus jalan dan pengen ngerangkul banyak orang untuk sharing lagi,” tegasnya. Menjadi salah satu dari 37 delegasi seluruh dunia pada ajang Global Engagement Summit (GES) 2018 di Chicago, Amerika Serikat menjadikan Rizka satu-satunya perwakilan Indonesia yang hadir dalam ajang bergengsi tersebut. GES merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh anggota organisasi GES dari North Western University, Evanston, Amerika Serikat. Rizka yang juga pernah menjadi korban bullying ini menjelaskan lebih jauh tentang pengalamannya saat ia menjadi korban dan bagaimana dia menyelesaikannya. “Aku tuh korban bullying pas SMP dan bullying yang aku rasain itu lewat ucapan yang orally dan itu kan lebih membekas yah,” jelas gadis asal Malang ini. Ia juga mengaku Teman Bicara merupakan projek sosial yang memfasilitasi individu dengan gangguan kesehatan jiwa untuk dapat berbagi dan mendapatkan motivasi. Kehadirannya pada ajang GES ini semakin membulatkan tekatnya untuk membentuk social support campaign. Selain itu, projek ini juga mendapatkan sambutan hangat dari tim sukses Barack Obama yang saat itu menjadi mentornya pada salah satu sesi di GES. “Mereka itu appreciate banget sama kerja keras temen-temenku lewat Teman Bicara ini, bahkan ada yang bilang kalau aku adalah orang yang unik karena mau ngurusin ginian,” papar Rizka. Lebih lanjut, Rizka juga menjelaskan bahwa di Indonesia sendiri banyak individu yang membutuhkan dukungan dari lingkungan sosialnya untuk menyelesaikan permasalahan yang menganggu kesehatan jiwa individu tersebut. Namun, ia mengaku bahwa di Indonesia stigma bahwa mereka yang pergi ke psikolog adalah orang yang gila dan harus ditempatkan di suatu kelompok berbeda. “Karena mereka gak dapat tempat di lingkungan sosialnya, orang-orang itu milih memendam dan terus menjadi introvert tanpa tahu sebenarnya ada masalah apa pada dirinya,”tambahnya. Gadis berhijab ini berpesan kepada siapapun untuk tidak melakukan tindankan perudungan dan intimidasi pada orang-orang yang diduga memiliki gangguan kesehatan jiwa. Baginya, gangguan jiwa yang terjadi pada diri individu seseorang mayoritas diciptakan oleh lingkungan yang tidak memberikan dukungan dan cenderung mengasingkan individu tersebut. “Jadi waktu jalan event ini waktu buat praktikum, aku nemuin ratusan manusia dengan berbagai masalah kesehatan jiwa yang kebanyakan karena lingkungan sosial yang gak aware dan support,” pungkasnya.