ON MIPA-PT 2018 Media Pembentukan Kohesi Sosial Mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat kehormatan karena terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON MIPA-PT) 2018. Acara ini merupakan perhelatan akbar Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Dirjen Belmawa Kemenristekdikti RI) yang diselenggarakan setiap tahunnya. ON MIPA-PT digelar sebagai bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa untuk meningkatkan daya saing bangsa melalui peningkatan kualitas bidang MIPA. Digelar sejak 2009, olimpiade ini meliputi bidang Matematika, Kimia dan Fisika dan Biologi. Sekertaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Prof Rina Indriastuti SE MS menyampaikan, pada gelaran ON MIPA 2018 terdapat 256 dari 85 perguruan tinggi swasta dan negeri. Jumlah ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Rina Indriastuti juga menyampaikan, tidak hanya sekedar lomba, olimpiade kali ini diharapkan dapat menjadi ajang silaturahmi untuk melahirkan tenun kebangsaan. Peserta diharapkan tidak hanya dapat bersaing, namun juga mengambil banyak hal positif untuk dibawa pulang ke kampus masing-masing. “Jadi ada semacam penyatuan dan kohesi sosialnya menjadi lebih baik. Lesson learned mereka akan dibawa kembali lagi ke kampus, ini bisa menularkan kepada teman-temannya yang belum bisa ikut disini,”tambah Rina. Menjadi tempat penyelenggaraan acara, UMM yang baru saja meraih Juara I pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) Konter Robot Indonesia (KRI) Regional IV ini, telah mempersiapkan fasilitas terbaik yang dimiliki untuk acara yang digelar mulai Jumat-Senin (4-7/5) ini. Dipilihnya UMM sebagi tempat penyelenggaraan acara diakui Rina bukan tanpa alasan. Menurutnya, iklim kampus termasuk seperti yang ada di UMM dapat memberikan banyak dampak positif bagi peserta ON MIPA. “Sebetulnya kalau olimpiade itu lebih baik di kampus hanya kadang-kadang kita juga mencari formatnya. Saya punya keyakinan di kampus itu hasilnya lebih baik contohnya saja dari perguruan Kampus UMM ini. Mereka bisa kenal kampus lain, ini lebih,”tambahnya. Menyiapkan fasilitas terbaiknya, Rektor UMM Fauzan menyampaikan bahwa pihaknya telah mempersiapkan berbagai sarana dan prasarana sesuai dnegan standart yang diharuskan. “Sarana prasarana sudah kita siapkan semua sesuai dengan standart. Upaya ini dalam rangka untuk meminimalisasi problem-problem yang akan timbul,”pungkasnya. (ani/gan/sil)
FEB UMM Ajak Wujudkan Ketahanan Pangan Melalui Maksimalisasi Sumber Daya Maritim
Sejumlah masalah di berbagai sektor dihadapi pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pembangunan bangsa, salah satunya yakni masalah pangan. Bagaimana tidak, ketika jumlah populasi penduduk bumi semakin meningkat, luas lahan justru semakin sempit tergerus oleh pembangunan infrastruktur. Salah satu akibatnya, produksi pangan pun juga semakin berkurang. Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) Dr. Widayat, MM mengatakan, di tengah pesatnya pembangunan bangsa masalah ketahanan pangan menjadi isu yang masih sering diperdebatkan. Ia juga menyampaikan, selama ini kebijakan pemerintah dinilai cenderung berasentris. “Kita sebagai next generation dari bangsa ini harus merubah orientasi tersebut, membangun ketahanan pangan yang tidak hanya berfokus pada swasembada beras,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Dr. Laode Masihu Kamaluddin M.Sc Guru Besar FEB UMM menyampaikan, idealnya bumi hanya mampu menampung 3 sampai 4 milyar penduduk. Namun pada tahun 2017 jumlah populasi penduduk bumi sudah mencapai 8 milyar. “Dan lahan juga semakin banyak yang digunakan sebagai bangunan,” tandasnya pada kuliah tamu yang diadakan oleh Program Studi Ilmu ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) di Aula BAU, Rabu (2/5). Selain penyempitan lahan, masalah mendasar yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah di bidang pangan adalah tingginya tingkat ketergantungan Indonesia pada produk impor terutama benih holtikultura dan pakan ternak. “Saat ini, beberapa bahan pangan seperti beras, daging sapi, gula, gandum, bawang putih kedelai, dan garam masih harus diimpor dari luar,” tambahnya. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah pengembangan pedesaan sebagai upaya memakmurkan masyarakat pedesaan dengan memanfaatkan sumber daya alam, khususnya sumber daya maritim dan agraris sehingga hasil-hasil pertanian tersebut menjadi produk industri utama di tengah masyarakat. “Tidak akan mandiri suatu bangsa jika pangannya masih dikuasai negara lain”, ujar Prof Laode menandaskan.