UMM Sharing Kondisi Ekonomi Internasional dengan 4 Dosen Asal 4 Negara Berbeda
Dalam rangka mempelajari pesatnya perkembangan ekonomi di berbagai belahan dunia, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin International Relations Affair (IRA) pertama kalinya dengan mengadakan kuliah tamu bertemakan “International Economic and Bussiness” di Aula GKB IV, Selasa (9/5) kemarin. Acara tersebut mengundang 4 pemateri yang merupakan dosen dari 4 negara yang berbeda, mereka adalah Aurelija Rimkute dari Vilnius University (Lithuania), Priya Rani Bagat dari Manipal University (India), Dr.Magdalena Sztukiel dari WSB University (Polandia), dan Albina Gaisina dari Bournemouth University (Rusia). Disamping itu, kuliah tamu ini dihadiri oleh mahasiswa semester 6 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Kepala penyelenggara International Guest Lecture Ratih Juliati, Dra., Msi menyampaikan bahwa tujuan kuliah tamu ini adalah agar mahasiswa sebagai agent of change dalam bidang ekonomi dan bisnis, bisa lebih dalam mengetahui posisi Indonesia. “Agar mahasiswa menyadari dan lebih menggali lagi sudah sampai mana pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam bersaing dengan negara-negara asing,” ujar Ratih. Membahas lebih lanjut mengenai perkembangan ekonomi dan bisnis di kancah Internasional, salah satu pemateri yang berasal dari Polandia, Dr.Magdalena Sztukiel menjelaskan bahwa fondasi terpenting dalam membangun sebuah bisnis terletak pada strategi, bagaimana menyusun strategi yang tepat agar menarik dan bernilai di mata pelanggan. “Setelah pelanggan percaya pada produk kita, disitu baru menjalin kerjasama dan terus berinovasi untuk meningkatkan kualitas produk yang dipasarkan,”tandasnya. Sementara itu, pemateri dari India Priya Rani Bagat juga menyampaikan kondisi ekonomi di negaranya. Ia menyampaikan bahwa, karakteristik ekonomi India saat ini lekat dengan distribusi pendapatan per kapita yang rendah, populasi yang tumbuh dengan cepat dan tingkat pembentukan modal yang rendah. “Dan sifat ekonomi dualistik, baik metode industri modern maupun tradisional,”tandasnya. (dya/sil)
TECSID dan UMM 2018 Gelar Taiwan Educational Showcase
The Indonesia Taiwan Education Center in Surabaya (TECSID) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan acara bertajuk beasiswa Taiwan. Melalui tema ‘2018 Taiwan Educational Showcase’ yang berlokasi di Aula BAU UMM, mahasiswa ditawarkan beasiswa di enam universitas ternama di Taiwan. Enam Universitas tersebut adalah Asia University, China Medical University, Fujen Catholic University, National Formosa University, National Sun Yat-sen University, dan Vanung University. Ke enam universitas tersebut memberikan tawaran beasiswa studi di Taiwan dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris untuk S1/S2/S3 dan program internasional lainnya. Selain itu Taipe Economy and Trade Office (TETO) Surabaya juga memberikan penjelasan tentang visa di Taiwan. Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM Soeparto menyampaikan digelarnya acara ini menjadi salah satu bentuk dukungan UMM untuk meningkatkan minat mahasiswa baik internal UMM maupun eksternal untuk menempuh studi lanjutan dengan iklim internasional, khususnya di Taiwan. “Semoga ini menjadi pemantik semangat mahasiswa untuk merasakan iklim internasional dan belajar di luar negeri serta jalan untuk memperkuat kerjasama UMM dengan The Indonesia Taiwan Education Center in Surabaya,” tegasnya. Berlangsung meriah, acara tersebut berhasil menarik antusias mahasiswa untuk hadir. Salah satunya Lissari Albar, mahasiswa yang sedang menempuh Magister Kebijakan Pengembangan Pendidikan (MKPP) di sebuah universitas swasta ini mengaku tertarik dengan pendidikan di Taiwan karena pendidikan dan teknologinya yang maju. “Saya tertarik ke Taiwan karena Taiwan itu kan sudah menjadi negara maju, terus pendidikannya sudah bagus, teknologinya sudah bagus juga. Itu yang membuat saya tertarik kenapa saya mau ke Taiwan,”urainya. Hal berbeda diungkapkan Pambudiono, mahasiswa jurusan Ilmu Teknologi Pangan (ITP) UMM juga tertarik melanjutkan sekolah ke Taiwan. Pambudiono mengaku, besarnya peluang untuk menempuh studi di Taiwan dari pada universitas di Eropa membuatnya tertarik untuk belajar di negara yang menggunakan bahasa Mandarin ini. “Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, kuliah di Eropa itu persyaratannya sulit sekali sedangkan di Taiwan tidak,” ujar mahasiswa semester akhir tersebut. Sedangkan Nava Almaulidiah, salah satu mahasiswa jurusan Hubungan Internasional yang pernah singgah ke Taiwan mengatakan Taiwan adalah negara yang pendidikannya cukup bagus. Ia pun ingin kembali dan melanjutkan S2 dengan mengambil Chinese Language di sana. “Kalau saya pribadi pengen ambil Bahasa Mandarin. Soalnya bagi anak Hubungan Internasional, bahasa itu kan penting,” ungkapnya. Baginya, tidak ada masalah yang tidak bisa dihadapi termasuk kendala budaya maupun bahasa yang berbeda. “Culture shock pasti ada, tapi kalau kita sudah menyiapkan mental untuk langsung ke lapangan, dan langsung berkecimpung di sana, insyaallah bisa,” tutur gadis berdarah Malang itu. (apn/sil)