Miliki LPH Sendiri, UMM Siapkan Mahasiswa Kompeten di Bidang Pangan Aman dan Halal

Melihat kebutuhan masyarakat Indonesia yang mayoritasnya muslim, keamanan produk halal menjadi hal yang tak bisa dipisahkan lagi. Mulai dari produk pangan, obat-obatan hingga kosmetik. Maraknya produk yang belum jelas kehalalannya menjadi tantangan tersendiri bagi konsumen muslim. Peduli akan fenomena ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai universitas muslim terkemuka menaruh perhatian khusus terkait kehalalan produk. Bekerja sama dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, UMM telah membentuk Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) sebagai salah satu wujud usaha membangun kesadaran masyarakat terkait pentingnya produk halal. “Kesadaran masyarakat Indonesia terhadapa pentingnya produk yang aman dana halal belum baik dan meluas,” sahut Elfi. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, dosen jurusan Ilmu Teknologi Pangan (ITP), merupakan salah satu tokoh yang berperan dalam berdiri dan berjalannya LPH UMM. UMM sendiri untuk mencapai visi misi dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), yakni mengembangkan teknologi pangan yang halal-thoyib (halal dan baik) membentuk mata kuliah baru yaitu Manajemen Pangan Aman dan Halal (MPAH). UMM pun menjadi satu-satunya kampus yang memiliki kurikulum ini di Indonesia. Mata kuliah MPAH berisi materi yang didukung studi atau suvey, wisata halal pada akhir kuliah pada perusahaan, UKM, hotel, rumah sakit, katering, restoran, pondok pesantren, asrama, balai hingga sekolah full day. Elfi menjelaskan terdapat beberapa syarat untuk membentuk Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Yang pertama, mempunyai kantor sendiri, kedua mempunyai minimal tiga auditor halal bersertifikasi MUI. Dan yang terkahir  memiliki atau bekerjasama dengan laboratorium terakreditasi. “Makanya saya berusaha mendapatkan lab terakreditasi terlebih dahulu,” jelas Elfi. Setelah dua tahun berjalan perlahan, cita-cita Elfi untuk mendapatkan laboratorium terakreditasi tersebut terlaksana. September 2017, akhirnya ia meraih ISO 17025. Ia mengaku, akreditasi laboratorium lebih rumit daripada akreditasi jurusan karena yang dinilai dua hal, yakni aspek manajemen dan aspek tehnis. “Sekarang, saya sedang mengompori beberapa lab untuk menyiapkan pengujian halal seperti alkohol, lemak babi, dan DNA Babi,” simpulnya.

UMM Ajak Pegiat Literasi Malang Raya Pandai Filter Informasi

Menjadi bagian dari praktisi akademisi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta menyebarkan atmosfer literasi. Setelah sukses menebar literasi melalui Mobil KaCa, kini melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan, UMM kembali menebar informasi perihal literasi. Dikemas berbeda, literasi informasi yang disuguhkan oleh UPT Perpustakaan UMM memberikan pelatihan tentang bagaimana masyarakat harus menyaring informasi. “Saat ini informasi yang diterima oleh masyarakat sangat masif sehingga semua harus pandai menyaring informasi,” tutur Kepala Urusan (Kaur) Pengelolaan UPT Perpustakaan UMM Ani Herawatin. Hadir sebagai peserta adalah penggerak literasi Malang Raya yang berada di bawah naungan Gerakan Permasyarakatan Minat Baca (GPMB) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Pada kunjungannya, para penggerak literasi ini berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam pengelolaan sumber informasi yang digunakan di taman baca atau perpustakaan yang mereka kelola. “Senang sekali bisa berdiskusi secara langsung dengan pustakawan yang ada di UMM ini utamanya tentang literasi informasi yang jarang digaungkan,” jelas Makhrumah salah seorang pembina perpustakaan desa di Bululawang. Melalui rangkaian agenda di UMM ini, diharapkan masyarakat dapat semakin lincah dalam mengakses informasi. Selain itu, keberadaan pelatihan yang diselenggarakan UMM ini di masa akan datang diharapkan dapat menjadi bekal bagi para penggerak literasi untuk mempertahankan minat baca masyarakat Malang Raya. “Kehadiran teman-teman dari GPMB ke UMM ini harapannya adalah untuk bisa mendapatkan informasi lebih tentang pengelolaan perpustakaan,” ungkap Kepala Seksi Pengembangan Perpustakaan Sekolah dan Khusus Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Malang Aris Kusdiatmuko. Selain mendapatkan pelatihan perihal literasi informasi, sebagai rangkaian agenda kelas literasi peserta juga mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke beberapa pojok budaya yang ada di perpustakaan UMM salah satunya adalah American Corner (Amcor). Di Amcor, para peserta dapat bertukar informasi tentang bagaimana bentuk perpustakaan yang menyenangkan bagi para pengunjungnya. Disambut dengan melakukan peragaan penggunaan Virtual Reality  (VR) oleh Staff Amcor Heru Wibowo, kunjungan ke Amcor menjadi meriah dan menyenangkan. “Amcor sebagai salah satu pusat informasi tentang Amerika yang ada di UMM juga dilengkapi dengan buku-buku dan permaianan,” terang Heru. Imbuhnya, saat ini perpustakaan yang ada di Amerika sedang mengembangkan bentuk perpustakaan yang tidak hanya menyediakan buku namun juga tempat untuk mengasah psikomotorik dan kognitif melalui permainan. “Perpustakaan di Amerika kini mulai menambahkan permainan dalam perpustakaan untuk membuat lebih nyaman saat di perpustakaan,” urai Heru. Selain para penggerak literasi, kelas yang dibuka oleh UPT Perpustakaan UMM ini juga dapat hadiri oleh masyarakat umum. (nis/sil)