UMM Siapkan Mahasiswa Terjun ke Dunia Ekspor Impor

Kegiatan ekspor dan impor merupakan salah satu proses ekonomi yang dilakukan sebuah negara. Kedua proses tersebut melibatkan pelbagai kerjasama dengan negara-negara luar untuk melakukan jual dan beli. Bagi mahasiswa prodi D-III Keuangan dan Perbankan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas   Muhammmadiyah Malang (UMM) mengetahui perihal ekspor impor ini sangat berguna di dunia kerja nanti. Hal tersebut diungkapkan oleh Dekan feb Dr. Idah Zuhroh, MM saat membuka acara workshop Ekspor Impor, Jumat (25/5). “Pihak laboratorium menyelenggarakan kuliah tamu ini dengan melibatkan praktisi ekspor impor langsung. Harapannya agar dosen mamupun mahasiswa akan memperoleh informasi bagaimana praktek ekspor impor dan bagaimana transaksi pembayaran ke luar negeri saat kita melakukan ekspor impor,” imbuh Idah di Aula GKB III UMM. Workshop ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama merupakan pengenalan tentang ekspor impor oleh praktisi ekspor impor, Ahmad Musyafak, S.Pd., MM dan sesi kedua tentang pembayaran luar negeri yang akan dibawakan oleh pimpinan BCA KCP Sukun Malang, Indra Agus Wantoko. Di hadapan 117 mahasiswa, Ahmad Musyafik menjelaskan cara-cara pembayaran internasional yang biasa digunakan dalam proses ekspor impor. Terdapat 7 cara pembayaran yakni, tunai, transfer telegrafis, clearing internasional, wesel (Bill of exchange), Letter of credit, private compensation, dan open account. Lebih lanjut Ahmad menjelaskan, bahwa selain sistem pembayaran mata uang yang digunakan juga beragam. Bisa menggunakan rupiah maupun mata uang asing. “Bisa dilakukan dengan menggunakan mata uang asing yang disebut valas (valuta asing.red) atau bisa juga dengan mata uang dalam negeri.  Tergantung kesepakatan kedua belah pihak,” jelas Ahmad. Selain tunai,ada pula Telegraphist Transfer (TT) atau cable order. Ini adalah cara pembayaran yang dilakukan bank atas perintah nasabah dengan mengirimkan telegram, telex atau telepon kepada bank di luar negeri, agar membayar sejumlah uang kepada orang atau badan yang berhak menerimanya. Selain itu, ada juga clearing internasional adalah pembayaran yang terjadi antar bank di negara yang berlainan dengan cara memindahkan saldo kepada pihak yang berhak sebagai hasil rekapitulasi (pengumpulan) transaksi tiap akhir hari kerja. Sementara itu Letter of Credit (LC) adalah surat pernyataan tertulis yang dibuat bank atas permohonan nasabah (importir) untuk menyediakan sejumlah uang sebagai pembayaran kepada eksportir. Dalam sistem ini diperlukan satu lembaga yang bertugas mengatur tata cara transaksi yang disebut clearing house. Sedangkan private compensation adalah cara pembayaran yang dilakukan importir dan eksportir dengan cara menukarkan utang piutang. “Yang terakhir adalah open account adalah cara pembayaran dengan terlebih dulu mengirimkan barang kepada importir tanpa disertai surat perintah membayar dan dokumen pengiriman,”pungkasnya.

Kalahkan Rasa Takut dengan Berjuang Menjadi Guru Minoritas di China

Memiliki keinginan besar untuk bisa mengajar di luar negeri adalah salah satu impian dari Dessy Maria Ulfa. Gadis yang lahir dan besar di tanah Maluku ini memulai perjalanan mengajarnya di luar negeri sejak tahun 2016. ”Pertama kali mewujudkan cita-cita untuk pergi ke luar negeri ya ke Vietnam,” tutur mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut. Meski membutuhkan percobaan dan usaha berulang untuk mencapai keinginannya,  Dessy tidak surut semangat. Ia bahkan menjadi lebih percaya diri lantaran dapat mengumpulkan bekal ilmu yang lebih banyak. “Ini lebih bagus karena saya punya bekal teori mengajar yang  semakin banyak,”ujarnya. Dessy mengisahkan, perjalanan internasionalnya dimulai saat ia mendaftarkan diri pada sebuah program mengajar di negeri Sakura. Sayangnya, kala itu ia tidak berhasil lolos. Tidak patah arang, gadis cantik ini kembali  mencari peluang baru untuk menimba pengalaman mengajar internasional. “Setelah gagal apply ke Jepang, aku langsung set goals ini itu untuk meningkatkan skillku,” ungkapnya. Tidak sia-sia usaha dan kegigihannya berbuah manis. Pada akhir 2016 Dessy terpilih menjadi salah satu volunteer pada proyek sosial Hope for Children di Vietnam. Tidak pernah puas dengan satu pengalaman, di tahun berikutnya ia kembali mengambil peluang menjadi pengajar di Footprints International School Kamboja. Selama tiga bulan berada di negeri Angkor Wat ini, Dessy sempat mengalami kesulitan dalam berbahasa. “Di Kamboja kesulitan yang aku hadapi cuma dari segi bahasa, terutama saat berkomunikasi dengan masyarakat umum,” akunya. Tidak puas dengan pengalaman mengajar di kawasan Asia Tenggara, mahasiswa yang juga aktif di organisasi AIESEC ini pada awal tahun 2017 kembali mengikuti program mengajar di China. Menjadi salah satu pengajar di Shenyang Forest International Kindergarten China, Dessy mendapat banyak pelajaran hidup yang luar biasa. Dessy mengisahkan, saat menjadi minoritas dan sempat dianggap tidak memiliki kemampuan mengajar yang bagus, rasa putus asanya pun muncul. Saat itu ia bahkan sempat ingin kembali ke tanah air. “Setelah ada salah satu wali murid yang gak memperbolehkan anaknya ikut kelasku, rasa putus asa dan mau balik ke Indonesia itu besar sekali,” paparnya. Untungnya berkat dukungan sang bunda, semangat Dessy kembali berkobar. Ia pun bertekad menyelesaikan kontrak kerjanya di negeri Tirai Bambu tersebut. Di akhir, usai berbagai pengalaman internasional ini Dessy mengaku senang dapat memaksimalkan waktu belajarnya di UMM dengan menimba ilmu di luar negeri. “Sekitar dua tahun belajar di UMM, hidup saya diwarnai dengan berbagai pengalaman organisasi dan membuat  saya mewujudkan cita-cita untuk pergi ke luar negeri,”pungkasnya (nis/sil)