Direktur Rumah Sakit Baptis Batu Paparkan Peluang Pekerja Sosial Medis

Masalah sosial banyak terjadi di masyarakat, tapi sedikit sekali yang mengetahui masalah sosial yang terjadi di lingkungan rumah sakit. Di sinilah para pekerja sosial memiliki andil yang besar dalam mengelola maupun memecahkan masalah pasien. “Pekerjaan sosial adalah sebuah proses yang diperoleh melalui pendidikan. Memiliki nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan dalam peningkatan individu dan masyarakat,” ujar direktur Rumah Sakit Baptis Batu, dr. Dolly Irbantoro, MMRS pada kuliah tamu program studi (prodi) Kesejahteraan Sosial (Kesos). Menurutnya, peran pekerja sosial sangat penting dalam hal medis, sehingga ilmu pekerja sosial menjadi salah satu konsentrasi di jurusan ilmu kesejahteraan sosial. Berkaitan dengan tema Prospek Pekerja di Bidang Kesehatan, Rabu (30/5) Irbantoro mengungkapkan bahwa banyak penyakit tidak hanya diakibatkan oleh biologis atau psikis tapi juga karena masalah sosial. Di situlah peranan pekerja sosial terutama alumni Kesos diharapkan mampu mengatasi maupun meminimalisir masalah pasien. “Sebenarnya, penyakit itu muncul bukan hanya karena faktor fisik, biologis semata, melainkan juga dari faktor sosial budaya,” jelasnya. Selama ini pihak rumah sakit merasa kesulitan dalam menangani permasalahan sosial yang terjadi pada pasien. Kemampuan pekerja kesehatan sangat kurang bila dituntut untuk menangani masalah sosial pasien. Namun, dengan adanya pekerja sosial medis, hal tersebut dapat lebih mudah diatasi. Kuliah tamu yang diawali dengan penandatanganan MOU itu bertujuan menjalin kerjasama dalam hal penempatan praktikum mahasiswa Kesos di Rumah Sakit Baptis Kota Batu. Pihak Rumah Sakit senang atas terjalinnya kerjasama antara prodi Kesos dengan Rumah Sakit. Begitu pun dengan ketua program studi (prodi) ilmu kesejahteraan sosial, Dr. Oman Sukmana, M.Si. yang mengharapkan bahwa kerjasama ini menguntungkan baik bagi jurusan maupun rumah sakit. “Dari kerjasama ini kami berharap antara prodi dan pihak rumah sakit akan sama-sama saling memberikan keuntungan,” tutur Oman Sukmana, Kaprodi Kesejahteraan Sosial UMM. (apn/ sil)

Lancarkan Komunikasi Akademik dengan Orang Tua, UMM Luncurkan My UMMforParents

Tingginya peningkatan penggunaan aplikasi digital dalam berbagai aspek pekerjaan menuntut berbagai instansi, utamanya pendidikan untuk akrab dengannya. Begitupula dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), setelah sukses menggunakan aplikasi PMB UMM dan UMM Booklet pada penerimaan mahasiswa Jalur Prestasi I dan II, kini UMM kenalkan aplikasi khusus orang tua wali mahasiswa. “Aplikasi ini dirancang untuk membuka komunikasi dua arah antara orang tua wali mahasiswa dan pihak kampus,” jelas kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) Rahmad Wijaya. Hadirnya aplikasi yang diberi nama My UMMforParents ini merupakan pusat informasi bagi orang tua wali mahasiswa UMM. Dalam aplikasi ini tersedia sembilan informasi terkait aktivitas mahasiswa UMM sejak semester awal hingga semester akhir diantaranya informasi tentang Dosen Wali, Keuangan, Kartu Rencana Studi (KRS), Jadwal Kuliah, Presensi, Kartu Hasil Studi (KHS), Transkrip Nilai, Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Tugas Akhir. Diluncurkannya aplikasi ini juga memberikan banyak kemudahan bagi orang tua wali mahasiswa dalam mengenal lebih dalam aktivitas-aktvitas putra-putrinya dalam lingkungan kampus. Salah satu kemudahan untuk menjalin kerjasama baik dengan universitas adalah dengan disediakannya informasi kontak dosen wali. Para dosen wali tersebut pada setiap awal dan akhir semester, juga akan memberikan informasi tentang perkembangan belajar mahasiswanya. Tidak hanya itu, My UMMforParents juga menyediakan menu Keuangan. Orang tua dapat melihat status keuangan mahasiswa di semester awal hingga semester akhir. Menu ini mempermudah orang tua dan mahasiswa dalam merencakan keuangan selama proses belajar. Selanjutnya, menu KRS, pilihan menu kedua ini memberikan informasi tentang daftar mata kuliah yang akan diambil oleh mahasiswa dalam satu semester. Setelah merencakan mata kuliah dalam satu semester, mahasiswa akan memperoleh jadwal kuliah yang juga dapat diakses langsung oleh orang tua melalui aplikasi ini. Tidak hanya jadwal kuliah, orang tua juga dapat memantau kehadiran putra-putrinya melalui menu Presensi yang juga tersedia dalam aplikasi My UMMforParents. Sementara itu, jika sebelumnya UMM mengirimkan KHS setiap mahasiswa ke masing-masing alamat asal mahasiswa di akhir semester, kini orang tua tidak perlu lagi menunggu bentuk fisik KHS untuk dapat mengetahui hasil belajar putra-putrinya. Dengan mengakses menu KHS pada My UMMforParents informasi tentang hasil studi mahasiswa dalam satu semester dapat diakses sewaktu-waktu. Bahkan, aplikasi ini juga menyediakan akumulasi nilai sementara mahasiswa UMM dalam aplikasi Transkrip. Sebagai kampus yang unggul dalam bidang pengabdian, di semester tujuh mahasiswa UMM diwajibkan untuk memrogram mata kuliah KKN. Orang tua pun juga dapat mengakses informasi tentang wilayah dan jadwal putra-putrinya saat melaksakan kegiatan KKN. Selesai menjalankan pengabdian masyarakat melalui kegiatan KKN, mahasiswa pun harus kembali dan segera menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi. Aplikasi ini juga dapat membantu orang tua dalam memantau perkembangan tugas akhir mahasiswa. (nis/ sil)

Tahun Ajaran 2018/2019 Fikes UMM Buka Program Profesi Fisioterapi

Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam waktu dekat segera melengkapi program pendidikan keprofesiannya. Setelah sebelumnya Profesi Ners dan Apoteker, kali ini giliran profesi fisioterapi bakal masuk dalam daftar program pendidikan keprofesian yang dimiliki Fikes UMM. Penyelenggaraan pendidikan profesi fisioterapi merupakan tindak lanjut dari Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 80 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan pekerjaan dan praktik fisioterapis. Ditargetkan mulai tahun ajaran 2018/2019, pendidikan profesi fisioterapi ini akan mulai menerima pendaftaran bagi mahasiswa baru atau lulusan sarjana fisioterapi UMM sendiri. “Kita saja (strata 1 fisioterapi.red) yang baru buka 2012 ini satu angkatan sudah lulus. Namun ketersediaan program profesi fisioterapi di Indonesia yang terbatas itu mengakibatkan lulusan strata 1 fisioterapi tidak diperbolehkan bekerja,” terang Kepala Program Studi yang merupakan ketua tim taskforce pendirian profesi Fisioterapi, Atika Yulianti, SST., Ft., M.Fis. Sementara di Indonesia sendiri, setidaknya baru lima perguruan tinggi yang memiliki program profesi fisioterapi. Di antaranya Universitas Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Solo, Universitas Udayana Bali, Universitas Hasanudin (Unhas) Makasar, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Selain sarana dan prasarana sebagai syarat instrumen pendiriannya, juga dibutuhkan 12 staf pengajar yang berlatar belakang sarjana fisioterapis dan master fisioterapis dengan latar belakang biomekanik; olahraga; Keamanan, Kesehatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan lainnya. “Didirikannya pendidikan program profesi fisioterapi sebagai tantangan, juga lahan kami untuk menjadikan fisioterapi lebih berkembang lagi. Mahasiswa juga diharapkan mengenalkan fisioterapi ke daerah-daerah. Karena bagaimanapun di Jawa Timur sendiri profesi fisioterapi ini sangat terbatas, tidak seperti di daerah-daerah lainnya,” ungkapnya. Salah satu upaya yang juga dilakukan untuk menopang pendirian program ini, Fikes UMM mengirim staf pengajarnya ke sejumlah perguruan tinggi di luar negeri untuk mengambil studi doktoral. Di antaranya Dimas Sondang Irawan, SST.,Ft.,M.Fis di Mahidol University Thailand, dan Rakhmat Rosadi, SST. Ft., M.Sc. (PT) di National Cheng Kung University, Taiwan. (Humas UMM)