Rawat Kebhinekaan, UMM Gelar Pengabdian di Wilayah Multikultural

Adalah tugas dan tanggung jawab seluruh komponen masyarakat untuk memastikan bahwa Pancasila selalu hadir dalam setiap sudut kehidupan. Semangat ini pun dimaknai secara konkrit oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kemajemukan kepercayaan, adat istiadat, dan budaya di Desa Jambuwer Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang menjadi daya tarik tersendiri bagi UMM untuk mengabdi di tempat tersebut. “Wilayah ini dipilih karena kami (red. panitia) memaknai agenda ini sebagai upaya konkrit UMM dalam merawat Pancasila,” tutur ketua pelaksana kegiatan Bakti Sosial Syiar Ramadan UMM Zakarija Achmat. Kehadiran UMM dalam agenda Bakti Sosial ini mendapatkan sambutan hangat dari seluruh masyarakat. Sekitar 200 orang yang merupakan masyarakat kurang mampu hadir dalam pembagian sembako dan pemeriksaan kesehatan gratis. Menurut Kepala Urusan (Kaur) Bidang Kesejahteraan Masyarakat Desa Jambuwer Mochammad Asrori kehadiran UMM adalah berkah bagi seluruh warga Jambuwer baik muslim maupun non-muslim. “Kehadiran UMM ini memberikan berkah bagi seluruh warga di Jambuwer, yang muslim iya yang enggak juga iya,” jelasnya. Desa Jambuwer dipilih sebagai lokasi pengobatan gratis dan konsultasi kesehatan karena jarak akses kesehatan di wilayah ini cukup jauh. Masyarakat harus menempuh kurang lebih 10-12 kilometer untuk dapat sampai di balai kesehatan terdekat seperti rumah sakit atau puskesmas. “Sangat sulit, dari rumah saya saja untuk ke bidan terdekat jaraknya 10 kilo kalau mau ke rumah sakit makin jauh,” cerita salah satu warga Jambuwer Ira Setyowati. Menyempurnakan gelaran baksos, Mobil Pintar milik UMM juga turut hadir memeriahkan agenda tersebut. Misi utamanya, untuk mendampingi putra-putri masyarakat sekitar yang mengikuti agenda bakti sosial. “Kami juga mengajak anak-anak disana untuk mewarnai bersama-sama. Ketika selesai mewarnai, mereka meminta pensilnya di bawa pulang dan memang kita kasih free perlengkapan menggambarnya,” ujar Koordinator Acara Menggambar Mobil KaCa UMM Hana Rosmalia Alfia. (nis/sil)

Ngabu Bookread Ala Mobil KaCa UMM Bersama Novelis Luluk HF

Masih ingat dengan film EL yang tayang bulan April hingga awal Mei lalu? Nah, Kali ini Mobil KaCa (Kamis Membaca) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengajak penulis novel EL yang difilmkan tersebut untuk “Ngabu bookread” bersama. Ngabu Bookread merupakan salah kegiatan literasi spesial Ramadhan dari Mobil KaCa UMM yang memfasilitasi para pengunjung dari berbagai kalangan untuk membaca santai sembari menunggu waktu berbuka puasa. Bertempat di depan Taman Krida Budaya Jl. Soekarno Hatta Kota Malang, Mobil KaCa mulai mengaspal Kamis,  (31/5) pukul 15.30 WIB. Bersama penulis Novel EL, Luluk HF, acara berlangsung meriah dan menyenangkan. Pengunjung tidak hanya dapat membaca buku tetapi juga mendapat ilmu seputar menulis buku langsung dari Luluk HF. Penulis yang juga mahasiswa Fakultas Ekonomindn Bisnis UMM ini berbagi banyak pengalaman dan tips menulis cerita kepada para pengunjung. Pada kesempatan kali ini, sebagian besar pengunjung merupakan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mereka adalah pengagum Luluk dan novel-novel tulisan Luluk di Wattpad, Firi dan Cindy contohnya. Dua anak SMPN 3 Malang ini tak tanggung-tanggung pergi ke Taman Krida usai pulang sekolah untuk menemui penulis kesukaannya. “Aku suka baca tulisannya Kak Luluk karena alurnya yang nggak mudah ditebak,” jawab Firi siswi yang masih duduk di kelas 1 SMP. Selain Firi dan Cindy, ada juga Yuandani siswi kelas 2 SMP Wahid Hasyim yang sejak awal datang duduk manis membaca buku di bangku yang disediakan mobil KaCa UMM. Yuandani mampir membaca buku sembari menunggu ibunya yang berjualan takjil di pinggir jalan Taman Krida. Melalui semangat literasi Luluk berpesan pada pengunjung untuk terus mengasah kemampuan menulis selagi masih muda. Baginya, menulis bukanlah perkara sulit jika sering diasah. Banyak berlatih menulis dan juga sering membaca adalah dua hal yang ia tekankan pada pengunjung. “Kalau mau nulis tetap harus baca dulu, karena setinggi apapun imajinasi kita tapi kalau tidak pernah membaca akan susah mengawali tulisan,” pungkasnya. (apn/sil)