PDM Kota Malang Ajak Saudagar Muhammadiyah Dialog Bisnis

Dialog bisnis tersebut membahas perkembangan dunia bisnis saat ini. Narasumber utama, Prof. Dr. Khusnul Ashar, SE. MA., Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya (UB) mengungkapkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim dengan angka mencapai 85%. Sayangnya dari jumlah tersebut hanya 14% muslim yang menjadi pengusaha. “Kita memasuki era digital, eranya teknologi. Bersaing secara online. Era digital dapat membuat bisnis menjadi mudah. Apalagi di era digital, masyarakat tidak hanya bisa berbisnis secara tatap muka tetapi juga melalui online,” ujar Khusnul Ashar. Khusnul menambahkan bahwa organisasi Muhammadiyah memiliki sambutan positif di masyarakat. Brand image Muhammadiyah tidak hanya di sisi pendidikan tetapi juga kesehatan. Hal itu seharusnya menjadi pelecut bagi saudagar-saudagar Muhammadiyah untuk berani mengembangkan bisnis masing-masing. Setuju dengan pendapat Khusnul, Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa timur Dr. Ec. Indra N. Fauzi, MM melihat peluang bisnis dari segi kecanggihan internet. “Semakin ke sini saya melihat anak muda makin tidak suka membaca. Mereka cenderung membaca bagian atas seperti judul, sedangkan isinya tidak,” kata Indra kemudian melanjutkan dengan pengalamannya bertemu pengusaha yang usianya masih muda 20 tahun di bawahnya. Khusnul menjadi paham dengan fenomena anak muda yang meninggalkan busaya baca akibat perkembangan teknologi. Teknologi membuat segalanya menjadi mudah. Anak muda kini cenderung menyukai yang instan. “Itulah mengapa bisnis secara online menjadi menguntungkan,” pungkasnya. Di akhir acara PDM Kota Malang memberikan ruang bagi nasabah Bank Jatim dan Bank BNI Syariah untuk bertukar cerita. Bank Jatim juga memperkenalkan aplikasi barunya yang bernama ‘Bejomu’ yang bisa mempermudah dan mendukung nasabah melakukan segala transaksi, terutama untuk mendukung llu lintas perdagangan(apn/sil)
Si Pemuda Pesisir Ketua PSIF UMM Jadi Asisten Staf Khusus Kepresidenan

Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pradana Boy ZTF segera bergabung di Istana Negara. Berdasarkan surat Keputusan Sekertaris Kabinet Republik Indonesia (RI) No. 46 Tahun 2018, ia akan mendampingi Siti Ruhaini Dzuhayatin Staf Khusus Bidang Kegamaan Internasional yang baru saja dilantik oleh Presiden RI Joko Widodo.Besar di tengah keluarga petani sederhana di Kota Lamongan, Pradana adalah sosok bersahaja yang penuh semangat dan motivasi untuk terus berprestasi. “Untuk apa manusia hidup jika tidak untuk terus bersemangat dan menantang diri sendiri agar tahu kelemahan diri,” pantik dosen Program Studi (Prodi) Syariah UMM ini. Di sela kesibukannya mempersiapkan diri sebelum bergabung di Istana Negara, Sabtu (28/7) Pradana membagikan kisah perjuangan panjangnya hingga sampai di titik ini. Pradana remaja yang saat itu baru saja lulus SMA, memutuskan hijrah dari Lamongan untuk menempuh studi strata satu di UMM. Ia berencana segera mengambil Program Studi Manajemen. “Syariah itu bukan pilihan utama saya kuliah di UMM. Pikiran lugu saya orang pesisir Lamongan, baru lulus SMA, sekolah manajemen dan jadi manager. Sudah hanya itu, tapi ternyata saya harus memupuskan niat kuliah di jurusan tersebut,” jelasnya. Tak disangka, biaya untuk jurusan impiannya ternyata cukup mahal. Tak ingin kembali ke Lamongan sia-sia, ia pun memutuskan untuk mencari jurusan paling murah di UMM kala itu agar bisa tetap berada di Malang dan keinginannya menjadi mahasiswa terwujud. “Cari yang paling murah atau kalau gak bisa dapat yang murah kita pulang. Itu kalimat Bapak yang akhirnya membuat saya menjatuhkan pilihan pada Syariah,” kisahnya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan menempuh studi di perguruan tinggi, Pradana terus meningkatkan kualitas diri. Ia memanfaatkan berbagai peluang untuk dapat menyuarakan tulisan, gagasan, dan karyanya.Tak disangka, gaung karya Pradana sampai pada Kedutaan Besar Amerika. “Saat dihubungi oleh staf kedutaan Amerika dan diajak untuk makan malam saya hanya berpikir bahwa saya diundang makan malam dalam konferensi,” tegasnya. Namun kemudian ia sangat terkejut saat tahu bahwa menjadi satu-satunya perwakilan Muhammadiyah yang berada di meja makan malam duta besar Amerika tersebut. Pradana mengingat bahwa hanya ada delapan orang di meja makan malam itu. “Saya pikir hanya makan malam biasa, ternyata jamuan makan malam khusus dan hanya saya yang dari Muhammadiyah,” terangnya dengan Bahasa Jawa. Keberlanjutan makan malam tersebut, membawa pria asal dusun Mencorek Lamongan ini mengenyam pendidikan singkat bidang ilmu politik di University of Massachusetts, Amerika Serikat (AS). Menyelesaikan Pendidikan Magister bidang Antropologi di Australian National University (ANU) dan Pendidikan Doktoral di National University of Singapore (NUS) bidang Kajian Melayu tak serta merta membuat putra Muhammadiyah ini lupa dengan tanah air. Selama menyelesaikan tesis dan disertasinya, penulis novel Kembara ini terus menggali sejarah Islam dan peradaban dunia di nusantara. Pemikiran-pemikirannya terhadap perkembangan Islam di nusantara menjadikannya terkenal dengan julukan pemuda pemikiran moderat. Dipercaya sebagai Asisten Staf Khusus Bidang Kegamaan Internasional, Pradana berharap dapat mengemban kepercayaan ini dengan sebaik-baiknya. “Karena ini amanah, maka saya berharap bisa menyelesaikan tugas ini hingga selesai,” pungkasnya. (nis/sil)