Dosen Kesos UMM Berdayakan Masyarakat Melalui Sekolah Literasi

Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara yang didirikan Hutri tak hanya menjadi perpustakaan, namun juga tempat melakukan berbagai aktivitas lain. Semangat literasi juga digalakkan Hutri Agustino, dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP. Sekembalinya dari studi di University of Trento Italia melalui program beasiswa Erasmus Mundus, kegelisahan Hutri tentang semangat literasi semakin menjadi. Akhirnya sekitar tahun 2015-2016, Hutri merealisasaikan idenya memanfaatkan sedikit tempat disamping rumah untuk dibangun menjadi perpustakaan sederhana dengan nuansa tempo dulu yaitu nuansa bambu dengan modal sekitar 1000 koleksi buku pribadi. “Awalnya cuma berfikir saya punya buku dan saya membuka perpustakaan, tapi ketika buka perpustakaan atensi masyarakat begitu luar biasa. Ada yang disitu ingin les privat, tempat pemberdayaan dan macam-macam. Akhirnya saya merasa  kapasitas ruang tidak cukup untuk memadai segala aktifitas,” ujarnya. Melihat hal tersebut, Hutri pun menambahkan halaman rumahnya untuk dapat memperluas perpustakaan tersebut hingga dapat menampung sekitar 100 orang dengan nama Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara. Dengan ini ia berharap, akan semakin banyak masyarakat yang datang dan sadar akan pentingnya literasi. Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara ini juga membawanya menemukan forum literasi lain di Kota Malang. Pada akhir tahun 2017 di Kabuaten Malang terbentuklah organisasi bernama Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) yang kemudian pada tahun 2018 organisasi ini memberi amanah kepada Hutri untuk menjadi pemimpin selama periode 2018-2022. Melalui organisasi ini lah Hutri mulai sadar bahwa ternyata di Kota Malang pegiat  literasi juga sedang naik daun dan memiliki banyak peminat. “Beberapa bulan setelah menjabat jadi ketua, saya melakukan observasi dan pengamatan kecil-kecilan, ternyata tidak hanya di Kabupaten Malang fenomena minat baca muncul pada masyarakat. Ini sedang booming-boomingnya khususnya di Kota Pendidikan seperti Malang,” ujarnya. Dari sini, Hutri menggagas Sekolah Literasi yang soft launching pada Rabu (25/7) kemarin di Gazebo Literasi, Dau. Untuk Grand Launching, rencananya akan dilaksanakan pada bulan Agustus dengan mengangkat tema Literasi Kemerdekaan dan Pancasila. “Target awal memang pegiat literasi dengan harapan mereka jadi duta baca, duta perpus dan duta literasi. Ketika di level mereka sudah selesai, maka mereka yang bertugas untuk menyemai pemahaman itu di komunitas masing-masing,” tandasnya. Di akhir, Hutri menyampaikan bahwa ia ingin menjadikan komunitas literasi ini sebagai alat untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dengan model yang berbeda, yakni berbasis gerakan literasi. “Minimal mengorganisasikan masyarakat, mengedukasi, merubah mindset yang selama ini. Membuat mereka hidupnya lebih terarah,”pungkasnya.

Bekali Lulusan ESP UMM, Manager Garuda Indonesia Bagikan Rahasia Sukses Dunia Kerja

Project Manager Garuda Indonesia Setyasmono berbagi tips sukses di dunia kerja Persaingan dunia kerja yang semakin hari semakin ketat menuntut para mahasiswa untuk dapat bersaing dan memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan Program Studi Ekonomi Sosial Pembangunan (Prodi ESP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan seminar “Pembekalan Memasuki Dunia Kerja”, Sabtu (29/7) bertempat di Aula Teknik UMM dan dihadiri oleh mahasiswa prodi ESP angkatan 2014 yang akan lulus pada tahun ini. Untuk meraih sukses, mahasiswa harus mempunyai kemauan yang kuat untuk bergelut dengan tuntutan pekerjaan dan perusahaan. Namun sebelum memasuki dunia kerja, ada hal-hal yang harus mereka persiapkan agar diterima di perusahan-perusahan sesuai dengan minat dan keinginan, seperti memiliki etika kerja yang bagus, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang memenuhi standar industri, dan skill yang mumpuni. Menghadirkan pembicara dari perusahaan penerbangan paling elit di Indonesia, Setyasmono yang merupakan seorang Project Manager Garuda Indonesia, memaparkan bagaimana cara mempersiapkan diri memasuki dunia kerja dan kiat-kiat apa saja yang yang perlu dipelajari agar perusahaan tertarik untuk merekrut. Setyasmono menerangkan, “Ada hal-hal yang sering kali diabaikan oleh seseorang ketika melamar kerja, seperti cara berjalan, cara duduk, nada ketika berbicara saat wawancara, dan cara berpakaian. Padahal, hal teknis semacam itu adalah poin penting yang dipertimbangkan perusahaan apakah pelamar ini berkualifikasi atau tidak”, jelasnya. Setyasmono, yang telah berpengalaman merekrut karyawan di berbagai negara dari Korea, Jepang, Tiongkok, Singapura , dan Negara Asia lainnya menjelaskan bahwa pada saat wawancara, para pelamar hendaknya menyiapkan CV (data diri) yang baik, menunjukkan kelebihan, tidak menonjolkan kelemahan, bermotivasi tinggi, kreatif, dan bersemangat. Setyasmono melanjutkan, “IPK bukan segalanya, namun bukan berarti tidak penting, yang lebih penting adalah anda harus percaya diri”. Selain itu, ada beberapa komponen pencapaian keberhasilan yang biasanya dijadikan sebagai standar perusahaan atau industri, seperti kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan computer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, percaya diri, ramah, sopan, bijaksana, IPK, kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha. Shochihul Muslim, salah seorang panitia dari seminar ini mengaku bahwa ia mendapatkan ilmu baru tentang dunia kerja. Mahasiswa ESP angkatan 2014 ini mengatakan, “Acara ini sangat berguna sekali untuk kami yang akan segera lulus agar siap memasuki dunia kerja karena kita menjadi tahu apa dan bagaimana kriteria perusahaan itu seperti apa”. (lus/sil)