Susul Kampung Warna-Warni, Discover Gresik Akan Jadi Mega Proyek Garapan Mahasiswa Ikom UMM

Setelah sebelumnya sukses menggarap berbagai kawasan menjadi destinasi bernilai kemanfaatan sosial, Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) kembali merancang sebuah program unggulan berbasis pemaksimalan potensi lokal. Program ini diintegrasikan dengan praktikum mahasiswa peminatan Public Relations (PR). Bermula dari kekaguman atas suksesnya Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) garapan Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMM, rombongan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kabupaten Gresik meminta secara khusus Prodi Ilmu Komunikasi UMM untuk menerapkan konsep serupa di sejumlah kawasan di Kabupaten Gresik. Lalu, melalui diskusi kedua belah pihak tercetuslah sebuah program bertema “Discover Gresik”. “Awalnya mereka ingin sejumlah kawasan ini dijadikan serupa Kampung Warna-Warni Jodipan. Hanya saja kami menyampaikan kepada mereka, bahwa setiap daerah memiliki potensinya masing-masing. Sehingga treatment-nya akan berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lainnya. Intinya kami tidak ingin latah,” ungkap Arum Martikasari, M.MedKom, Koordinator Praktikum Menejemen Strategi PR Prodi Ilmu Komunikasi UMM, Selasa (21/8). Lima kawasan yang bakal jadi objek garapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM di antaranya Desa Kramat Inggil melaui konsep Eco Green Village, Kelurahan Kemuteran melalui konsep Night Market, Kelurahan Kroman melalui konsep Wisata Pelabuhan, Kelurahan Penelingan melalui konsep Cultural and Heritage, serta Kelurahan Sukodono melalui konsep Sentra Kuliner. Kesempatan untuk menggarap klien khusus ini nantinya tidak didapat semua kelompok praktikum. Mereka yang lolos penilaian secara konsep yang akan benar-benar menindaklanjuti garapan lima kawasan ini, termasuk mencari sumber pendanaan juga mendampingi masyarakat hingga garapan proyek ini selesai. Diperkirakan semua program akan mulai berjalan September bulan depan. “Kami berharap dengan skema praktikum seperti yang diterapkan ini, lulusan Prodi Ilmu Komunikasi dapat memiliki kompetensi atau skill yang bisa diujikan saat sertifikasi keprofesian. Sehingga ketika diuji, mereka tinggal menunjukan portofolio yang mereka miliki,” ungkap Arum. (can/sil)

ASKII sebagai Optimalisasi Wadah Tukar Pengalaman dan Pengelolaan Sentra HKI

Mengingat pentingnya keberadaan Sentra-sentra Kekayaan Intelektual (KI) di Indonesia, mendorong terbentuknya Asosiasi Kekayaan Intelektual Indonesia (ASKII) tanggal 30 Oktober 2017 silam. Baru berumur 11 bulan, ASKII telah banyak melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti pelatihan terkait penyelenggaraan dan pengelolaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) serta melakukan kerjasama dengan beberapa sentra Kekayaan Intelektual (KI) di Indonesia. Ketua ASKII, Dr. Budi Agus Riswandi S. H., M. Hum. mengungkapkan pentingnya keberadaan sentra KI di perguruan tinggi. Dalam perkembangannya baik perseorangan maupun lembaga ternyata sangat membutuhkan wadah sentra KI untuk sarana bertukar pengalaman, pengetahuan, serta penguatan satu sama lain antara anggota KI. “Ketika kita diundang oleh dirjen KI untuk mengadakan rapat koordinasi sentra KI Indonesia di Malang waktu itu di usulkan dalam forum supaya dibentuk asosiasi sentra kekayaan intelektual Indonesia. Dari forum itu akhirnya dibentuk tim formatur salah satunya adalah saya. Kemudian beberapa anggota lain dari berbagai perguruan tinggi, dan dari tim formatur tersebut selama kurang lebih 4 sampai 6 kali pertemuan mempersiapkan pembentukan asosiasi,” papar Budi tentang perjalanan terbentuknya ASKII, Selasa (21/8) di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam rapat Kerja Nasional ini, ASKII memperteguh kembali rencana program serta kapasitas anggota mengenai pengelolaan HKI di masing-masing unit sentra HKI. Juga hari ini ditetapkan anggota ASKII 113 orang yang terdiri dari perwakilan lembaga maupun perseorangan. Sentra KI di UMM sendiri telah berdiri tahun 2002 dan menjadi lembaga paling senior dari perguruan tinggi lainnya. Keberadaan Sentra KI di UMM tidak jauh dari pemikiran Dr. Ir. Maftuchah, MP yang merasa pentingnya memiliki lembaga Sentra HKI. “Saya kira penting keberadaan lembaga ini. Kekayaan intelektual itu bukan hanya sekedar pencatatan, hasil teknologi, intelektualitas, ini masalah regulasi internasional juga. Indonesia masih tergolong lamban di banding negara lain. Saya berpikir sentra HKI dibuat menjadi lembaga akan lebih bagus, sehingga yang dulunya kami SK-nya sebagai panitia berubah menjadi pengurus dan berdiri di UMM tahun 2002,” terang Ketua Sentra HKI UMM tahun 2002-2017, Maftuchah, MP. Sejalan dengan pemikiran Maftuchah, Budi mengharapkan ASKII akan terus berkembang menjadi lembaga yang tidak hanya diisi oleh kalangan akademisi, peneliti, ilmuwan, tetapi para industriawan. Tujuannya untuk mengoptimalisasikan guna mensejahterakan masyarakat benar-benar dapat diwujudkan. (apn/sil)

Jumlah Pendaftar Melonjak, Peserta Tes Gelombang III UMM Capai 3.000 Camaba

Tes Gelombang III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berlangsung Senin (20/8).Total pendaftar pada tes Gelombang III ini mencapai 3.079 calon mahasiswa baru (camaba). Berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 10.30 tes tulis dilanjutkan dengan tes wawancara yang berakhir pukul 12.30 WIB. “Untuk pengumuman tes ini nanti tanggal 24 Agustus,” ujar Kepala UPT Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), Dr. Saiman, M.Si. Sementara itu, Wakil Rektor 1 UMM Prof. Dr.  Syamsul Arifin mengatakan bahwa pada setiap penerimaan mahasiswa baru, UMM menetapkan kuota berbeda-beda. Untuk Gelombang I terdapat kuota sebanyak 30 persen, Gelombang II sebanyak 40-50 persen dan Gelombang III sebanyak 15-20 persen. Seperti sebelumnya,  Gelombang II menjadi puncak pendaftar terbanyak. “Jumlah total pendaftar meningkat hingga 35 persen dari tahun lalu. Hal ini karena UMM telah berupaya menerapkan standar Kemenristekdikti guna menjadi perguruan tinggi terbaik. Misalnya, dari segi SDM kita terus pacu, kompetensi dan kualifikasi. Kami juga terus menerus menyekolahkan dosen ke jenjang doktoral. Kemudian kami juga fasilitasi penelitian. Ke depan UMM akan selalu mencari solusi terhadap permasalahan di era disrupsi agar semakin banyak yang mendaftar ke UMM,” terangnya. Sementara itu, salah seorang camaba asal Kediri, Mita Yuliana mengharapkan Tes Gelombang III yang diikutinya ini dapat membuahkan hasil yang baik. “Saya ambil jurusan Ilmu Hukum. Meskipun sedikit takut nggak lolos dan mengecewakan orang tua, saya tetap optimis dan yakin kalau saya diterima,” ungkapnya. Tes Gelombang III dibuka untuk semua program studi (prodi) dari Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Fakultas Hukum, Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Agama Islam serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis kecuali Fakultas Kedokteran. Total peserta yang akan diterima secara keseluruhan Gelombang I, II dan III sebanyak 6.000-7.000 mahasiswa. (apn/sil)