Melalui Program UMM Pasti, Rektor Jamin Mahasiswa Lulus Tepat Waktu

Tradisi silaturrahmi wali mahasiswa baru gelombang 2 dan 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali digelar Jumat (31/8). Berlokasi di dome UMM, wali calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2018/2019 yang berasal dari seluruh penjuru daerah di Indonesia berkumpul. Memberikan sambutan Rektor UMM, Fauzan menyampaikan ucapan selamat datang di kampus UMM sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Jawa Timur. Fauzan mengungkapkan di tahun 2018 ini terjadi peningkatan mahasiswa baru yang cukup signifikan. “Tahun 2018 ini, tercatat 19.000 pendaftar UMM dan yang dapat kami terima sejumlah 7.500 orang, ” ujar Fauzan. Berupaya selalu memberikan yang terbaik, oleh pihak kampus peningkatan tersebut diimbangi dengan berbagai fasilitas yang disempurnakan. Tak hanya dalam segi fasilitas, Fauzan juga meyakinkan para wali orang tua mahasiswa bahwa pembentukan hasil lulusan yang baik juga dilakukan melalui berbagai program, salah satunya dengan program UMM Pasti. Program tersebut merupakan sebuah upaya dari UMM untuk meluluskan mahasiswa dalam waktu 3,5 dan 4 tahun, pasti mandiri dan pasti bekerja. “Saya pastikan putra putri bapak bisa lulus 4 tahun kemudian,” kata Fauzan. Menyambut perkembangan dunia karir mahasiswa yang semakin beragam di era millennial, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan meluncurkan program UMM Pasti, yakni Pasti Lulus 4 Tahun, Pasti Bekerja dan Pasti Mandiri. Melalui program ini Fauzan yakin, lulusan UMM akan mampu berkompetisi di dunia luar bahkan sebelum menyelesaikan studinya.(Humas)

Ormas Malaysia Kunjungi PSIF UMM, Tertarik Dinamika Kaum Muda Muhammadiyah

Sebanyak enam aktivis Lestari Hikmah, sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) di Malaysia, mengunjungi Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka mengaku sangat tertarik dengan dinamika dan perkembangan ormas Muhammadiyah di Indonesia. Ketua rombongan Lestari Hikmah, Rashidi mengatakan, di Malaysia Muhammadiyah sudah sangat dikenal. Bahkan, sudah ada sekolah Muhammadiyah di sana sejak tahun 1950an yang diinisiasi sejumlah tokoh, di antaranya Buya Hamka. Sekarang bahkan Muhammadiyah tengah mempersiapkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Malaysia. Karena itulah, Rashidi berharap kunjungannya ke UMM ini dapat menambah wawasan mereka tentang Muhammadiyah, terutama tentang kiprah pemikiran dan gerakan anak-anak muda Muhammadiyah. “Di Malaysia pergolakan pemikiran anak muda masih sangat lambat dan tak terdengar. Berbeda dengan Indonesia yang sangat dinamis dan progresif, di antaranya terlihat dari pemikiran anak-anak muda Muhammadiyah,” ungkapnya. Pengurus Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Haeri Fadly mengatakan, ruang demokrasi Indonesia yang terbuka membuat anak-anak muda lebih dinamis di bidang pemikiran dan gerakan. Tak hanya itu, ruang demokrasi itu juga berpengaruh pada dinamika antara Muhammadiyah, ormas lain dan pemerintah. Misalnya, soal penentuan hari raya Idul Fitri, di Indonesia masyarakat bebas memilih hasil fatwa NU, Muhammadiyah maupun pemerintah lewat Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tak ada keharusan mengikuti salah satu fatwa. Hal itu tentu cukup janggal bagi Malaysia di mana umat Islam di sana pasti sejalan dengan fatwa pemerintah. Sementara itu sekretaris PSIF UMM Subhan Setowara mengatakan, kuatnya dinamika anak muda Muhammadiyah sangat dipengaruhi oleh kelahiran Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang lahir pada 2003. Lahirnya JIMM kala itu dilatari mandeknya dinamika pemikiran di tubuh Muhammadiyah di tengah gencarnya gerakan amal usaha Muhammadiyah. “Semangat JIMM ingin menghidupkan kembali spirit KH Ahmad Dahlan, yang tidak hanya dikenal sebagai aktor penggerak (man of action), tapi juga aktor pemikir (man of thought),” papar Subhan.