FPP UMM Siapkan Ketahanan Pangan untuk Kedaulatan Bangsa

Indonesia dikenal sebagai negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Tecatat oleh World Bank, Indonesia menduduki peringkat 18 dunia dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memegang peran penting dalam ketahanan dan kestabilan pangan dunia. Berkenaan dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) David Hermawan menyampaikan bahwa bidang akademik memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan formasi ketahanan pangan. “Saat ini Indonesia sedang membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten dalam menanggulangi ketahanan pangan di tahun 2030 nanti,” paparnya pada Program Bela Negara di Lapangan Rindam V Brawijaya Malang, Rabu (3/10). Selama tiga hari sejak Senin-Rabu (1-3/10) sekitar 1.000 mahasiswa baru FPP UMM ikut serta dalam Program Bela Negara. Kegiatan yang bekerjasama dengan Dodikjur Rindam V Brawijaya Malang tersebut diisi dengan berbagai kegiatan ruang dan lapang. Wakil Komandan Rindam V Brawijaya Kolonel Infanteri Bambang Sujarwo menguraikan bahwa seluruh peserta yang terdiri dari mahasiswa baru FPP UMM angkatan 2018 tersebut mendapatkan paparan materi terkait wawasan kebangsaan, cinta tanah air, dan mengenal Indonesia lebih jauh. Sedangkan untuk kegiatan lapang, mahasiswa-mahasiswa ini dilatih untuk disiplin, bertanggungjawab, dan bekerja keras. “Kami tidak hanya memberikan materi di dalam ruang saja, namun langsung juga diaplikasikan di lapangan,” ujar Bambang Selain sebagai bentuk kaderisasi human capital yang inovatif dan berdaya saing, melalui program ini FPP UMM juga ingin mematangkan teori-teori mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada mahasiswanya. Hal tersebut ditekankan oleh Dekan FPP UMM. “Keputusan untuk mengganti kegiatan di kelas dengan kegiatan aplikatif seperti ini karena kami benar-benar ingin menanamkan jiwa nasionalisme pada diri individu utamanya mahasiswa baru,” tegas pria yang juga dosen Prodi Perikanan tersebut. Rektor UMM Fauzan yang bertindak sebagai Inspektur Upacara pada upacara penghormatan Fauzan menyatakan bahwa kegiatan yang dilewati oleh mahasiswa-mahasiswa ini merupakan upaya UMM dalam membentuk karakter manusia Indonesia yang seutuhnya. “Setelah tiga hari dididik, ditempa, dan dibentuk di sini maka saat ini Anda semua mahasiswa yang ada di sini telah memiliki karakter manusia Indonesia seutuhya. Hal ini adalah modal penting bagi Anda semua,” kata Fauzan. Alaykartina Baginda mahasiswa Prodi Peternakan yang menjadi salah satu pesera mengaku sangat senang bisa dilatih oleh para anggota TNI yang ada di Dodikjur Rindam V Brawijaya ini. Ia tidak menyangkan bahwa di UMM juga akan belajar banyak tentang nasionalisme, bahkan langsung dari garda teerdepan penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Di awal saya merasa berat mau ke sini, karena saya pikir kenapa harus ikut acara seperti ini. Tapi semuanya berbanding terbalik sejak melewati hari pertama di sini,” ujar mahasiswi asal Blitar tersebut. (nis/sil)

Peluang Institute Pendidikan Vokasi di Era 4.00

Menyambut revolusi industry 0.4, keahlian khusus dibutuhkan seseorang dalam menghadapi globalisasi, khususnya dalam dunia perdagangan, utamanya untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Hal ini yang membuat kursus-kursus singkat mulai dari bartender, koki, hingga make up artis menjadi serbuan para anak muda hingga ibu-ibu rumah tangga. Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Ir. Ananto Kusuma Seta M.Sc, PhD menyampaikan fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dibelahan dunia lain. Hal ini menurut Ananto, dapat menjadi sebuah peluang bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendirikan Institut Pendidikan Vokasi (IPV). Selain alasan tersebut, Ananto juga menyampaikan bahwa saat ini berdasarkan survey yang dilakukan, ada sebanyak 20 Ceo Top Indonesia mengaku tidak mendapatkan lulusan Perguruan Tinggi sesuai dengan apa yang dikehendaki. Ini sangat disayangkan, karena berarti hanya sedikit dari lulusan yang bekerja sesuai dengan bidangnya. “Ini menjadi pengantar untuk kita mendirikan Institute Pendidikan Vokasi UMM dengan tagline Creating moment,  progressing talent. IPV ini nantinya memiliki visi pelopor dalam pemajuan talenta,”ujarnya pada Lokakarya Pendidikan Vokasi “Tantangan dan Prospek Pendidikan Vokasi pada Perguruan Tinggi di UMM, (3/10). Menguatamakan kualitas lulusan, nantinya IPV UMM direncanakan akan mengangkat tata CREATIVE yakni Care,  Religious,  Entrepreunersh,  Agile,  Teamwork, Inovative, Visionary dan Exellence. “Alasan lainnya kita betul-betul ingin memanfaatkan Industri 4.0. Kedua menurunkan angka pengangguran, ketiga meningkatkan daya saing global, memanfaatkan bonus geografi, bonus demografis kita harus diubah dari yang konsumtif jadi produktif serta kelima meningkatkan eksport tenga kerja terampil. Ini seperti kerjasama kita dengan Jepang itu,”tambahnya. Nantinya IPV akan melayani berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum dewasa, anak-anak lulusan SMA/SMK dan jug civitas akadenika UMM sendiri. “Nantinya mereka akan mendapatkan kecakapan lulusan berupa soft skill,  jiwa kreatif dan entrepreuner,  berketrampilan jamak, adaptif dan pembelajaran sepanjang hayat serta  global citizenship,”katanya. Direncanakan menyediakan pendidikan yang terus beririsan dengan kemajuan zaman, IPV sesuai rencana akan memiliki 5 sekolah dengan berbagai bidang peminatan, sekolah disain dan media misal program peminatan interaktif disain, sekolah TIK dan elektronika, sekolah bisnis dan manajemen, sekolah kesehatan dan hospitality misal dengan peminatan halal pastry dan baking dan sekolah agribisnis misal peminatan landscape. “ Sehingga nantinya anak itu punya disain masa depan sesuai dengan passionnya sendiri,” tambah Ananto. Selain didisain istmewa dalam kurikulumnya, IPV nantinya direncanakan juga sebagai kampus dengan multi stakeholder,  integrated facilities,  e-Manajemen,  dan Green Environment dengan menggunakan semua yang serba canggih dengan less paper. “Nanti bisa juga bekerjasama dengan kampus Singapura misalnya.  Disana kan kekurangan mahasiswa.  Ini bisa kita ajak kerjasama. Misalnya mereka mengirimkan dosen untuk mengajar vokasi disini,” pungkasnya.(sil)