Mulai Hari Ini, 96 Tim Sepak Bola U-11 Se-Jawa Bali dan Indonesia Timur Berlaga di Piala Rektor UMM 2018

SEPAK BOLA adalah salah satu cabang olahraga atletik yang sangat digandrungi oleh segala macam usia dan suku bangsa. Sering kita saksikan pula, sepak bola berhasil menyatukan perbedaan. Berangkat dari hal itu, dalam rangka menanam benih rasa persatuan sejak dini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Kompetisi Sepakbola U-11 Piala Rektor UMM 2018. Perhelatan ini dilaksanakan mulai hari ini, Jumat hingga Minggu (19-21) Oktober 2018 di Stadion UMM. Menurut ketua pelaksana, Dr. Haris Tofly, S.H., M.Hum., kelompok usia sebelas tahun sengaja dipilih untuk memberikan wadah pengembangan potensi sepak bola. Banyak Sekolah Sepak Bola di penjuru nusantara yang juga membina kelompok umur sebelas tahun. Sejak dibuka hingga ditutupnya pendaftaran kompetisi, terhitung sudah 96 club mendaftarkan diri. Mereka berasal dari Sekolah Sepak Bola/ Akademi/ Diklat Sepakbola se-Jawa Bali dan Indonesia Timur “Universitas Muhammadiyah Malang merupakan instansi perguruan tinggi yang memiliki tanggung jawab terhadap kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara tak tekecuali lewat sepakbola. UMM yang dalam hal ini memiliki sarana prasarana yang memadai setidaknya harus mampu berperan dalam memajukan sepakbola Indonesia,” terang Haris saat diwawancarai di ruangannya, Kamis (18/10) siang. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), sambung Haris, sebagai wadah organisasi tertinggi sepakbola di Indonesia, memiliki tanggung jawab mutlak terhadap kemajuan dan perkembangan sepakbola tersebut. Cita-cita mulia mewujudkan sepakbola yang maju dan berprestasi kadangkala terhambat akibat kebijakan yang kurang tepat dari sebagian pengurus PSSI sendiri. “Padahal, sejatinya sepakbola dapat mempersatukan berbagai elemen bangsa yang beraneka ragam. Tugas seperti ini hanya dapat dicapai dengan maksimal bila terorganisir dengan baik. Keberadaan roda kompetisi merupakan faktor utama dalam peningkatan prestasi sepakbola Indonesia yang muaranya adalah terbentuknya Tim Nasional Sepakbola Indonesia yang tangguh,” ungkap dosen Fakultas Hukum ini. Keberadaan roda kompetisi merupakan faktor utama dalam peningkatan prestasi sepakbola Indonesia yang muaranya adalah terbentuknya Tim Nasional Sepakbola Indonesia yang tangguh. Kompetisi berjenjang, tegas Haris, merupakan salah satu langkah yang bisa dilakukan seluruh stakeholders dalam memajukan sepakbola Indonesia tanpa menunggu hadirnya kompetisi dari PSSI. Untuk itulah, lanjut Haris, diperlukan sebuah kompetisi ataupun turnamen sepakbola yang sportif, ramah dan damai. Adapun kompetisi atau turnamen semacam ini sekaligus menunjukkan kepedulian dan keseriusan berbagai elemen masyarakat dalam mewujudkan masyarakat yang sehat. “Sekaligus mensukseskan apa yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia yaitu, memasyarakatkan Olahraga dan mengolahragakan masyarakat dalam rangka mewujudkan manusia yang sehat jasmani dan rohaninya,” pungkasnya. (mir/can)

Inisiasi Koperasi ‘Aroi’, Mahasiswa UMM Terima Penghargaan Guru Teladan dari Kementerian Pendidikan Thailand

SATU bulan magang sebagai guru di Thailand, tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat penghargaan Teacher of the Year dari Kementerian Pendidikan Thailand beberapa waktu lalu. Penghargaan itu merupakan apresiasi Pemerintah Thailand terhadap mahasiswa UMM sebagai guru teladan di Sekolah Dasar Darul Muhmin Satun, Thailand. Utamanya, atas inisiasi mereka mendirikan Koperasi beratmosfer Internasional, ‘Aroi’. Adalah Arfi Alfaruq Muhibbillah mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris; Syamsul Rijal mahasiswa Civic Hukum; dan Widodo Herlambang mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Ketiganya merupakan mahasiswa angkatan 2015 yang menerima gelar kehormatan itu langsung dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pendidikan Satun, Thailand, Somkid Joeychum. Akronim nama ketiganya lah yang digunakan untuk menamakan koperasi ini, yakni Arfi, Rijal dan Widodo: Aroi. ‘Aroi’ sendiri dalam bahasa Thailand berarti ‘enak’. “Sehubungan dengan ketertinggalan sekolah Darul Muhmin dalam berbahasa Inggris, jadi setiap warga sekolah yang membeli makanan atau jajanan kecil di sana (koperasi, red.) harus berbahasa Inggris,” kata Arfi Alfaruq Muhibbillah saat diwawancarai, Kamis (18/10) siang. Diakui Arfi, warga lingkungan sekolah Darul Muhmin tidak ada yang bisa berbahasa Inggris. Sejumlah guru bahasa Inggris di sana juga bukan lulusan pendidikan Bahasa Inggris, sehingga memiliki pengetahuan terbatas. Diperolehnya penghargaan itu juga terbilang tak direncanakan. Diceritakan Arfi, saat bermain game untuk mengenalkan Bahasa Jawa, secara kebetulan Sekjen melihat aktivitas mereka. “Setelah itu kami diminta pihak sekolah untuk menemui Sekjen Pendidikan Satun. Kata Sekjennya banyak mahasiswa yang pernah melakukan program serupa, namun katanya milik kami yang paling berhasil,” lanjutnya. Selain mengajarkan bahasa Inggris, mereka juga saling bertukar pengetahuan budaya masing-masing juga ke-Islaman. “Ini merupakan prestasi yang luar biasa bagi kami karena datangnya langsung dari Pemerintah Thailand. Kami yakin tentunya gelar ini melewati pertimbangan yang matang,” terang Drs. Nurwidodo, M.Kes selaku Kepala Unit Magang dan Micro Teaching Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM saat ditemui di kantornya, Kamis (18/10). Nurwidodo sempat kaget bahwa mahasiswanya bisa mendapat penghargaan ini. “Guru asli sana saja belum dapat. Kok, mahasiswa kita yang dapat dan dijadikan contoh untuk guru-guru asli di sana. Tentunya ini prestasi yang sangat membanggakan,” ungkap Nurwidodo sumringah. Selain itu, 22 orang dari 53 mahasiswa yang mengikuti program magang mengajar di Thailand mendapat tawaran untuk menjadi guru resmi di tempat mereka mengajar, dengan syarat lulus sarjana terlebih dulu. “Maka dari itu kami panggil alumni magang di Thailand kemarin, terutama yang 22 mahasiswa itu, kami himbau agar segera lulus dan bekerja di sana,” jelas Nurwidodo.(usa/can)