Rektor: Guru Milenial itu yang Kuat Karakter Keagamaan, Intelektual dan Humanisnya

DI TAHUN 2030 nanti, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Artinya di tahun itu, Indonesia akan memiliki lebih banyak warga negara yang berada di usia produktif. Generasi milenial, yang akan hidup di masa itu, tentunya saat ini menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah dan berbagai kalangan. Hal inilah yang mendorong Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kuliah Khusus, Kamis (25/10) siang. Acara ini bertajuk, “Penguatan Karakter untuk Mempersiapkan Generasi Milenial”. Pada kesempatan ini Dr. Fauzan, M. Pd, Rektor UMM hadir sebagai pemateri. Ia menyampaikan optimisme bahwa mahasiwa PGSD UMM harus menjadi generasi yang maximize atau generasi unggulan. “Jangan kemudian telat masuk kuliah. Sering alasan, yang penting masuk. Inilah yang dinamakan bermental minimize,” contohnya. Setiap manusia, sambungnya, memiliki potensi yang luar biasa. Namun sangat disayangkan kebanyakan dari diri seseorang, terkhusus para mahasiswa calon guru, masih memelihara kemalasan dan kerap beralasan. Boleh dikatakan, lanjut Fauzan, terlalu terlena dengan zona nyaman. Tak lupa, Fauzan juga menjelaskan betapa pentingnya menjadi seseorang yang bermental pekerja keras. Hal ini nanti tentu harus dimiliki oleh seorang guru. Karena guru, sambung Fauzan, adalah suri tauladan bagi murid-muridnya. Ditegaskan Fauzan, penguatan karakter juga mesti dilakukan dengan maksimal dalam rangka menyiapkan generasi milenial ke depan. Perbedaan gaya hidup dan perilaku di setiap masa akan menjadi tantangan tersendiri bagi guru. “Maka dari itu, penting kiranya calon-calon guru masa kini mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Agar ke depan anak-anak didik yang tak lain adalah generasi penerus bangsa menjadi anak-anak yang kuat dalam karakter keagaamaan, keintektualan dan humanisnya,” tutup Fauzan. (mir/can)
Peringati Bulan Bahasa, Mahasiswa UMM Gelar Aksi Simpatik Peduli Penggunaan Bahasa Indonesia

DOSEN Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Hari Windu Asrini, menyebut Bahasa Indonesia tidak lagi menjadi tuan di rumahnya sendiri. Hal itu disampaikan Hari pada aksi long march memperingati Bulan Bahasa yang jatuh hari ini, Jumat (26/10). “Melihat bahwa fakta bahasa ini (Indonesia, red.) tidak tambah baik penggunaannya. Justru bahasa asing lebih menjadi tren. Padahal, di undang-undang sudah tertera jelas jika kita diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar,” jelas Hari di sela long march. Seperti disebut Hari, di undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, utamanya pasal 36 ayat 3 secara terang Bahasa Indonesia, wajib digunakan di semua nama tempat usaha dan instansi. Data ini dikumpulkan hanya dalam waktu sehari. Sebelum aksi simpatik digelar, mahasiswa disebar ke beberapa wilayah di Kota Malang, Kota Batu, dan sebagian Kabupaten Malang untuk mencari nama tempat usaha atau instansi yang masih belum sesuai dengan kaidah bahasa. Berdasarkan temuan mereka, terdapat lebih 2.000 nama usaha dan instansi yang masih belum menggunakan kaidah Bahasa Indonesia. Misalnya pada penamaan Anugrah Elektronik, disarankan menjadi Anugerah Elektronik. Saran lainnya Dian Medica menjadi Toko Alat Medis Dian, dan Central Aromatik menjadi Pusat Aromatik. Hasil dari riset yang telah ditulis dalam bentuk laporan ini telah diserahkan langsung kepada perwakilan Pemerintah Kota Malang. Laporan itu nantinya diharapkan dijadikan bahan pertimbangan untuk membuat peraturan daerah (Perda) tentang pelabelan nama tempat usaha atau instansi. Dipaparkan salah satu mahasiswa, Rifqi Muhammad Rizky Aryada, keikutsertaan PBSI UMM dalam peringatan Bulan Bahasa ini merupakan upaya membangkitkan semangat untuk melestarikan bahasa dan peningkatan kesadaran penggunaan Bahasa Indonesia. Lebih lanjut, Rifqi menyebut aksi simpatik ini juga sekaligus mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menaati segala aturan di negara Republik Indonesia terutama dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, menerapkan aturan yang berlaku, melestarikan budaya lokal, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia,” tegas Rifqi. Sementara menurut Helmi Mahendri, mahasiswa PBSI lainnya yang juga ikut serta agenda ini menyatakan, dengan tetap menggunakan Bahasa Indonesia dan manaati kaidah-kaidahnya, kita juga turut mendukung pelestarian bahasa daerah. “Dengan menjadi pengguna Bahasa Indonesia yang aktif maka kita juga telah mendukung pelestarian bahasa daerah yang juga banyak diserap ke dalam Bahasa Indonesia,” pungkas mahasiswa semester 7 ini. (nis/can)
Mahasiswa Kedokteran Ini Siap Wakili Indonesia di Miss Glam 2019 di India

MEMILIKI paras cantik nan menawan dengan visi dan misi yang kuat merupakan bekal utama yang harus dimiliki peserta beauty pageant atau kontes kecantikan. Demikian di dunia kontes kecantikan dikenal dengan istilah beauty with purpose. Keunggulan ini pula lah yang membawa Paradifa Githa Saphira menjadi 2nd Runner Up Miss Global Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu. Setelah sukses meraih gelar bergengsi itu, Difa sapaan akrabnya, kini tengah mempersiapkan diri untuk melaju di Miss Glam World 2019 yang akan berlangsung di India. Miss Glam World adalah salah satu kontes kecantikan yang diperhitungkan di dunia. Kontes ini di selenggarakan untuk mencari bakat perempuan, yang selain cantik juga bertalenta dari seantero dunia. Kepada wartawan kami, Difa memulai menceritakan kisah inspiratifnya hingga menjadi 2nd Runner Up Miss Global 2018. Statusnya sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tidak menjadi hambatan bagi Difa untuk terus meniti karir sekaligus hobi yang telah ia tekuni sejak duduk di Taman Kanak-kanak (TK) ini. “Ya walaupun menjadi mahasiswa FK itu memang sangat sibuk. Tapi dengan bermodalkan tekad dan semangat, pasti ada jalan,” ungkap gadis asal Lombok, Nusa Tenggara Barat ini. Dukungan dari orang tua menjadi salah satu faktor Difa terus berkarya di bidang modeling. Baginya, memiliki bakat menjadi model dapat membawanya untuk bertemu dengan orang-orang inspiratif. Kemampuan yang ia miliki saat ini tidak lepas dari peran Ibu yang sampai membawa Difa mengikuti kelas kepribadian saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Mama itu melihat di diriku ada bakat. Tapi aku terlalu tomboy, akhirnya aku diajak Mama untuk ikut kelas kepribadian,” tuturnya. Padatnya perkuliahan membuat Difa semakin ketat dalam mengatur jadwalnya. Dara yang juga Duta GenRe UMM 2017 ini punya prinsip, bahwa selama kita masih diberi kesempatan untuk berkarya, maka tidak ada alasan untuk tidak menggelutinya. Sementara saat merasa putus asa, kata Difa, maka kita harus segera bangkit dan memotivasi diri lagi. “Kita kan hidup nggak lama dan cuma sekali. Kalau menurutku itu nggak ada alasan lagi buat nggak diisi dengan kegiatan-kegiatan positif,” tandasnya. Diakhir, Miss Global Jawa Timur ini juga menyampaikan pendapatnya tentang bagaimana anak muda harus berpikir dan bertindak. Bertemu dengan banyak orang-orang yang jauh lebih dahulu sukses darinya, membuat Difa terus termotivasi untuk mengisi hari-harinya dengan kegiatan postif. Menebar kebermanfaatan bagi banyak orang. “Pesanku untuk anak muda, jangan pernah yang namanya berpikir negatif. Pikiran yang diisi dengan hal-hal positif akan membuat hidup kita semakin progresif,” imbuhnya. Memiliki bekal selama menjadi Miss Global Indonesia, Difa berharap kedepannya ia dapat membentuk sebuah komunitas yang dapat merangkul Orang dengan HIV/ AIDS (ODHA). Menurutnya, ODHA masih belum mendapatkan tempat di masyarakat. Hal tersebut karena masyarakat masih memiliki stigma bahwa ODHA adalah mereka yang memiliki latar bekalang kejahatan dan wajib untuk dijauhi. (nis/can))
BEM-U UMM Ajak Mahasiswa Sadar Tantangan Pemuda Masa Kini

BONUS DEMOGRAFI yang akan diterima Indonesia pada tahun 2030 tentu menjadi perhatian khusus Pemerintah dan masyarakat. Artinya, Indonesia akan memiliki lebih banyak warga negara yang berusia produktif. Dapat dikatakan bahwa jumlah pemuda lebih banyak daripada jumlah masyarakat usia lainnya. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM-U UMM) menaruh perhatian lebih pada situasi tersebut. Melalui Kementerian Politik, Hukum dan HAM, BEM-U mengadakan Diskusi Publik Sumpah Pemuda, Jumat (26/10). Dalam kesempatan ini, Fajrin Fadlillah Redaktur Politik Media Mahasiswa mengajak para peserta untuk mengahayati sumpah pemuda. “Hari ini, yang kita lakukan hanya sebatas bereuforia. Hanya sebatas perayaan. Padahal, hingga terjadinya Sumpah Pemuda ada spirit hebat yang bisa kita ambil,” jelas pria asal Banten tersebut. Menurut Fajrin, sebuah perjuangan tentu tak dapat dilakukan sendiri-sendiri. Harus bersama-sama atau berkelompok. Bonus demografi yang akan diperoleh Indonesia di tahun 2030 tentu akan menjadi tantangan baru bagi pemuda Indonesia. Banyaknya pemuda di tahun tersebut tentu harus diimbangi dengan pemahaman pemuda terkait perannya. Maka, refleksi hari Sumpah Pemuda tentu tidak dilaksanakan cuma sebatas euforia. Sumpah Pemuda, sambung pria yang juga aktivis pergerakan Malang Raya ini, seharusnya menjadi momen bagi para pemuda untuk berefleksi terkait hakikat perjuangan kita sebagai pemuda. Terkhusus, pemuda terdidik atau mahasiswa yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat. Dilanjutkan Fajrin, beberapa semangat lain yang dapat diambil dari Sumpah Pemuda ialah kesadaran atas tanggung jawab sosial dan kerjasama untuk meraih kemerdekaan seutuhnya. “Bila dikontekskan dengan kita hari ini, tentu jangan terbuai dengan fasilitas-fasilitas yang menyamankan kita. Harus sadar,” tutup Fajrin. (mir/can)
Dosen Polandia Beri Kuliah Tamu ke Ratusan Mahasiswa Teknik Industri

SETIDAKNYA terdapat 2,12 miliar ton limbah global tiap tahunnya. Penumpukan limbah global membuatnya bergerak terbawa arus dan dapat mengotori lautan. Belakangan ini, mulai banyak perusahaan dengan konsep green company yang dapat melakukan efisiensi dan efektifitas dalam pengolahan limbah. Demikian, di dunia industri dikenal adanya konsep Zero Waste (tanpa limbah). Zero Waste sendiri merupakan konsep di mana produk atau limbah yang sudah diproduksi dapat didesain dan digunakan kembali. Konsep ini dirasa penting dalam proses efisiensi dan efektifitas dalam sistem industri yang erat kaitannya dengan teknik industri. Berangkat dari hal tersebut, Jurusan Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan dosen dari Wroclaw University of Science and Technology Polandia, Dr. inz. Emilia den Boer, Rabu (25/10). Kegiatan ini merupakan kuliah tamu bagi mahasiswa Teknik Industri dengan materi Manajemen Limbah dan Manajemen Teknologi. Emilia menjelaskan, bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi penghasil limbah di Indonesia. Di antaranya, angka pertumbuhan yang tinggi, musim buah, gaya hidup, mobilitas dan juga sisa makanan yang tidak diolah. “Indonesia menghasilkan limbah sebanyak 277 kg/capita setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan faktor-faktor tersebut,” imbuhnya. Sebelumnya, beberapa dosen teknik industri UMM juga diundang dalam kuliah tamu di Wroclaw University of Science and Technology Poland. Mereka di antaranya Dian Palupi Restuputri, St. Mt tentang Safety Engineering dan Shanty Kusuma Dewi, St. Mt tentang Reliability Engineering. “Ini merupakan kuliah tamu yang kami datangkan dari Polandia sebagai bentuk balasan dari dosen kita yang telah berangkat untuk memberikan kuliah tamu di sana,” terang Dr. Hj. Lailis Syafa’ah, MT, Wakil Dekan II Fakultas Teknik UMM. (bel/can)