Lulusan Fisioterapi Ini Sukses Berkiprah Jadi Fisioterapis Profesional PS Barito Putera

TERWUJUDNYA cita-cita adalah harapan setiap orang. Begitulah yang dialami Dian Erfianto Pambudi. Alumni lulusan Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2017 ini menjadi fisioterapis profesional salah satu klub sepak bola papan atas Liga 1 Indonesia. Klub yang ia tangani yakni Persatuan Sepak (PS) Bola Barito Putera. Erfianto menjadi fisioterapis profesional klub sepak bola yang berbasis di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini sejak awal 2018. Berawal dari hobinya pada olahraga sepak bola, Erfianto bercita-cita menjadi fisioterapis profesional di dunia olahraga. Setelah menamatkan pendidikan strata satunya di UMM, pria kelahiran Bondowoso 24 tahun silam ini mulai mencari peluang untuk mengejar cita-citanya. Ceritanya dimulai sejak PS Barito Putera tengah mengadakan training center (TC) di Kota Batu, Jawa Timur. Erfianto ditawari mendampingi PS Barito Putera sebagai tenaga fisioterapis selama TC yang berlangsung dua minggu. Tanpa pikir panjang, Erfianto mengambil tawaran ini. Selama menjalankan tugas, para pemain dan fisioterapis tetap di Barito Putera sangat senang dengan kinerjanya. Hingga salah satu pengelola Barito Putera meminta Erfianto masuk ke dalam tim fisioterapis tetap. Hal ini membuatnya senang karena mimpinya tercapai. Sempat terkendala proses perekrutannya karena masalah manajemen, Erfianto pada akhirnya resmi menjadi bagian dari fisioterapis inti PS Barito Putera. Saat diwawancarai via telepon, Minggu (28/10), anak laki-laki dari pasangan Jarimin dan Windiah Tanti Utari ini lantas menceritakan kesibukannya selama bertugas. “Kegiatannya bisa dibilang sibuk-sibuk santai. Kalau banyak pemain cidera kita harus bisa ngatur jadwal treatment (perawatan, red.). Juga membantu bagian perlengkapan untuk memenuhi kebutuhan pemain. Mulai dari baju sampai peralatan yang menunjang latihan. Kalau pekerjaan sudah selesai semua baru bisa bersantai,” jelasnya diakhiri dengan tawa kecil. Diakui Erifianto, menempuh perkuliahan di Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UMM sangat menunjang karirnya sebagai fisioterapis professional. Selama menempuh perkuliahan di Fikes UMM, Erfianto menyebut punya dosen favorit yang menginspirasinya. Ia adalah Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis. Menurut Erfianto, dosen favoritnya ini tidak hanya mengajarkan teori dalam kelas. Dimas, diceritakan Erifianto, kerap kali mengajarkan banyak hal di luar kelas. Juga, seringkali menginspirasi dan memberi motivasi untuk berdedikasi tinggi di dunia fisioterapi. Peluang menjadi fisioterapi profesional menurut Erfianto masih terbuka sangat lebar. Apalagi di dunia olahraga. Hanya saja, sambung Erfianto yang sering diketahui orang hanya di cabang olahraga sepak bola. Padahal, cabang olahraga lainnya juga punya peluang yang sama besarnya untuk menjadi fisioterapis profesional. “Barito Putera sangat mengesankan bagi saya. Di sini kekeluargaanya bagus banget! Keagamaannya kuat. Selain itu, dari manajemen dan pelatih sampai pemain semuanya baik dan saling membantu,” tukasnya. (mir/can)
Malik Fadjar: Kampus Ini Besar Karena Inspirasi

ANGGOTA Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia yang juga merupakan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM), Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc., Senin (29/10), menginjeksi energi baru kepada dosen dan karyawan UMM. Malik memberi pengajian umum sebagai salah satu wujud dari pembinaan Al Islam dan Kemuhammadiyahan di UMM. Kegiatan berlangsung di Ruang Sidang Senat dan Auditorium BAU. Dalam penyampaianya, Malik menyampaikan bahwa Kampus Putih besar karena inspirasi yang dilahirkan darinya. Ditegaskan Malik, kepala unit, karyawan, dosen hingga kalangan akar rumput juga mesti memberi inspirasi antara satu dengan yang lainnya. Memberi inspirasi itu, kata Malik, bisa berupa hadirnya figur-figur inspiratif, sepak terjang yang positif, juga langkah-langkah yang menginspirasi. “Inspirasi inilah yang mesti ditumbuh kembangkan di lingkungan kita. Sama halnya juga di keluarga kita. Kita juga mesti menumbuhkan inspirasi. Inspirasi itu tumbuh di ruang kerja, ruang kelas, juga apa-apa yang kita jalani sehari-harinya,” ungkapnya. Demikian Rektor UMM juga pada hari ini, untuk kesekian kalinya, menerima ASEAN Energy Award 2018 dengan kategori ASEAN Best Practices Competition for Energy Efficient Buildings sub kategori Tropical Building. Banyak kampus yang lebih dulu besar. Namun begitu, sebut Malik, kiprahnya sedikit saja bahkan tidak sedikitpun memberikan inspirasi bagi sekitarnya. Terlebih bagi dunia pendidikan pada khususnya. “Seluruh pejabat struktural harus memberikan inspirasi, tidak hanya di unitnya, tapi juga ditingkatan universitas, juga jika memungkinkan di tingkatan yang lebih luas lagi,” pesannya. “Bagaimana seorang pemimpin unit, pejabat struktural, dosen dapat memberikan inspirasi bagi unit kerja dan lingkungannya. Yakni lewat cara memotivasi, bersikap ramah, tidak egois. Juga selalu menyebarkan virus-virus energi positif. Tak kalah penting, berinteraksi dengan lainnya,” tutur Malik. Demikianlah prinsip ini merupakan perwujudan komitmen yang telah dicanangkan UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. Tak kalah penting, seorang pemberi inspirasi harus mampu membaca tanda-tanda zaman. Yang dimaksud membaca tanda-tanda zaman, kata Malik, adalah ia yang melihat segala sesuatu secara optimis. “Contohnya, dulu ketika Kampus III ini dibangun, tidak ada yang berpikir bahwa kemudian kampus ini bakal menjadi sebesar ini. Mereka cuma bisa bilang, tanah kayak gini (tidak strategis, kontur tanah buruk, red.) kok dibeli,” ceritanya. Inspirasi itu dapat muncul, sambung Malik, jika kita senantiasa berpositif thinking atau berpikiran positif. Dalam istilah lain, kita senantiasa berpikir huznudzon atau berprasangka baik. Dengan berprasangka baik, kita bakal melahirkan cinta. Karena cinta lah yang lantas melahirkan komitmen-komitmen positif. “Kampus ini besar karena kaya akan inspirasi. Inspirasi melahirkan imajinasi yang berwujud mimpi dan pikiran-pikiran besar,” pungkasnya. (can)