Dosen HI UMM Jadi Dosen Tamu di 3 Kampus Taiwan

UNTUK kali ketiga, dosen Ilmu Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Toni Dian Effendi, M.Si, pergi ke Taiwan sejak pertama kali pada tahun 2015 sebagai peneliti tamu di Institute of International Relations, National Cheng Chi University. Toni memperoleh program penelitian Taiwan Fellowship yang disponsori Pemerintah Taiwan. “Meskipun basis penelitian saya ada di Taipei, namun dalam proses penelitian saya juga melakukan wawancara sampai ke wilayah selatan di daerah Kaohsiung,” terang Toni saat diwawancarai Senin (30/10). Pada saat itu, Toni melakukan wawancara di tiga tempat yaitu di National Kaohsiung Normal University, National Sun Yat Sen University dan organisasi TASAT atau Trans Asia Sister Association in Taiwan. “Saat itu memang topik penelitian saya yakni tentang hubungan people-to-people di antara masyarakat Indonesia dan Taiwan,” terang Tony. Selepas kembali ke Indonesia, Toni melanjutkan jaringan dan pertemanan dengan beberapa orang yang ditemuinya di Taiwan. Hasil dari kegiatan ini kemudian ditindaklanjuti dengan digagasnya kegiatan KKN Internasional mahasiswa HI UMM ke Taiwan pada tahun 2017. “Kegiatan ini didukung oleh MPA atau Meinong People’s Association di mana saat itu mahasiswa KKN melakukan kegiatannya di Meinong, Kaohsiung. Sebelumnya, delegasi dari MPA berkunjung ke Malang termasuk juga ke kampus UMM,” tuturnya. Pada pertengahan tahun 2018, delegasi dari MPA kembali datang ke Malang bersama dengan beberapa anak muda yang memainkan musik tradisional Ba In di UMM. Pada saat itu mereka juga mengikuti upacara bendera peringatan kemerdekaan Indonesia di UMM. Pada bulan Oktober 2018 ini, beberapa kolega Toni di Taiwan kembali mengundangnya untuk datang ke Taiwan, khususnya di Kaohsiung dan Meinong. Pada awalnya Professor Lee Leong Sze dari National Kaohsiung Normal University mengundang Toni untuk memberikan kuliah tamu di kampusnya. “Namun dalam perkembangannya ada 2 kampus lagi yaitu National Sun Yat Sen University dan Meiho University yang juga mengundang saya untuk berbagi penelitian yang saya lakukan. Dalam kegiatan kuliah tamu ini saya diundang untuk berbicara terkait dengan perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Memang selain kajian HI di Asia Timur dan Diplomasi, kajian masyarakat Tionghoa menjadi minat penelitian saya.” jelasnya. Kuliah tamu pertama dilaksanakan di National Kaohsiung Normal University pada 23 Oktober 2018, di mana Toni menyampaikan kuliah bertopik tentang “Chinese Indonesian Identity and Culture Expression in Post Reform Indonesia”. Pada topik ini, selain bercerita tentang masyarakat Tionghoa pasca reformasi, Toni juga menceritakan bagaimana citra tentang Tionghoa yang muncul dalam beberapa film di Indonesia. Kuliah tamu kedua dihelat di National Sun Yat Sen University pada 24 Oktober 2018, di program Graduate Institute of Sociology. Toni juga menyampaikan topik tentang Tionghoa dalam beberapa publikasi buku di Indonesia pasca reformasi. “Awalnya dikampus ini saya agak nervous karena kampus ini adalah salah satu kampus terbaik di Taiwan dan saya mengetahui beberapa orang yang hadir dalam presentasi saya adalah beberapa profesor yang terkenal dan juga hadir seorang profesor Indonesianist,” ceritanya. Namun karena suasana pertemanan dalam konteks akademik yang hangat, Toni justru sangat bersyukur karena dapat berbagi dan berdiskusi dengan mereka serta mendapatkan banyak pengetahuan tambahan yang penting dalam penelitiannya. Jika di National Kaohsiung Normal University dan National Sun Yat-Sen University, kuliah tamu dihadiri oleh mahasiswa pasca sarjana dan beberapa profesor, kuliah tamu di Meiho University pada 25 Oktober 2018 dihadiri oleh mahasiswa S1 dan beberapa orang dosen. Kuliah tamu di Meiho University ini menjadi menarik karena Toni dapat berjumpa dengan mahasiswa S1 semester 1 dan 3 dengan ekspresi dan diskusi yang hangat. “Saya sangat beruntung dalam kesempatan ini karena selain dapat berbagi, juga mengetahui bagaimana mahasiswa S1 di Taiwan. Ini adalah kali pertama saya datang ke Meiho University yang terletak di Beipu, Pingtung, Taiwan Selatan,” ungkapnya. (*)
Geser ITB dan IPB, Dosen UMM Juara Pertama Dosen Berprestasi Tingkat Nasional

BARU saja menyabet 2nd Runner-up ASEAN Best Practices Competition untuk kategori Bangunan Hemat Energi pada penganugerahan ASEAN Energy Award 2018, UMM kembali mendapatkan kado kedua. Kali ini hadiah tersebut datang dari seorang Djoko Sigit Sayogo, S.E., M. ACC., Ph.D. Ia meraih Juara Pertama dalam perhelatan pemilihan finalis Dosen Berprestasi Tingkat Nasional bidang Sosial Humaniora dari Kemenristekdikti, Senin (29/10). Djoko yang telah memiliki 9 publikasi bereputasi internasional ini, pada tahap presentasi disanding dengan delapan finalis lainnya. Delapan finalis tersebut, lima berasal dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan tiga sisanya dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Setiap finalis diberi waktu 15 menit untuk menyampaikan filosofi riset, pengajaran dan pengabdian, menjelaskan terkait risetnya dan prestasi-prestasi yang telah dicapai dengan riset tersebut. Saat presentasi, Djoko menuturkan, ia diuji terkait kebermanfaatan risetnya bagi negara dan masyarakat. Pria yang menjabat sebagai Wakil Direktur III Bidang Hilirisasi & Komersialisasi Hasil Penelitian dan Pengabdian DP2M UMM ini, mengaku sangat bangga saat diuji hampir tiga puluh menit oleh dewan juri. Di bidang Sosial Humaniora, Djoko menyisihkan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). “Saya menjelaskan bagaimana kita dapat mengurangi information asymmetry (pihak penjual yang memiliki informasi lebih banyak tentang produk dibandingkan pembeli, red.) dan meningkatkan trust (kepercayaan, red.) dengan memfasilitasi konsumen melakukan penelusuran informasi sepanjang rantai suplai produk melalui teknologi informasi,” terang Djoko yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini. UMM memiliki Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI) yang menyediakan intensif khusus bagi mereka yang jurnalnya diterbitkan di jurnal internasional bereputasi atau terindeks Scopus. Meski begitu, sebut Wakil Rektor I yang membidangi akademik, Prof Syamsul Arifin MSi, budaya prestasi dosen UMM ini tidak hanya dinilai dari torehannya di bidang akademik, melainkan juga singgungannya dengan bidang Sumber Daya Manusia (SDM). Syamsul menyebut bahwa pihaknya terus mendorong seluruh dosen UMM untuk terus memacu prestasi publikasi di jurnal bereputasi internasional. “Terus terang, raihan Pak Djoko ini melebihi ekspektasi kami. Ke depan, materi ajar yang disampaikan dosen seharusnya merupakan hasil riset yang telah dikerjakan dirinya. Demikian yang kita sebut sebagai dosen berkompetensi,” tukasnya. (*)