Okky Madasari Serukan Muatan Narasi Wacana Kritis di Tiap Karya Sastra untuk Perangi Ekstrimisme

PENULIS kenamaan Indonesia, Okky Madasari, mengisi kajian pekanan Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang (PSIF UMM), Jumat (02/18). Melalui tema “Sastra, Agama & Perdamaian”, Okky memaparkan pergerakan zaman di era milenial ini yang dikendalikan oleh narasi. “Apalagi di era setelah ’98 (reformasi, red.), kebebasan berpendapat sudah dijamin Negara. Secara hukum, masyarakat sudah tidak lagi dibayang-bayang ancaman sensor dan pemberedelan,” jelas penulis novel best seller “Maryam” itu. Momentum ini juga ditandai dengan mudahnya tiap orang mengakses informasi. Namun begitu, Okky meresahkan dengan atmosfer kebebasan ini, justru banyak buku-buku yang digandrungi adalah buku dengan genre bermuatan narasi wacana simbolik. Ia mengambil contoh buku Ayat-Ayat Cinta. Novel ini sangat digandrungi hingga naik cetak 160 ribu eksemplar dalam kurun tiga tahun. “Novel yang dilabeli sastra Islami seperti itu membentuk standar bagaimana novel islami itu. Akhirnya banyak yang meniru,” papar Okky. Novel-novel seperti itu, sambung Okky, hanya mengulik nilai-nilai ke-Islaman di permukaan saja. Karena kerap kali yang ditunjukan terkait ke-Islamannya hanyalah sebatas simbol, seperti salam, sholat, dan ritus ibadah rutinan lainnya. Demikian, dinilai Okky, novel-novel seperti itu kehilangan roh keIslamannya dan tidak memberikan wacana kritis. “Saya akhirnya menggali akar budaya seperti itu darimana datangnya. Akhirnya saya mendapatkan jawaban, yaitu berawal dari novel-novel Buya Hamka,” papar okky. Buya Hamka tidak diragukan lagi keulamaannya, namun ia memilih model novel-novel demikian karena berada di bawah tekanan kolonialisme yang menekan narasi-narasi tentang semangat perjuangan. “Ya, wajar kalau Buya Hamka memilih gaya seperti itu agar masih bisa bersuara tanpa harus ditekan. Kan Buya Hamka punya alasan, kalau penulis jaman sekarang apa alasannya?” lanjut Okky. Di jalur kepenulisan yang dipilihnya, Okky memilih untuk tetap memberi sajian narasi dengan sentuhan wacana kritis untuk mengkritisi label Islam simbolik. Menurutnya, dengan memberi sajian narasi wacana kritis, seorang penulis dapat melawan hegemoni narasi wacana Islam simbolik. “Wacana kritis seperti ini harus dibawa ke ranah yang lebih luas ke dalam masyarakat,” tegas Okky. “Sastra dan narasi yang membentuk perdamaian itu adalah narasi yang memberi wacana kritis dan tidak dogmatis yang hanya membuat orang setuju, tapi tidak tahu apa yang disetujui,” jelas Okky. Menurutnya mulai sekarang, para penulis harus berpacu dan berani memberi sentuhan wacana kritis di tiap karya yang ditelurkannya. “Kita harus merebut ruang pembaca dan merubah pola pikir mereka untuk berani mengkritisi dan menghindari gagasan dogmatis agar, tidak mudah terjebak radikalisme yang berujung ekstremisme,” pungkasnya. (usa/can)
Sosialisasi Kebijakan Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi 3.0 Digelar di UMM

PERMENRISTEKDIKTI No. 32/2016 mengamanatkan agar Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) mengembangkan instrumen akreditasi yang relevan dengan pengembangan sektor Pendidikan Tinggi di Indonesia dan mengikuti perkembangan global. Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT), terang Kepala Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. H. Ainur Rofiq, M.Kes., harus dikembangkan dengan memperhatikan keragaman model PT dan misi institusi yang tercermin dari program akademik yang dikembangkan. Berdasarkan Permenristekdikti No. 32/2016 dan Peraturan BAN-PT No. 2 Tahun 2017 tentang Sistem Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi, BAN-PT telah mengembangkan Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi versi 2018, yang secara singkat ditulis IAPT 3.0. Sementara, instrumen akreditasi program studi yakni APS 4.0. IAPT 3.0 menggunakan 9 kriteria yaitu Visi, Misi, Tujuan dan Strategi; Tata Pamong, Tata Kelola, Kerjasama; Mahasiswa; Sumber Daya Manusia; Keuangan, Sarana, Prasarana; Pendidikan; Penelitian; Pengabdian kepada Masyarakat; Luaran dan Capaian Tridharma. “Instrumen itu secara keseluruhan mengukur tingkat ketercapaian dan pelampauan Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan standar yang ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi,” demikian diterangkan Ainur Rofiq saat sosialisasi kebijakan Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi 3.0, Sabtu (3/11). Hadir sebagai narasumber, Dewan Eksekutif BAN-PT Prof. Dr. Ir. S.M. Widyastuti, M.Sc., serta Tim Penyusun Instrumen APT 3.0 dan APS 4.0 BAN-PT Saepudin Nirwan, S.Kom, M.Kom. Sosialisasi penyusunan laporan evaluasi diri dan laporan kinerja perguruan tinggi yang diselenggarakan UMM ini bekerjasama dengan BAN-PT dan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa). Selain itu, dalam kesempatan ini juga dilakukan penyerahan sertifikat ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA) oleh rektor UMM yang diwakili Wakil Rektor 1 yang membidangi akademik, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., kepada Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi, Prodi Manajemen, dan Prodi Peternakan. Dengan diserahkannya sertifikat AUN-QA itu, ketiga Prodi ini telah mendapatkan pengakuan untuk memiliki keselarasan, terutama dalam bidang jasa pendidikan dan jaminan mutu di tingkat Asia Tenggara. Disampaikan Syamsul, pada level nasional UMM sudah 10 tahun berturut-turut memperoleh Anugerah Kampus Unggul (AKU) Kopertis VII Jawa Timur dan juga akreditasi institusi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Selanjutnya, UMM ingin berkompetisi di level Internasional. “Sertifikasi yang diperoleh UMM pada level ASEAN tersebut nantinya akan meningkatkan pengakuan serta kompetisi mahasiswa dan alumni, terutama di level ASEAN,” pungkas Syamsul. Acara ini turut dihadiri Perguruan Tinggi Asuh Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dan Universitas PGRI Ronggolawe (Uniro). Juga, seluruh perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Jawa Timur. (*)
UMM Borong Medali di Kejuaraan Provinsi Taekwondo Indonesia

DUA BELAS atlet dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih 5 medali emas, 5 medali perak, dan 2 medali perunggu dalam ajang Kejuaraan Provinsi Taekwondo Indonesia di Ngawi, Jawa Timur, (28/10). Tahun ini, UMM mencatatkan raihan gemilangnya sejak rutin mengirim atletnya. “Tahun lalu hanya mendapatkan 2 emas dan 1 perak. Kita bersyukur tahun ini dapat perolehan 12 medali. Senang dan bangga dapat membawa nama UMM dalam kejuaraan ini,” terang Hadi Nugraha, ketua umum UKM Taekwondo UMM. Ajang kali ini mempertandingkan 2 nomor pertandingan, yaitu Kyoerugi dan Poomsae. Kyoerugi sendiri menggunakan bagan pertandingan dengan sistem gugur. Sedangkan Poomsae merupakan nomor yang menonjolkan teknik gerakan. Di nomor ini, peserta Poomsae melakukan battle keindahan gerak. Selain latihan regular 2 kali dalam seminggu, para atlet juga mengikuti training center yang sudah berlangsung selama satu bulan setengah sebelum kejuaraan. Mereka juga selalu menjaga berat badannya, agar saat penimbangan sesuai dengan kelas yang mereka ikuti. Saat ini mereka tengah mempersiapkan 20 atletnya untuk menghadapi kejuaraan UM Cup akhir November nanti. “Kedepannya kami akan meningkatkan lagi dan terus mencari atlet-atlet yang berpotensi untuk didelegasikan pada kejuaraan-kejuaraan yang akan datang,” imbuhnya. 12 mahasiswa peraih medali: 1. Faisal Burhanudin – Medali emas Poomsae pemula 2. Yogi Wahyudi – Medali emas Gyeorugi U-52 pemula 3. Muhammad Kadhafi – Medali emas Gyeorugi U-55 pemula 4. Lili Ernawati – Medali emas Gyeorugi U-40 pemula 5. Putri Pratiwi Rundju – Medali emas Gyeorugi U-49 pemula 6. Bima Al-Furqon – Medali perak Gyeorugi U-59 pemula 7. Gavra Dharmmesta Yusuf – Medali perak Gyeorugi U-47 Pemula 8. Muhammad Kautsar Khalifatullah – Medali perak Gyeorugi U-74 Senior 9. Hadi Nugraha – Medali perak Gyeorugi U-87 Senior 10. Farah Aulia Rahmah – Medali perak Gyeorugi U-87 Senior 11. Yolan Dwi Frianto Nugroho – Medali perunggu Gyeorugi U-54 Senior 12. Muhammad Luqman Hakim – Medali perunggu Gyeorugi U-68 Senior