BKMA Bekali Dosen Muda Paradigma Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0

SEBANYAK 51 dosen muda Universitas Muhammadiyah Malang mengikuti pelatihan Peningkatan Keterampilan Teknik Instruksional (PEKERTI). Pelatihan ini diadakan di ruang rapat senat dan berlangsung 6 -7 November 2018. Pelatihan ini sejalan dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi utamanya Pasal 4 bahwa Pendidikan Tinggi memiliki beberapa fungsi. Salah satunya yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat untuk mencerdaskan bangsa. Untuk mewujudkannya, Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA) menyelenggarakan pelatihan bagi dosen muda. Peserta pada pelatihan ini diharapkan dapat menyampaikan pembelajaran masa kini yang mengarah kepada Era Revolusi Industri 4.0. “Dosen memiliki porsi yang sangat strategis untuk melakukan standarisasi proses pembelajaran. Dengan pelatihan ini, diharapkan dosen dapat mentranformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmunya. Sehingga mahasiswa dapat lulus tepat waktu dengan kualitas yang bagus,” terang Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si dalam sambutan pembukaannya. Ada 9 materi pokok yang disampaikan dalam pelatihan ini, yaitu penguatan kompetisi kinerja dosen, kebijakan pengembangan sumber daya manusia, kebijakan mutu akademik, grand theory pembelajaran, pengembangan bahan ajar, sumber belajar dan media, strategi dan metode pembelajaran, perencanaan pembelajaran dan KPT, rancangan pembelajaran berbasis IT serta evaluasi pembelajaran. Materi ini juga disampaikan oleh fasilitator-fasilitator yang berkompeten dan tidak hanya pada tingkat nasional saja. Di antaranya Prof. Dr. Ir. Noor Harini, M.S., Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., Dr. Iin Hindun, M.Kes., Dr. Siti Fatimah Sunaryo, M.Pd., Galih Wasis Wicaksana, S.Kom., M.Cs, dan Dr. Endang Poerwati, M.Pd. “Pembelajaran yang diharapkan setelah ini adalah pembelajaran yang sesuai dengan paradigma perguruan tinggi masa kini, yang tidak lagi hanya berfokus kepada dosen. Di era revolusi industry 4.0 ini, mahasiswa menjadi sentral dalam pembelajaran,” ujar Kepala BKMA UMM, Dr. Muslimin, M.Si. dalam kesempatan yang sama. Peserta tidak hanya dibekali dengan penguatan materi dalam dua hari saja, akan tetapi juga melakukan praktik aktivitas pengajaran di kelas. Praktik ini akan dilaksanakan dalam satu bulan ke depan dengan pengarahan, pengawalan dan pengawasan dari fasilitator BKMA UMM. (bel/can)

Kenalkan Terapi Gen Bagi Penderita Kanker, Mahasiswa FK UMM Ini Menangi Kompetisi Penulisan Artikel Nasional

PRIHATIN dengan mahalnya biaya kemoterapi bagi penderita kanker, Radya Kusuma Ardianto dan Muhammad Mufti Al Anshori, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) berhasil memenangkan kompetisi penulisan artikel ilmiah tingkat nasional. Kolaborasi mahasiswa semester 3 dan 7 ini mampu menarik perhatian juri atas artikelnya mengenai terapi gen untuk efektifitas penyembuhan penderita kanker. Artikel yang ditulis Radya dan Mufti memenangi ajang Biology Open House For Environmental Recognition (BIOSFER) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya beberapa waktu lalu. Dijelaskan Radya saat diwawancarai Selasa (6/11), di Indonesia sendiri penanganan terhadap pasien kanker hanya kemoterapi saja. Sementara, metode ini memakan biaya yang teramat mahal, karena tidak bisa sekali pengobatan. Dalam artikelnya itu, Radya dan Mufti memperkenalkan pengobatan dengan Terapi Gen, yaitu menyuntikan gen P53 yang merupakan ‘malaikat penjaga’ gen kepada pasien untuk menggantikan gen P53 yang tidak berfungisi secara normal. Sehingga tidak bisa memperbaiki sel-sel yang rusak,” papar Radya. Dengan begitu, sambung Radya, gen P53 pengganti tersebut bisa bekerja untuk memperbaiki sel-sel yang rusak. “Nah, untuk mengganti gen P53 ini perlu ‘kendaraan’. Kendaraan yang saya kemukakan di artikel saya itu menggunakan virus, namanya Adenovierus. Virus itu tepat sasaran karena langsung menginfeksi sel. Namun yang kita pakai hanya bungkusnya saja, penyakit berbahayanya sudah dihilangkan terlebih dahulu,” jelas Radya. Medis di Indonesia dinilai Radya sudah cukup tertinggal. Di Indonesia pengobatan semacam ini belum diterapkan, atau bisa jadi, masih dalam tahap penelitian. Ketika di Indonesia masih Symtomatik (bergantung kepada obat), di luar negeri sudah mendalam hingga tahap molekuler atau langsung menyasar kepada akar permasalahannya. “Ada atau tidaknya pengobatan seperti ini itu berawal dari kita siap atau tidak. Awalnya kita mengajukan ide-ide seperti ini untuk menyiapkan. Ketika Indonesia sudah siap secara mental, mungkin bisa diimplementasikan meskipun ini harus menempuh waktu yang lama dan biaya yang mahal,” kata Radya. Radya menambahkan, ketika seseorang terkena kanker, maka daya produktifitasnya menurun sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana manusia normal lainnya. Ketika tidak bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, maka keluarganya lah yang akan menanggung pengobatannya. Hal ini membuat pasien ketergantungan kepada keluarga dan obat dengan waktu yang cukup lama. “Kita harus mulai mengobati pasien dengan sistem holistic-komprehensif, yaitu pengobatan secara menyeluruh hingga sampai kepada kondisi ekonomi, produktifitas, dan kesehatan pasien. Bukan begitu sembuh langsung beres. Tapi aspek-aspek lain juga harus dipikirkan,” pungkas Radya. (usa/can)