Juarai Peksiminas Kemenristekdikti, Mahasiswa Hukum UMM: Dangdut Ada Dalam Jiwa Ini

MAHASISWA Fakultas Hukum UMM, Mochammad Abdul Wahid baru-baru ini diumumkan sebagai juara pertama pada tangkai lomba nyanyi tunggal dangdut dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) ke- 14 Oktober lalu. Acara yang digelar di Yogyakarta ini menjadi titik kebahagiaan pria yang akrab disapa Wahid tersebut. Bagaimana tidak, pada tahun sebelumnya, acara yang digelar Kemenristekdikti ini, ia harus puas pada posisi juara 2 nasional. Pria yang bercita-cita menjadi penegak hukum tersebut mengaku menseriusi karir menyanyinya sejak kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA). Wahid seringkali tampil di kontes Dangdut regional hingga nasional. Beberapa kali pula tampil di acara televisi, seperti I Can See Your Voice, Kilau Dangdut Mania Dadakan (DMD) dan Tarung Dangdut di JTV. Dalam Peksiminas 2018, Wahid bertemu dengan berbagai perwakilan perguruan tinggi negeri dan swasta yang mewakili provinsinya masing-masing. Wahid saat diwawancara Kamis (15/11), mengaku penampilan dari masing-masing regional teramat baik. Setiap sesinya, kata Wahid, jadi momen sangat mendebarkan bagi dirinya. Wahid menyiapkan diri dengan matang jauh hari sebelum kompetisi yang ia ikuti. Baginya, latihan bukan hanya ketika akan mengikuti kompetisi. Latihan adalah sebuah kegiatan rutin untuk terus mengasah kemampuan. Pria asal Sidoarjo Jawa Timur ini mengaku memfavoritkan aliran musik Pop, Rock, Metal dan Sholawat. Ketika ditanya mengapa dangdut tak masuk dalam daftar aliran musik yang disenangi, ia menjawab, “Dangdut tidak perlu ditanyakan, ia sudah ada dalam jiwa ini,” disusul gelak tawa. Wahid berbagi tips agar selalu prima dalam setiap performance. “Kuasai materi sebaik mungkin. Bila bernyanyi maka maksimalkan latihan lagu tersebut dan ulik sedalam mungkin,” ujar mahasiswa yang kini serius membesarkan Unit Kegiatan Mahasiswa Musabaqah Tilawatil Quran UMM. (Humas UMM)
Ilyas Masudin Jadi Dosen Pertama UMM yang Tersertifikasi ASEAN Engineer

ILYAS MASUDIN, ST., MLogSCM., Ph.D., dosen Program Studi Teknik Industri (Prodi TI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi dosen pertama yang mendapat status sebagai ASEAN Engineer. Lisensi itu diterima Ilyas saat menghadiri konferensi ke-36 The ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO 36) di Singapura,12-14 November 2018 lalu. CAFEO 36 mengukuhkan penghargaan kepada sejumlah insinyur Indonesia yang berasal dari dunia industri maupun institusi pendidikan. Lisensi itu diraih Ilyas setelah melewati beberapa seleksi oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Salah satu seleksi, yakni keterlibatan calon delegasi pada beberapa proyek dalam kurun waktu dua tahun. “Pada ajang ini saya diseleksi beberapa hal dan yang paling utama adalah saya harus memiliki proyek yang sudah dikerjakan,” paparnya. Sementara itu, Ilyas yang juga alumnus TI UMM ini telah menjadi bagian dari tiga proyek besar yang berhubungan dengan konsentrasinya di TI. Yakni Optimasi Sistem Industri. Pria yang menyelesaikan pendidikan doktoral pada bidang Logistics di Royal Melbourne Institute of Technology University (RMIT University) ini, mengajukan tiga proposal penelitiannya. Yakni proyek Manajemen Mikrohidro, proyek pengabadian masyarakat, dan proyek Halal Logistik yang bekerjasama dengan salah satu institusi pendidikan di Australia. Sertifikasi ini dapat menjadi jalan dibukanya jalur kerjasama UMM, khususnya untuk Prodi Pendidikan Profesi Insinyur dengan berbagai pihak di ASEAN. Pengakuan ini sekaligus memperkuat legitimasi UMM untuk menjalankan Program Studi Pendidikan Profesi Insinyur (PSPPI). UMM sebagai salah satu perguruan tinggi yang memperoleh kepercayaan dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 200 / KPT / I / 2017 Tentang Pembukaan Program Studi Pendidikan Profesi Insinyur. “PSPPI bertujuan mendukung program Pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan tenaga kerja profesional keinsinyuran sesuai dengan amanat Undang – indang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran,” terang Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Wakil Rektor I UMM yang membidangi Akademik. UMM menyelenggarakan program studi PSPPI, sambung Syamsul, dalam rangka menghasilkan SDM yang profesional di bidang keinsinyuran dan berguna untuk mendukung lima pilar ekonomi ASEAN dalam memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN / ASEAN Economi Community (MEA / AEC). (nis/can)
BEM FISIP Gelar Seminar untuk Tingkatkan Potensi Diri Mahasiswa

SETIAP perempuan merupakan pribadi unik yang dilahirkan dengan potensinya masing-masing. Tidak dipungkiri, semakin banyak perempuan yang merambah dan menancapkan eksistensinya di berbagai bidang kehidupan. Namun tak jarang pula perempuan yang masih bingung dengan hidupnya dan belum menyadari potensi dalam dirinya. Oleh karena itu, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) bekerja sama dengan Wardah Beauty menggelar seminar dan inspiring talkshow “Wardah Bright Days”, Selasa (13/11). Acara ini bertema “How To Be Bright and Be Ready With Your Own Personality”. Kegiatan yang dilaksanakan di Mini Theater Dome UMM ini, menghadirkan M. Salis Yuniardi,S. Psi,M. Psi,PhD., Dekan Fakultas Psikologi UMM; Lulu Elhasbu, Spokesperson Wardah Beauty; dan Chiki Fawzi, Spokesperson Wardah Beauty sebagai pembicara. Salis menjelaskan bagaimana pentingnya memaksimalkan potensi diri sebagai generasi muda. Ada tiga cara untuk memaksimalkan potensi diri. Yaitu kenali potensi, menerima diri sendiri dan dapat menghargai diri. “Untuk menjadi seseorang yang bersinar, kenali dirimu, kenali passionmu, enjoy terhadap yang kita lakukan dan jadilah dirimu seutuhnya. Maka tidak hanya bersinar yang akan kalian dapat, tapi juga sehat,” tutup Salis dalam matrinya. Selain itu, Lulu dan Chiki memberikan banyak motivasi bagaimana membangun mindset positif, mengenal diri sendiri dan membagikan ceritanya bagaimana perjalanan mereka mengembangkan potensinya. Untuk mencapai titik kesuksesannya, diceritakan Chiki, tidaklah mudah. Banyak sekali perjalanan yang mereka lalui. Mulai dari susahnya mengikuti kemauan lingkungan, hingga dapat menjalankan apa yang diinginkan diri sendiri. “Profesional bukan berarti kita mengikuti apa yang diinginkan orang lain, akan tetapibagaimana cara kita berkomitmen dengan etika yang baik,” ujar Lulu Elhasbu disela talkshow. Setelah sesi seminar dan talkshow, peserta dapat mengikuti pengecekkan kulit dan kegiatan beauty class tentang cara make-up natural, dipandu pihak Wardah. Tidak hanya itu, dalam acara ini juga diadakan audisi presenter TV Mu yang dapat diikuti oleh seluruh peserta dan mahasiswa UMM. (bel/can)