Kembali Targetkan Juara Umum, Surya Team UMM Siap Berlaga di KJI dan KBGI di Makassar

KOMPETISI Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) akan diadakan di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Makassar akhir November ini. Tiga tim di bawah naungan LSO Surya Team dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil lolos menjadi finalis. Mereka adalah Tim Red Jaeger pada kategori Jembatan Canai Dingin, Tim Naraya pada Kategori Jembatan Busur dan Tim Kwangwung pada KBGI. Saat pelepasan para finalis Senin siang (11/19) Ir. Chairil Saleh, MT, Pembina LSO Surya Team menerangkan bahwa persiapan UMM sudah matang. “Hari ini kita adakan simulasi untuk lebih memaksimalkan persiapan kompetisi,” jelasnya. Keikutsertaan UMM untuk kesekian kalinya, sejak tahun 2002 Surya Team terbentuk di bawah jurusan Teknik Sipil. Namun ini adalah tahun kedua bagi Surya Team semenjak menjadi LSO di Fakultas Teknik. Di bawah bimbingan Chairil, para finalis tak hanya dibekali teknis membangun rancangan. Namun juga pelajaran tentang rasa tanggung jawab dan kekompakan. Bagi Chairil, sebuah kekompakan untuk meraih juara teramat amat penting. “Saya ingin setiap tim punya kekompakan yang baik. Jangan sampai saling menyalahkan. Namun bersedia menghadapi setiap rintangan bersama,” tukasnya. Chairil juga berharap agar UMM dapat mendulang suksesnya kembali tahun ini. Ketiga tim UMM dinyatakan sebagai finalis setelah proposalnya lolos tahap proposal yang diajukan sebelumnya. “Nantinya, yang menjadi penilaian bukan kecepatan dalam menyelesaikan setiap rancangan. Tetapi kesesuaian wujud yang dibangun dengan proposal yang sudah diajukan sebelumnya,” tutur Chairil. Penilaian juga dilihat dari ketepatan waktu. Bila terlalu jauh rentang waktu yang sudah dicanangkan dengan waktu penyelesaian, maka juga akan mempengaruhi nilai. Sebelumnya di tahun 2014, UMM telah lebih dulu menorehkan prestasi gemilang dalam KBGI di Universitas Kristen Maranatha, Bandung. UMM berhasil menggondol Juara Umum, menggeser dominasi juara bertahan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan tim tuan rumah. Di tahun berikutnya (2015), UMM terpilih menjadi tuan rumah. Tahun ini (2018), UMM kembali targetkan gelar Juara Umum. Tahun 2015 merupakan penyelenggaraan KJI yang ke-10, sedangkan KBGI yang ke-6. Sejak pertama kali diselenggarakan keduanya selalu diadakan di kampus negeri. UMM menjadi tuan rumah pertama dari kalangan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Bukan kali ini saja, UMM juga dipilih menjadi PTS pertama tuan rumah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) tahun 2006 serta Kontes Robot Indonesia (KRI) tahun 2010. Perebutan Piala Reka Cipta Griya Indonesia dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti RI saat itu berjalan cukup kompetitif. UMM harus bersaing dengan 32 proposal yang masuk dan menjadi 10 finalis yang harus presentasi di Bandung. Mengandalkan bangunan miniatur bernama “Candra Surya”, UMM berhasil menyingkirkan dominasi kesembilan finalis dari berbagai kampus besar di Indonesia, seperti ITS, ITB, UB, dan Politeknik Bandung. (mir/can)

Kirim 2 Tim ke KMHE 2018, UMM Kembali Targetkan Tiga Besar

DUA TIM dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Tim Mekatronic dan Tim Srikandi siap melesat di Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018 di Universitas Negeri Padang, 27 November hingga 1 Desember mendatang. Berkaca ke kontes yang diikuti tahun lalu, Shell Eco-Marathon Singapura, dua tim UMM semakin memantapkan mobilnya. Ajang bergengsi yang diselenggarakan Kemenristekdikti Republik Indonesia ini, tim Mekatronic mengandalkan kendaraan Genetro Suryo U.E.V 06 di kelas Mobil Listrik dan Tim Srikandi dengan kendaraan Hrusangkali Evo 01 di kelas Motor Pembakaran Dalam (MPD) Gasoline. Tahun ini, kedua tim menargetkan posisi 3 besar. “Kalau dulu kita tidak mempertimbangkan angin sebagai faktor yang mempengaruhi. Tapi ternyata angin itu menghambat kecepatan cukup besar. Untuk kali ini kita merubah total body agar bisa melaju maksimal,” ujar Mohammad Jufri selaku pembina. Jufri mengaku sudah mempersiapkan ajang KMHE dengan optimal, baik secara administratif maupun teknis. “Sebenarnya kami itu penasaran, karena kemarin kami kira sudah mantap. Tapi ternyata kita tidak mempertimbangkan faktor angin,” jelas Jufri berkaca kepada Shell Eco-Marathon yang mampu bertengger di empat besar. “Dengan persiapan yang lebih matang, mudah-mudahan bisa lebih meningkat lagi, minimal masuk tiga besar lah,” lanjut Jufri. Sementara pengemudi mobil Genetro Surya U.E.V 06, Renggi Ahmad Rimeldi mengaku mengalami sedikit kesulitan dalam mengendarai mobilnya. “Kesulitannya itu menyetel rem agar tidak ada gesekan sama sekali,” jelas Renggi. Dengan bisa mengendalikan rem secara maksimal, Genetro Surya U.E.V 06 bisa melaju dengan maksimal. Meski begitu, jelang lomba yang tinggal menghitung hari ini, Renggi dan kawan satu timnya itu sudah menemukan pemecahannya. (usa/nis/can)

Ikhwan Marzuqi: Jalan Menuju Kesuksesan Itu Sederhana

“SUKSES itu relatif. Setiap orang mempunyai definisi suksesnya masing-masing. Jadi tidak ada definisi pakem tentang apa itu sukses,” tegas Ikhwan Marzuqi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammdiyah Malang (FK UMM) angkatan 2015. Ikhwan tengah mengulas cuplikan isi buku yang baru-baru ini diterbitkannya, 50 Things That Bring You to Success. Bagi Ikhwan, langkah mencapai kesuksesan dimulai dari menemukan definisi suksesnya sendiri. Barulah, beranjak mengejar arti kesuksesannya itu. Namun demikian, diulas lebih dalam di buku terbitan PT Elex Media Komputindo itu, ketika mengejar sukses tidak hanya harus bekerja keras, namun juga harus bekerja cerdas. Buku ini membahas 50 hal yang menjadi resep kesuksesan bagi setiap orang. Salah satu contoh kerja cerdas, sambung Ikhwan, yakni mengawali segala sesuatu dengan ketulusan dan doa. Bukan usaha dulu baru doa. Melainkan, sebut Ikhwan, sejak menjalani proses sedari awal, tengah, dan akhir harus diiringi doa dan ketulusan. Ia menilai, kebanyakan orang seringkali memposisikan doa di akhir setelah usaha. “Menurut saya itu kurang tepat, karena sudah memposisikan sang pencipta (Allah SWT, red.) nomor dua setelah usaha kita. Jadi harus selalu dalam kondisi berdoa agar kita tetap berjalan dalam bimbingannya,” lanjut pria yang pada tahun 2017 juga menerbitkan buku Spiritual Enlightenment: Kenali, Cintai dan Sayangi Pencerahan Spiritual. Sukses menurut definisi Ikhwan, yakni bisa menikmati hidup dengan kondisi yang kita punya. Bisa bahagia, bisa damai, dan tenang dengan apapun yang sudah kita miliki. Ia mengatakan bahwa definisi kesuksesannya tidaklah muluk-muluk, asal dia bisa menikmati hidup yang dia punya. Dalam buku setebal 200an halaman itu, ia juga menyatakan bahwa dalam usaha mencapai kesuksesan, orang harus membiasakan hidup dalam kesederhanaan. Biasanya, sambung Ikhwan, agar ketika seseorang sudah sukses nantinya, ia tidak mengalami keterlenaan dan melakukan hal yang tidak perlu. Seseorang juga kerap merasa tidak cukup atas pencapaiannya, lantaran ia tidak mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. “Maka memiliki kesederhanaan agar bersyukur dengan setiap pencapainnya. Dan hanya menginginkan apa yang dibutuhkan. Rasa itu yang perlu dimiliki,” tandas Ikhwan. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Abd. A’la saat mengomentari buku Ikhwan menyatakan, kepiawaian penulis mendialogkan nilai-nilai Islam substantif dan nilai-nilai kemanusiaan universal, menjadikan buku ini bukan hanya mampu menjelaskan dan menggapai kiat-kiat meraih kesuksesan. Tapi juga makna hakiki keberhasilan dan kebahagiaan. “Lebih dari itu, karya Ikhwan dengan telak menggugat keberagamaan kita, tanpa harus menyinggung kita. Dalam ungkapan lain, kita merasa gagal atau sedih. Karena kita beragama hanya sebatas, lahiriah semata, keberagamaan kita harus holistik-transformatif,” pungkas Abd. A’la. (usa/can)

Setelah UGM, UMM Jadi PT yang Mengawali Kukuhkan Insinyur

GELARAN yudisium profesi Insinyur yang diselenggarakan di Gedung Kuliah Bersama IV Universitas Muhammadiyah Malang (GKB IV UMM), Sabtu (17/11), mengukuhkan setidaknya 7 Insinyur baru. Pengukuhan dilakukan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. M. Bisri, MS. “Di Jawa Timur ini baru pertama kali ada yudisium pengambilan sumpah Insinyur. Kalau di Indonesia itu pertama UGM, kedua baru UMM,” kata Bisri. Peraturan Menristekdikti  Nomor 35 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Program Studi insinyur memberikan mandat kepada 40 Perguruan Tinggi se-Indonesia untuk membuka PSPPI termasuk UMM. Melalui proses perkuliahan, mahasiswa PSPPI berhak menyandang gelar Insinyur atau “Ir.”. Setelah mendapat gelar Ir., mereka dapat  mengisi portofolio dan ujian yang diselenggarakan PII Pusat untuk mendapatkan gelar insinyur profesional pratama, insinyur profesional madya, dan insinyur profesional utama. Setelah mendapatkan gelar tersebut mereka diharapkan dapat bersaing dengan tenaga asing. Menurut Bisri, di Indonesia gelar Insinyur sangat sedikit. Dari sekitar 20-an ribu anggota PII, hanya 4300 orang saja yang bergelar Insinyur. “Saya menginginkan agar program Insinyur ini harus dipercepat. Karena kalau di sarjana teknik, kalau mau jadi insinyur harus menunggu dua tahun. Maka tidak heran jika pesertanya sedikit,” ujar Bisri. Selain itu Bisri juga menginginkan untuk diadakannya desain besar untuk jaminan lapangan pekerjaan untuk para sarjana. Menurutnya, harus ada data statistik yang jelas terkait keterbutuhan sarjana dan insinyur di pemerintah dan perusahaan. Dengan maksud agar perguruan tinggi bisa menyiapkan. “Banyak sekali lulusan yang tidak tepat sasaran karena ketidakjelasan peluang. Kita ngoyo-ngoyo menyiapkan mahasiswa agar bisa membangun negeri di bidangnya, anak teknik ketika lulus malah jualan pakaian, ini kan sia-sia,” tandasnya. (usa/can)