Tampil Maksimal, Dua Tim Jembatan UMM Sabet 4 Gelar Juara di KJI XIV Makassar

Nama Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggaung di penutupan Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XIV dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) X di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PUNP), Ahad (2/12) lalu. Mengirim dua timnya untuk KJI, UMM berhasil menyabet Juara 1 kategori Jembatan Canai Dingin dan Juara 3 kategori Jembatan Busur. Jembatan Canai Dingin yang diberi nama Tudang Sipulang ini memiliki keunikan berupa lendutan, atau perubahan rangka jembatan setelah diberikan beban, yang nilainya sangat kecil. Menurut Andre Oktavian Wijaya, salah satu anggota tim Red Jaeger, Tudang Sipulang hanya menghasilkan lendutan sebesar 2.175 mm dari angka maksimal untuk lendutan 15 mm. Hasil itu sekaligus menjadikan Tudang Sipulang sebagai juara Jembatan Terkokoh. “Karena setelah pengujian beban hidup di tengah bentang jembatan sebesar 400 kg, lendutan yang dihasilkan Jembatan Tudang Sipulung sangat jauh dari angka maksimal ledutan,” papar Andre. Tak berhenti di situ, tim Red Jaeger juga meraih juara pada kategori K3 Terbaik. Hal tersebut, diakui Andre, karena kelengkapan papan-papan peringatan konstruksi beserta pakaian keamanan yang dikenakan oleh seluruh anggota. Sementara itu, jembatan kedua dari Tim Naraya memiliki keunggulan sebagai jembatan ramah lingkungan. Diakui Harrys Purnama, jembatan yang ia rancang bersama dua anggota timnnya ini memasang panel surya pada ujung-ujung jembatan. Panel surya ini dapat menjadi energi listrik penerangan jalan pada jembatan saat malam hari. “Keunikan yang dimiliki oleh jembatan ini adanya panel surya yang digunakan untuk mengaliri listrik untuk penerangan jalan di jembatan,” jelas Harrys. Baru-baru ini juga, Fakultas Teknik UMM memenangi Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018 di Universitas Negeri Padang. Mekatronic Team UMM menyabet Juara 1 dalam Kategori Urban Listrik. Sementara tim puteri, Srikandi Team, memenangi gelar Juara pada kategori Desain Estetika Terbaik. Atas hasil tersebut, Rektor UMM Fauzan sangat mengapreasiasi capaian tersebut. “Saya sangat mengapreasiasi atas prestasi ini, semoga mereka semakin semangat untuk berkompetisi,” terang Fauzan. “Raihan ini tentu tidak membuat kami puas. Kami akan terus mempersiapkan mahasiswa kami untuk terus bisa berprestasi di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya. Diungkapkannya, UMM punya cara sendiri untuk mengapresiasi tiap raihan prestasi yang didapat mahasiswanya. Hal itu, sambung Fauzan, sesuai dengan moto prestasi UMM, “Tiada prestasi yang tak dihargai”. (nis/can)

Kolaborasi UMM-Kemlu RI, Helat Konsultasi Publik Terkait Isu Pekerja Migran

MALANG sebagai salah satu wilayah di Jawa Timur menjadi penyumbang tenaga kerja migran tertinggi di Indonesia. Menurut data BNP2TKI, selama periode Januari-Oktober 2018, sebanyak 53.525 Pekerja Migran Indonesia (PMI) berasal dari Jawa Timur. Malang, termasuk dalam 20 besar kabupaten dan kota asal PMI. Data itu disampaikan Riaz Januar Putra Saehu, Direktur Kerjasama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) pada acara Konsultasi Publik Perlindungan dan Promosi Hak-Hak Pekerja di ASEAN di Auditorium BAU, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (3/12). Berangkat dari tingginya minat masyarakat Indonesia bekerja di luar negeri, Riaz menyampaikan, terkait pemberian pelayanan kepada PMI Pemerintah akan meluncurkan kampanye masyarakat mengenai migrasi yang aman. “Pemerintah juga telah merencanakan kegiatan akses pendidikan bagi anak-anak pekerja migran dan orientasi pra-keberangkatan sebagai bagian dari pelayanan kepada PMI,” tuturnya. Sebab, ketika PMI bekerja di luar negeri, bagi yang sudah berkeluarga, pasti akan meninggalkan anak-anaknya di rumah. Maka, kata Riza, perlu ada pendampingan dari Pemerintah untuk menangani kondisi ini. Tentu, agar penjaminan hak-hak anak terkait pendidikan dan aspek lainnya dapat tetap berjalan dengan baik. Acara dihadiri ratusan mahasiswa Prodi HI UMM. Rektor UMM, Dr. H. Fauzan, M.Pd juga hadir dalam agenda. Ia mengapresiasi langkah Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN dalam pendampingan terhadap PMI. “Upaya perlindungan pada PMI bukan hanya perlu dipahami oleh keluarga pekerja. Namun juga mahasiswa dan masyarakat luas,” tutur Fauzan. Bagi Fauzan, hak-hak anak juga perlu dijamin selama orang tuanya bekerja di luar negeri seperti usaha yang tengah dicanangkan oleh Kementerian Luar Negeri. Perhelatan Konsultasi Publik ini merupakan kolaborasi Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN dengan Pusat Studi ASEAN Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (Prodi HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM. Hadir pembicara lainnya,  Rendra Setiawan, Kasubdit Tenaga Kerja Luar Negeri Kemnaker RI; Yumar, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia (PPMI); Muhammad Hafiz Human Rights Working Group (HRWG) Executive Directior; dan Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si, Prodi HI UMM. (mir/can)