Formula 4K yang Bikin Perguruan Tinggi Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0.

Wakil Dekan I Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ir. Samin, MT. mengatakan, perubahan besar-besaran akan terjadi di era Revolusi Industri 4.0. Satu yang paling dominan adalah dengan hadirnya internet. Sejak kehadirannya, segala aspek kehidupan manusia mulai tergantung oleh sarana satu ini. Tentu saja, hal itu memiliki konsekuensi tersendiri, baik positif juga negatif. Oleh karena itu, Samin berharap manusia dapat memanfaatkan era tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi ini, dengan sebaik-baiknya. Demikian halnya dengan aktor perguruan tinggi, mesti juga melakukan penyesuaian dengan segala tantangan yang menghadang. “Perguruan Tinggi harus siap dan ikut serta dalam menghadapi revolusi industri 4.0,” ujarnya, Kamis (6/12) siang. Jika sedikit saja lengah, sambung Samin, perguruan tinggi bakal habis dilindasnya. Oleh karenanya, kata Samin dalam sambutannya pada gelaran Seminar Nasional Teknologi dan Rekayasa, agar semua elemen perguruan tinggi musti siap menghadapi Revolusi Industri 4.0. Disebutkan Samin, beberapa hal yang dapat dipersiapkan menghadapi revolusi industri 4.0, yakni memiliki formula 4K. Formula 4K itu yakni, perguruan tinggi harus selalu berpikir Kritis, Kreatif, Komunikasi, dan mengedepankan Kerjasama. Dalam konteks komunikasi misalnya, dijelaskan Samin, yakni agar karya berupa penelitian dan pengabdian perguruan tinggi dapat dikomunikasikan ke jangkauan yang lebih luas.. “Salah satu sarananya yang bisa dimanfaatkan di era ini yakni dengan adanya internet,” terangnya. Selain itu, tak kalah penting menurut Samin, kunci dimenangkannya Revolusi Industri 4.0 oleh perguruan tinggi yakni dengan mengedepankan kerjasama atau kolaborasi. Karena baginya, formula komunikasi akan lebih punya daya dorong lebih baik. “Agar tercipta penelitian yang lebih baik, kerjasama atau kolaborasi juga perlu dilakukan. Baik tingkat Prodi ataupun dengan perguruan tinggi lainnya,” tutupnya. Acara ini mengusung tema “Industrial Revolution 4.0: Sustainable Technology Development for Competitiveness and Responsiveness”. Hadir sebagai pemateri, Direktur Utama PT. Dirgantara Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Ir. Rajesri Govindaraju, ST. MT. (ITB). Juga, Kepala Divisi Rancang Bangun PT. Dirgantara Indonesia, Ir. Indra Wirasendjaja. (hnd/can)
Pembangunan SDM Rendah, Ferri Jubair: Jadilah Pengusaha untuk Bangun Indonesia!

FERRI Jubair, Founder dan CEO Click Indonesia mengisi kuliah tamu Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM UMM), Rabu (05/12). Kuliah tamu ini diadakan untuk menginspirasi Mahasiswa UMM menjadi pengusaha yang matang di era 4.0. Acara di Hall Dome UMM ini penuh oleh mahasiswa yang haus inspirasi untuk menjadi pengusaha. Ferri Jubair yang merupakan alumni Pogram Studi Ilmu Hubungan Internasional UMM ini mengatakan, untuk memulai usaha bisa dilakukan sekarang juga. “Kita tidak perlu memikirkan modal atau kesiapan mental kita. Jika kita memikirkan itu, kita akan selalu menunda,” jelasnya. Ia mengatakan bahwa banyak usaha besar di dunia yang hanya berbekal ide, seperti Facebook, Uber, Netflix, dan lainnya. “Selain memiliki ide, kita harus memiliki keinginan yang kuat. Keinginan kita harus lebih kuat daripada skill kita,” sambung pria berumur 28 tahun itu. Ferri mengatakan bahwa ide sebagus apapun jika keinginannya lemah, ide itu tidak akan menjadi kenyataan. Maka memiliki keinginan yang kuat menjadi penting untuk merealisasikan ide yang sudah terpikirkan. Menurutnya, indeks Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia cukup rendah. Ia merujuk data yang diriset oleh Insight, perusahaan riset dunia dalam dunia bisnis. Data itu menyebut bahwa Indonesia berada di peringkat 85 dari 125 negara dalam pembangunan SDM. “Kita bangun Indonesia dengan menjadi pengusaha yang membangun masyarakat. Karena masa depan ada di tangan kalian,” tandasnya. Di kesempatan lain, Wakil Rektor I yang membidangi akademik, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyampaikan, UMM saat ini berada di posisi yang ideal untuk mengembangkan model pembelajaran yang futuristik. Hal itu dilakukan sebagai upaya pembentukan profil lulusan yang berkualitas. Salah satunya dapat dilakukan dengan pembentukan jiwa kewirausahaan. (usa/can)