Rektor UMM: Jadilah Guru yang Kehadirannya Selalu Dinanti

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Fauzan, M.Pd, saat melepas kelulusan 56 Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) berpesan, agar kehadiran guru seharusnya sentiasa dinantikan anak muridnya. “Guru haruslah mampu menciptakan suasana yang menyenangkan. Jika di dalam kelas, kehadirannya selalu di nanti. Murid-muridnya harus selalu senang, bukan sebaliknya,” kata Fauzan di hadapan lulusan PPG UMM serta sejumlah guru dan kepala sekolah Kota Malang, Dalam sambutannya itu, ia lantas menjelaskan peran guru yang teramat penting. Baginya, sejatinya tugas utama guru ialah bertanggungjawab dalam investasi sumber daya manusia di masa depan. Ia mengatakan, guru juga harus jadi tempat muridnya bertanya. Baik seputar ilmu pengetahuan, juga tentang kehidupan. Dilanjutkan Fauzan, orang yang masuk Surga terlebih dahulu adalah orang yang mau mengamalkan ilmunya, dalam hal ini guru. Begitupun, dikutip Fauzan, yang telah dijelaskan oleh hadist, “Barang siapa yang tidak mengamalkan ilmu, seperti pohon rindang yang tak berbuah,” ujarnya. Tentunya, kembali ditegaskan Fauzan, pemaknaan guru tidak hanya memberikan ilmu semata, akan tetapi sebuah figur yang mampu diteladani. Oleh karena itu pembentukan karakter dapat dilakukan tidak hanya melalui transfer pengetahuan, akan tetapi nilai untuk masa depan. (nda/can)

PPG UMM Lepas Kelulusan 52 Mahasiswanya dengan Gelaran Pentas Seni-Budaya

PROGRAM Studi (Prodi) Profesi Pendidikan Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menggelar Pentas Seni dan Budaya di Auditorium BAU, Senin (10/12). Acara itu merupakan perpisahan 52 orang mahasiswa PPG dari Program Studi (Prodi) Matematika dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Trisakti Handayani, Kepala Prodi PPG menyampaikan rasa bahagia, sedih sekaligus haru kepada mahasiswa PPG yang kini menyelesaikan studinya. Pasalnya, waktu sepuluh bulan dirasi berlalu begitu cepat. Mulai dari masa orientasi, hingga uji pengetahuan telah dilalui mereka dengan cukup baik. Namun, perpisahan bukan berarti isyarat tanpa kembali, karena mahasiswa PPG telah menjadi bagian dari sivitas akademi UMM. “Banyak kenangan yang telah menjadi bagian dari hidup adik-adik PPG. Teruslah ingat motto Kampus Putih ini,  yaitu dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” ucap Yani Handayani. Poncojari Wahyono, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengatakan, acara gelaran seni-budaya dan pameran ini turut mendukung visi FKIP UMM, yaitu menjadi fakultas terkemuka dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berdasarkan nilai-nilai Islam. Salah satunya melalui seni dan budaya. Menurutnya, dunia akademik tidak bisa dipisahkan dari seni. Oleh karena itu, ia sangat mengapresiasi upaya mahasiswa PPG yang telah menyelenggarakan acara tersebut. Dalam pidatonya, ia menghimbau kepada mahasiswa PPG agar selalu menjaga almamater Jas Merah Kampus Putih layaknya menjaga saudara sendiri. Peserta, selain diminta menampilan tarian asal mereka mengabdi, juga mengadakan pameran dengan menyediakan beragam panganan serta benda khusus yang dibawanya dari hasil mengabdi.  Beberapa daerah yang diadakan pameran yakni Papua, Kalimantan Barat, NTB, NTT, Maluku dan wilayah lainnya di Indonesia. Dipesankan Rektor UMM, Dr. Fauzan, M Pd., guru haruslah menciptakan suasana yang menyenangkan. “Jika di dalam kelas, kehadirannya selalu di nanti. Murid-muridnya selalu senang, bukan sebaliknya,” ucapnya sekaligus membuka acara di hadapan sejumlah kepala sekolah dan guru di Kota Malang yang hadir siang itu. Program PPG di UMM terbagi dalam dua jenis, yaitu PPG Bersubsidi dan PPG Mandiri. PPG Bersubsidi ialah PPG yang mendapat bantuan pembiayaan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dari pemerintah. Sementara itu, PPG Mandiri ialah PPG yang menggunakan pembiayaan pribadi peserta. (nda/can)

Ini Kunci Hadapi Tantangan Pendidikan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) menguraikan, pendidikan tinggi pada era Revolusi Industri 4.0 seperti saat ini, harus memperhatikan lima aspek. Di antaranya persiapan sistem pembelajaran, rekonstruksi kebijakan, persiapan sumber daya manusia, terobosan dan pengembangan dalam riset, dan ionvasi dalam ekosistem riset. Dalam pengaplikasiannya, Program Studi (Prodi) Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan (MKPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah menerapkan beberapa kegiatan yang mendukung. Di antaranya adalah pembinaan dan kolaborasi bersama Prodi di luar UMM yang berada pada lingkup di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). “Pada dasarnya kita juga ingin terus maju dan terus bekembang, salah satu langkah yang dapat kita lakukan adalah dengan menggandeng prodi lain dari beberapa PTM untuk bersinergi bersama kita,” terang Dr. Agus Tinus, M.Pd., Kepala Prodi MKPP UMM. Hal ini disampaikan dalam Seminar Nasional Pendidikan yang diselanggarakan UMM bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah (UM) Metro Lampung. Salah satu pembicara, Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si. menjelaskan, pendidikan sebagai suatu hal yang dinamis diharapkan selalu menjadi solusi untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pada era di mana teknologi menjadi kebutuhan primer, pendidikan juga harus melahirkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar. “Akan ada konsekuensi dalam pemahaman konsep dan model pembelajaran yang baru. Konsekuensi tersebut berhubungan dengan sistem yang harus terkini,” katanya. Ishomuddin lantas membahas karakteristik pembelajar pada era yang menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Salah satu yang sangat nampak adalah budaya berkolaborasi. Saat ini generasi milenial lebih mengutamakan kecepatan dan ketepatan, dan kolaborasi merupakan jawaban untuk mengingkatkan produktivitas. “Kita bisa melihat kalau saat ini kerjaan milenial adalah berkumpul. Mereka pergi ke café itu karena suka berkolaborasi,” ungkapnya. Selanjutnya, tantangan pendidikan perguruan tinggi adalah rekonstruksi kurikulum yang responsif terhadap revolusi industri. Seperti mendesain ulang kurikulum dengan pendekatan human digital dan keahlian berbasis digital. Sejalan dengan hal tersebut, Program Studi MKPP UMM telah memulai dengan berbagai kegiatan belajar berbasis digital. “Kami sudah menyusun kurikulum yang sudah sangat sesuai dengan kebutuhan pada era industrialisasi ini. Utamanya dalam hal digitalisasi proses belajar mengajar,” pungkas Agus. (nis/can)

Universitas Muhammadiyah-MDMC Prakarsai Perumusan Standardisasi Penanganan Psikososial Darurat Bencana

FAKULTAS Psikologi (FPsi) Universitas Muhammadiyah se-Indonesia berkolaborasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menggelar Lokakarya Nasional Kesehatan Jiwa dan Dukungan Psikososial untuk Situasi Darurat. Bertempat di Kapal Garden Hotel Sengkaling. Lokakarya itu membahas standardisasi penanganan psikososial bagi penyintas bencana alam. Hal tersebut ditengarahi sejauh ini, belum ada penyamaan penanganan atau standard. “Kami mencoba membuat panduan agar penanganan yang dilakukan bisa seragam,” jelas Zainul Anwar, S.Psi, M.Psi, Wakil Dekan III Fapsi UMM. Hasil Lokakarya tersebut akan berupa panduan, baik untuk relawan psikososial maupun para penyintas. Selain itu, juga nanti akan didiskusikan bersama-sama terkait dengan leveling untuk para relawan, semisal basic, intermediate dan advance. “Jadi yang Advance ini nanti orang yang sudah selalu siap diterjunkan ketika ada bencana,” tutur Zainul. Indonesia adalah Negara yang berada di wilayah rawan bencana. Sudah pasti para penyintas rawan mengalami trauma. Penanganan secara psikososial tentu menjadi salah satu cara untuk menyembuhkan trauma tersebut. “Karena, orang-orang (penyintas, red) akan menjalani kesehariannya lagi pasca bencana, maka traumanya harus perlahan-lahan disembuhkan,” tambah Zainul saat diwawancarai Sabtu (8/12). Sebelumnya, FPsi UMM telah menerjunkan tenaga-tenaga psikososial terbaiknya untuk memulihkan trauma penyintas bencana di Lombok dan Palu. UMM sudah berkontribusi melalui Laboratorium Psikologi Terapan (LPT) Psikososial Fapsi UMM, sejak tahun 1998. Lokarya diikuti seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia. (mir/can)