Tutup Tahun, FEB UMM Gelar Munas AFEB-PTM Ke-2 dan Kolokium 7 Doktor Baru

MENUTUP akhir tahun 2018, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) punya 2 gawe besar sekaligus. Yakni Kolokium Doktoral dan Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (AFEB) Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Ke-2. Munas AFEB sendiri diikuti 54 PTM seluruh Indonesia. Ketua AFEB-PTM Dr. Mukhaer Pakkanna, SE., MM., menyebut bahwa Munas yang mengangkat tema kesiapan FEB menghadapi revolusi industry 4.0 itu membahas sejumlah hal. Di antaranya merumuskan langkah-langkah PTM dalam merespon dinamika ekonomi. “Khususnya memberikan solusi ekonomi terhadap bangsa dan menyusun konsep ekonomi bagi kepemimpinan bangsa ke depan. Terutama bagi presiden terpilih pada Pilpres 2019 mendatang,” terangnya. Acara dihelat bersamaan sejak Selasa (11/12) hingga Kamis (13/12) mendatang. Sementara itu, Kolokium Doktoral digelar lantaran ada tujuh dosen FEB UMM yang telah menyelesaikan studi S3-nya. Kolokium menjadi agenda penting lantaran dinilai bakal mendorong elaborasi dalam penelitian. Kolokium Doktoral menghadirkan dua panelis. Yakni ketua OJK Malang dan Kepala Badan Perencanaan Kota Batu. (nda/mir/can)

Bentuk Kolaborasi untuk Tingkatkan Dunia Pariwisata di Era Industri 4.0

SAAT ini Indonesia telah memasuki industri 4.0 yang ditandai dengan serba digitalisasi. Dunia pariwisata pun terkena imbasnya. Menghadapi hal tersebut,  dibutuhkan kerjasama oleh semua pihak yakni pemerintah, perguruan tinggi,  serta pihak swasta. Hal itu disampaikan Kepala Badan Perencanaan Kota Batu, M. Chori, salah satu panleis dalam gelaran Kolokium Doktoral 7 Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (11/12). Peran penting yang dimiliki oleh Pemerintah, yakni sebagai pemandu yang dapat memberikan kemudahan bagi pihak swasta, harus mampu memilah-milah sektor mana yang bisa berpeluang untuk menjadi tempat wisata. “Daerah-daerah yang memiliki peluang wisata menjadi harapan pada dunia pariwisata di era industri 4.0 ini. Kota Batu merupakan salah satu wilayah yang memiliki peluang usaha di sektor pariwisata,” katanya. M. Chori menyebut, Kota Batu merupakan kawasan yang dikembangkan untuk jasa pariwisata, pertanian, dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Melihat potensi yang dimiliki, Pemerintah mendahulukan untuk mengembangkan sektor pariwisata terlebih dahulu, sebelum meningkatkan sektor pertanian. Pasalnya, disebut M.Chori, sektor pertanian akan mengikuti sektor pariwisata. Sehingga tidak heran, jika di Kota Batu banyak wisata-wisata yang berbasis pertanian. Seperti wisata petik apel dan perkebunan jeruk. Selain dapat membangun sektor wisata, Sambung M. Chori, hal itu merupakan salah satu peran Pemerintah dalam menyejahterakan masyarakat. Serta, meningkatkan geliat perekonomian masyarakat. “Karena jika kita mengembangkan sektor pariwisata. Dengan itu, kita dapat mengurangi angka pengangguran. Serta meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat,” ucap M. Chori. Kolokium ini, sebutnya, menjadi agenda penting lantaran dinilai bakal mendorong elaborasi dalam penelitian. Pengembangan industri 4.0 dibutuhkan kreatifitas dan potensi yang dimiliki oleh setiap daerah. Selain itu, Warsono, kolaborasi dalam mengelola pariwisata pun harus dilakukan. Selain dapat meningkatkan jumlah wisatawan, juga membantu mem-branding daerah-daerah itu sendiri. Sedianya tuan rumah Munas adalah Universitas Muhammadiyah Palu (UMP). “Namun, kondisi di Palu masih tidak memungkinkan, sehingga UMM bersedia menjadi pengganti tuan rumah AFEB-PTM Ke-2 ini,” kata Ketua Panitia Kolokium Doktoral dan Munas AFEB-PTM Ke-2 Warsono. Rabu (12/12), sambung Warsono , akan digelar seminar nasional. Hadir di antaranya Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Achmad Zaky (CEO Bukalapak), dan Djoko Sigit Sayogo, M.Acc., Ph.D. (dosen UMM). Sementara Kamis (13/12), diagendakan hadir Menko Perekonomian RI Darmin Nasution, M.Sc., Ph.D. (nda/mir/can)