Bahas Digitalisasi UMKM, Dosen FEB UMM Raih Best Paper AFEB-PTM 2018

DUA dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM, M Sri Wahyudi., SE, ME dan Mocahamad Rofik., S.Pd, M.Pd berhasil mendapatkan Peringkat Pertama Best Paper dalam Seminar dan Call for Paper Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AFEB PTM) se-Indonesia, Kamis (13/12). Wahyudi dan Rofik berhasil mendapatkan Best Paper untuk kategori penelitian bidang ekonomi pembangunan setelah melakukan penelitian di bidang digitaliasi UMKM Jawa Timur. Wahyudi berujar bahwa penelitian yang dilakukan bertujuan untuk memetakan potensi dan kesiapan UMKM di Jawa Timur dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. “Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pemetaan potensi serta melihat sejauh mana kesiapan UMKM di Jawa Timur dalam menghadapi Revolusi Indusitri 4.0,” ungkap Wahyudi yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP). Sementara itu, ditemui secara terpisah, Rofik berharap bahwa capaian yang telah ditorehkan dapat semakin memacu semangatnya untuk terus berkontribusi bagi pembangunan ekonomi khususnya di Jawa Timur. “Kita ketahui bahwa 50% lebih PDRB Jawa Timur ditopang oleh UMKM,” terangnya. Sehingga sangat penting untuk memastikan UMKM di Jawa Timur dapat bersaing di era Internet of Things seperti sekarang,” ujar dosen yang mengampu mata kuliah Matematika Ekonomi tersebut. Paper Wahyudi dan Rofik berhasil menyisihkan setidaknya 107 paper dari 54 PTM se-Indonesia. (*/can)

Rancang Institut Pendidikan Vokasi, UMM Siap Songsong Tantangan Industry 4.0

INDUSTRY 4.0 yang bertumpu pada cyber physical system telah hadir dan sedang mengubah secara radikal cara manusia berkehidupan, bekerja dan berkomunikasi. Robot, mesin cerdas dan Internet of Things (IoT) sudah mulai mengambil alih pekerjaan rutin dan manual yang dikerjakan manusia. Diperkirakan 35% keterampilan dasar akan hilang pada sepuluh tahun ke depan, digantikan oleh jenis-jenis pekerjaan baru yang belum ada sebelumnya. Agar selalu relevan dengan tuntutan perubahan zaman, Perguruan Tinggi harus memformat ulang dan melakukan transformasi mendasar Visi layanan pendidikannya. Perannya tidak lagi menyiapkan lulusan yang pekerjaannya telah digantingan robot dan mesin pintar, namun Perguruan Tinggi harus membekali lulusannya dengan kecakapan dan literasi multidisiplin yang dibutuhkan untuk menciptakan peluangkerja baru dengan memanfaatkan hadirnya Industri 4.0. “Sebagai Perguruan Tinggi yang berkemajuan, Universitas Muhammadiyah Malang harus mengambil peran kepeloporan untuk memastikan bahwa hadirnya Industry 4.0 benar-benar akan mensejahterakan masyarakat,” sebut Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. saat ditanya berkaitan dengan kesiapan UMM menghadapi industry 4.0. Berdasarkan survey yang dilakukan, ada sebanyak 20 CEO Top Indonesia mengaku tidak mendapatkan lulusan Perguruan Tinggi sesuai dengan apa yang dikehendaki perusahaan miliknya. Ini sangat disayangkan, karena berarti hanya sedikit dari lulusan yang bekerja sesuai dengan bidangnya. Ini menjadi pengantar UMM mendirikan Institut Pendidikan Vokasi (IPV) UMM dengan tagline creating moment, progressing talent. IPV ini nantinya memiliki visi pelopor dalam pemajuan talenta. IPV akan melayani mulai dari masyarakat umum dewasa, anak-anak lulusan SMA/SMK dan juga civitas akademika UMM sendiri. “Memberi kesempatan kapan saja dan kepada siapa saja untuk menambah dan meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan sikap sesuai talenta dan minatnya. Sehingga mampu mengambil peluang menjadi pelaku utama dalam Making Indonesia 4.0, seperti yang dicanangkan Presiden Joko Widodo,” terang Fauzan. Untuk mengawali IPV ini, UMM akan membuka 5 sekolah bidang keahlian. Yakni Desain dan Media, TIK dan Elektronika, Bisnis dan Manajemen, Kesehatan dan Hospitality, serta Agribisnis. Kelima sekolah keahlian ini akan dibangunkan gedung seluas 20 hektar di wilayah Karang Ploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. “Selanjutnya, jika kelima IPV ini sudah terlihat kemajuannya, UMM tentu akan terus mengembangkan juga menambah sekolah bidang keahlian lainnya yang memang benar-benar dibutuhkan dan sesuai dengan keinginan atmosfer pasar kerja,” pungkasnya. (*/can)

Pendirian Institut Pendidikan Vokasi UMM Bantu Program Pembangunan Pemerintah Indonesia

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Darmin Nasution menghadiri kuliah tamu yang dihelat  Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AFEB PTM) seluruh Indonesia, Kamis (13/12). “Saat ini, usaha yang dilakukan Pemerintah Indonesia terfokus pada pembangunan infrastruktur. Misalnya, pemerintah gencar mengembangkan insfrastruktur fisik seperti pelabuhan laut, udara, irigasi, dan sarana teknologi komunikasi,” kata Darmin Dibuktikan dengan rampungnya pembangunan di Indonesia Bagian Barat tahun lalu, Indonesia Bagian Tengah akhir tahun ini, dan Indonesia Bagian Timur pada tahun depan. Sehingga, kesempatan mengembangkan usaha jauh lebih besar. “Pemerintah Indonesia dalam mengembangan kebijakan usaha harus terlebih dahulu memahami konsep apa yang akan dilakukan hari ini, dan dikemudian hari. ” katanya ke ribuan mahasiswa dan peserta AFEB-PTM di Hall Dome UMM. Darmin menegaskan, pihak pemerintah harus siap menyediakan kawasan infrastruktur industri. Mengingat bahwa di Indonesia, perkembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) mengalami pertumbuhan yang pesat. Pemerintah juga harus mengadakan penyederhanaan izin untuk para UKM guna membantu perekonomian Indonesia. Sumber Daya Manusia juga menjadi aspek penting sehingga pemerintah mengembangkan pendidikan vokasi. Darmin menambahkan, wujud dari pendidikan vokasi di berbagai bidang, bisa dilihat dari perkembangan kurikulum, juga mengikutsertakan industri- industri kecil agar lebih maju. Paling penting, bisa merubahan konsep menjadi praktik. Disampaikan Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd, dalam sambutannya, mengamini gagasan Menko Perekonomian Darmin dengan kesesuaian rencana pendirian Institut Pendidikan Vokasi (IPV) UMM dalam waktu dekat. Fauzan menegaskan, UMM akan berkontribusi penuh dalam menyukseskan perkembangan industri di masa sekarang. Usaha yang akan dilakukan UMM ini pun mendapat dukungan penuh dari Gubernur Jawa Timur, Soekarwo. Untuk mengawali IPV ini, UMM merencanakan bakal membuka 5 sekolah bidang keahlian. Yakni sekolah Desain dan Media, TIK dan Elektronika, Bisnis dan Manajemen, Kesehatan dan Hospitality, serta Agribisnis. Kelima sekolah keahlian ini akan dibangunkan gedung seluas 20 hektar di wilayah Karang Ploso, Kabupaten Malang. “Selanjutnya, jika kelima IPV ini sudah terlihat kemajuannya, UMM tentu akan terus menambah sekolah bidang keahlian lainnya. (avc/can)

Buka-Bukaan Resep Dapur, Begini Cara Bukalapak Bantu Kurangi Angka Pengangguran di Indonesia

INDONESIA memiliki pondasi ekonomi digital yang besar dan kuat. Dikatakan AVP Public Policy & Government Relation Bukalapak, Bima Laga, hal ini terbukti dengan angka pengguna internet sebanyak 132,7 juta orang. “Internet Indonesia sangat potensial bagi bisnis online. Hal ini menjadi kekuatan baru dalam ekonomi. Juga dalam menekan angka pengangguran,” jelas Bima, Rabu (13/12) siang. Namun, tak dipungkiri, dalam menekan angka pengangguran masih terdapat beberapa kendala. Salah satunya datang dari diri sendiri. “Terbukanya peluang berjualan di Bukalapak secara gratis, seharusnya dapat mengurangi angka pengangguran. Tetapi, tetap saja ada yang mengurungkan diri untuk memanfaatkan itu (berjualan online),” paparnya. Padahal, lanjut Bima saat menjadi salah satu panelis gelaran Kolokium Doktoral Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM), berjualan secara online punya kelebihan tersendiri. Di antaranya tanpa modal buka toko fisik, modal promosi, dan banyak hal lagi. Selain juga, selalu tersedia 24 jam dan pasar yang tentu lebih luas serta tak terbatas. Melihat peluang ini, Bima mengatakan, Bukalapak memiliki beberapa resep untuk para penjual online pemula. Satu di antaranya resep customer driven mindset, yakni cara berjualan dengan menawarkan yang target market butuhkan, bukan yang bisa penjual produksi. Selanjutnya, tinggal mengembangkan produk dengan inovasi yang tiada henti dan berkelanjutan. Sebagai salah satu e-commerce terbesar di Indonesia, Bukalapak di tahun kedua berdirinya hanya memiliki lima karyawan untuk mengurusi 10.000 UKM yang tergabung di Bukalapak.com. Bukalapak melihat pangsa minat dan kredibelitas orang Indonesia terhadap belanja online terus meningkat. Hingga pada tahun ke tujuh, Bukalapak memiliki 2.500 karyawan dan 3,5 juta Pelapak (penjual di Bukalapak). (mir/can)