Gandeng UMM, LLDikti Bina Kemahasiswaan 37 Perguruan Tinggi untuk Hadapi Industri 4.0

LEMBAGA Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengumpulkan 37 perguruan tinggi di Jawa Timur, dalam rangka membina Kemahasiswaan Perguruan Tinggi dalam menghadapi Industry 4.0. Melaui Pelatihan Pemandu Orientasi Pengembangan Pendamping Kemahasiswaan (PP-OPPEK), terdapat empat poin tujuan yang ingin dicapai PP-OPPEK yang dikumukakan Widyo. Pertama, Pimpinan Universitas dan Dosen mampu membimbing para Mahasiswa untuk dalam menghadapi industry 4.0. Kedua, pimpinan Perguruan Tinggi dan dosen mampu mendidik mahasiswa menciptakan SDM yang berkualitas serta adaptif. Ketiga, Kemahasiswaan di setiap Perguruan Tinggi mampu berkreativitas di berbagai bidang. “Keempat, seluruh Perguruan Tinggi yang berkumpul mampu menjalin sinergi untuk bekerja sama di berbagai bidang,” tukasnya. “Selama pembinaan dilakukan, seluruh perumusan kebijakan tergantung dengan kreativitas universitas masing-masing,” tutur Dr. Widyo Winarso, M.Pd. selaku Sekretaris Pelaksana LLDikti Wilayah VII. Widyo menjelaskan, tidak ada pakem yang bisa ditetapkan untuk menentukan sistem kebijakan Kemahasiswaan. Hal ini dikarenakan budaya setiap universitas berbeda. Kebijakan harus disesuaikan universitas masing-masing. Sementara, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Wakil Rektor I UMM menyampaikan, penting sekali untuk memahami era Industry 4.0. Menurut Syamsul, sekarang para pengajar bisa kalah paham dengan mahasiswa dalam memahami era industry 4.0. Para pengajar, sebut Syamsul, sangat perlu untuk memahami era Industry 4.0 agar bisa menjadi pembimbing bagi mahasiswanya. “Mahasiswa tidak hanya diajarkan hardskill saja seperti dahulu, tapi sekarang soft skill juga penting,” tandasnya. Acara itu dilaksanakan 3 hari di Hotel Royal Orchids Garden, Senin (17/12) sampai Rabu (19/12). Dengan pembinaan ini, diharapkan mahasiswa di masing-masing perguruan tinggi bisa berkembang sesuai dengan zamannya, yaitu era Industry 4.0. (usa/can)
Begini Islam Memandang Hak Asasi Manusia

BERBICARA tentang kondisi Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia selalu menjadi perdebatan yang menarik. Pasalnya, menegakkan dan memenuhi HAM untuk 265 juta penduduk Indonesia selalu menemui kondisi ketimpangan. Tahun ini saja, Komisi Nasional (Komnas) HAM diberikan rapor merah oleh masyarakat. Hal tersebut berkaitan dengan semakin maraknnya kasus-kasus ketimpangan sosial yang berimbas pada tidak ditegakkannya HAM. Disamping itu, HAM menjadi menarik jika dikaji melalui perspektif Islam. HAM, disebut sebagai sebuah hak yang sudah dimiliki oleh setiap individu sejak ruh yang tertanam pada dirinya dianugerahkan oleh Allah SWT. “Sesungguhnya manusia diciptakan dengan mewarisi sifat-sifat ketuhanan, namun Tuhan memberikan pilihan (hak, red.) padanya,” papar Prof. Dr. Ishommudin, M.Si pada Seminar Nasional HAM BEM UMM, Senin (17/12). Lebih lanjut, Ishomuddin memaparkan bahwa HAM pada setiap individu bersumber pada hati masing-masing. Saat hati tidak merasa puas akan apa yang terjadi, khususnya pada fisik manusia, maka hal itu diungkapkan sebagai pelanggaran HAM. “Manusia itu lupa, bahwa mereka sejak diciptakan telah dianugerahi sifat selalu ingin memuaskan diri dan tamak. Sifat tersebut akan menjadi liar jika tidak dikendalikan oleh logika,” kata Ishomudin. Islam sendiri secara utuh telah mengajarkan bagaimana menerapkan HAM dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan perbedaan yang kemudian dihargai adalah bentuk ditegakkannya HAM. Tak berhenti di situ, sambung Ishomudin, penegakkan HAM dapat dimulai dengan memutuskan dan memusnahkan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma dalam kehidupan bersosial, yang membawa keburukan bagi kehidupan sosial. “Menghargai perbedaan dan memerangi yang zalim sebenarnya adalah hal yang mudah untuk dilakukan oleh setiap umat sebagi seorang individu,” tutup Ishomudin dalam pemaparan yang dihadiri mahasiswa berbagai jurusan ini. Hadir pembicara lain Haris Azhar, Direktur Eksekutif Lokataru Foundation dan Rocky Gerung, Peneliti di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D). Kedua tokoh ini juga memprovokasi mahasiswa untuk lantang menyuarakan kebenaran. (nis/can)
Haris Azhar dan Rocky Gerung Ajak Mahasiswa UMM Lantang Suarakan Kebenaran

HARIS Azhar, Direktur Lokataru Foundation juga Rocky Gerung, Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi hadir dalam Seminar Nasional Hak Asasi Manusia yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (17/12) pagi. Haris yang dikenal sebagai Aktivis HAM ini menyentak kesadaran mahasiswa yang hadir, tentang kondisi penuntasan terhadap pelanggaran HAM di Indonesia. “Coba lihat sekitar anda. Berapa banyak orang yang memperjuangkan lingkungan dan berakhir dengan kriminalisasi ataupun dipenjara? Inilah faktanya,” kata Haris. Berderet pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia hingga hari ini belum tuntas seluruhnya. “Karena tidak selesai menuntaskan masalah HAM, kita lihat saja sekarang, para pelanggarnya masih bebas melakukan segala kegiatannya dengan aman,” katanya di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Kampus III UMM. Bagi Haris, menjadi seorang yang sadar adalah pilihan dan tidak selalu harus memiliki materi. Namun bisa juga melalui permberdayaan dan aktif berpartisipasi. Bukan menjadi orang yang ikut-ikutan. “Kita mesti membangun partisipasi yang substansial,” ujar pria yang kerap menjad pembicara di berbagai stasiun televisi ini. Menurut speaker kondang Rocky Gerung, Hak Asasi Manusia sudah dicontohkan sejak zaman Nabi SAW. Hak juga yang menjadi salah satu keresahan Ahmad Dahlan dahulu. Baginya, keberadaan Muhammadiyah, dinilai turut banyak berkontribusi mewujudkan keadilan di masyarakat sejak pertama kali berdiri. “Seandainya saja KH. Ahmad Dahlan tak mau menjadi orang yang sadar tentang perubahan, dan lebih memilih sibuk berpolitik, maka tak akan ada (sekitar) 180an Universitas Muhammadiyah di seluruh Indonesia,” katanya dengan disambut tepuk tangan meriah ratusan peserta seminar sehari ini. Rocky ingin sejenak “mengusik” pikiran generasi millennial untuk berpikir tentang mimpi dan harapan Indonesia. “Bilamana dikontekskan dengan era industrial 4.0, maka coba kita berpikir sebentar. Di tahun 2035 nanti yang menjadi penggerak Indonesia ya kalian. Tentu harus dipersiapkan sejak dini,” ajaknya. (nis/mir/can)