DPR RI Komisi VII Puji Kepeloporan UMM sebagai Kampus Hemat Energi

Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (19/12). Kegiatan itu dalam rangka reses Komisi VII DPR RI.   Ditunjuknya UMM sebagai tuan rumah Kunker, disebut Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Ridwan Hisjam, tak lepas dari kepeloporannya mengusung konsep kampus hemat energi. Yakni adanya 2 Pembangkit Listrik Tenga Mikro Hidro (PLTMH) Mitra Kerja Komisi-Komisi DPR RI Masa Keanggotaan Tahun 2014-2019 yakni Energi, Riset dan Teknologi, dan Lingkungan Hidup. “Dipilihnya UMM untuk kunjungan kerja ini karena kepeloporannya pada energi baru-terbarukan,” jelasnya. Sebagai kampus yang dikenal dengan predikat pelopor energi baru-terbarukan (EBT), kehadiran 2 Pembangkit PLTMH telah mengantarkan diraihnya Asean Energy Award untuk pertama kalinya di tahun 2009.  Di tahun 2018, tepatnya Oktober lalu, melalui Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) UMM juga meraih penghargaan yang sama. UMM dianugerahi sebagai 2nd Runner-up sub kategori bangunan tropis (tropical building). “PLTMH milik UMM tidak hanya digunakan sebagai laboratorium terapan bagi civitas akademika UMM sendiri, tapi juga digunakan perguruan tinggi lain sebagai sumber belajar mahasiswa,” sebut Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. Setelah mendengar jajak pendapat dan aspirasi dari mitra kerja Komisi VII DPR RI juga pergurun tinggi Malang Raya, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi 2 PLTMH yang berada di lingkungan Kampus III UMM. (*/can)

Ini 5 Kualifikasi Dosen di Era Revolusi Industri 4.0 Menurut Komisi VII DPR RI

Di era revolusi industri 4.0, profesi dosen semakin kompetitif. Pada era ini Dosen memiliki tuntutan lebih, baik dalam kompetensi maupun kemampuan untuk melakukan kolaborasi riset dengan berbagai pihak tingkat dunia. Demikian disampaikan Ridwan Hisjam, Wakil Ketua Komisi VII DPR di acara Kunjungan Kerja Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Komisi VII di Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (19/12).  “Kondisi Dosen Indonesia saat ini sendiri masih didominasi oleh generasi baby boomers dan generasi X yang merupakan digital immigrant. Sementara mahasiswa yang dihadapi merupakan generasi millennial atau digital native,” katanya. Sehingga, dipaparkan Ridwan, setidaknya terdapat lima kualifikasi dan kompetensi dosen yang dibutuhkan di era revolusi industry 4.0. Pertama, educational competence, kompetensi berbasis Internet of Thing sebagai basic skill di era ini.  Kedua, competence in research, kompetensi membangun jaringan untuk menumbuhkan ilmu, arah riset, dan terampil mendapatkan grant internasional. Ketiga, competence for technological commercialization.  “Dosen harus punya kompetensi membawa grup dan mahasiswa pada komersialisasi dengan teknologi atas hasil inovasi dan penelitian,” terangnya di depan sejumlah rektor dan pimpinan perguruan tinggi Malang Raya.  Keempat, competence in globalization, dunia tanpa sekat. Yakni dosen dituntut tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan national problem.  Serta, yang terakhir atau kelima. competence in future strategies. Di mana dunia mudah berubah dan berjalan cepat. “Sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya,” pukasnya.  Dilanjutkan Ridwan, berbagai upaya yang bisa dilakukan di antararanya dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-publication, joint-lab, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG’s dan industri, dan lain sebagainya. (*/can)