Adakan Kompetisi Public Speaking, Dijuri Langsung Jurnalis Profesional Kompas TV

DALAM DUNIA KERJA, kemampuan public speaking atau berbicara di depan umum sudah menjadi seperti kebutuhan primer. Hampir di setiap bidang kerja, sangat memerlukan kompetensi satu ini. Menyadari hal itu, Program Studi D-III Keuangan dan Perbankan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Public speaking Competition for D-III Finance and Banking di  Aula GKB IV UMM, Kamis (20/12). Kepala Laboratorium Bank Syariah Prodi D-III Keuangan dan Perbankan, Eris Tri Kurniawati, S.E., M.M., Ak. menyatakan, program studi vokasi D-III Keuangan dan Perbankan 70% mata kuliahnya merupakan matakuliah praktek. “Keterampilan Public speaking merupakan salah satu penunjang yang sangat penting dari seluruh matakuliah praktek itu. Karena pada level profesional, lulusan D-III keuangan dan perbankan akan dituntut memiliki kecakapan ini,” terang Eris. Kategori yang dikompetisikan yakni Speech Competition, Presenter, Master of Ceremony dan Moderator. Keempat kategori tersebut juga dibagi kembali menjadi kategori Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Salah satu juri kompetisi, yang juga merupakan Video Jurnalis dan Reporter Kompas TV, Shinta Maulidya, mengaku terkejut dengan kualitas dari seluruh peserta di setiap kategori lomba. “Untuk menguasai Public speaking memang memerlukan waktu dan latihan yang cukup intensif. Terlebih lagi, untuk mahasiswa yang tidak memiliki dasar keilmuan Jurnalistik maupun Ilmu Komunikasi, akan lebih memakan waktu,” kata Shinta. Public speaking, sambung Shinta, tidak hanya identik dengan mahasiswa Jurnalistik dan Ilmu Komunikasi saja. Karena memang faktanya di lapangan, kemampuan Public speaking sangatlah penting. Salah satu peserta, Lila Denayu Yustian, merasa sangat senang dengan adanya kompetisi Public speaking sebagai rangkaian akhir mata kuliah ini. Menurutnya, ini bisa menjadi salah satu motivasi bagi mahasiswa untuk lebih kompetitif. “Kemampuan public speaking yang saya peroleh di bangku perkuliahan juga harus diimbangi dengan praktek agar lebih berdampak besar kepada kemampuan public speaking saya,” jelasnya. (iel/can)

Perkuat Toleransi Antar Umat Beragama, Mobil KaCa UMM Sambangi Yayasan Bunda Teresia Batu

RAMAINYA berbagai persoalan yang menyinggung masalah toleransi antar umat beragama, menjadi perhatian khusus tim Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, Mobil KaCa sambang dan sharing program di Yayasan Bunda Teresia Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (20/12). “Bagi kami, kunjungan kali ini terbilang istimewa. Biasanya Mobil KaCa hanya sambang ke tempat-tempat notabene masyarakat Muslim. Kali ini, tim Mobil KaCa memutuskan untuk sambang ke wilayah yang cakupan lebih luas. Karena literasi milik semua kalangan,” terang koordinator tim, Maharina Novia Zahro. Bagaimanapun, sambung Maharina, konflik yang belakangan terjadi, diakibatkan kurangnya interaksi juga dialog dengan kelompok yang dianggap berbeda. Mobil KaCa UMM, disebut Maharina, menjadi sarana edukatif dan tepat untuk menyemai nilai-nilai toleransi. Yakni dengan mengajarkannya sejak dini. Hadir dengan membawa konsep literasi, anak-anak yang berada di sana merasa terhibur dan senang. Pasalnya, anak-anak bukan hanya disuguhkan buku bacaan, namun di sana diajari tentang cara mengolah degradasi warna dengan pensil gambar. Serta, bergembira bersama melalui kegiatan outbound. “Kami tak pernah ragu untuk berjumpa dengan pembaca baru sekalipun anak kecil. Apalagi mereka yang tidak suka membaca. Kami yakin, mereka hanya belum menemukan buku yang ia senangi saja. Jadi kedatangan kami hanyalan membantu mereka menemukan buku yang disukai,” lanjut Maharina. Gabriel contohnya, anak berusia 8 tahun ini mengaku sangat menyukai permainan Bola Shegy. Bersama teman-temannya, dia saling berebut bola dalam salah satu sesi outbond ini. “Seneng banget main bola, tapi capek rebutan sama temen,” ungkapnya polos. Lutfi Nurul Rosyidah sebagai triner, memilih permainan ini karena merasa cukup efektif mengasah konsentrasi dan ketangkasan. “Setiap ada kata Shegy, peserta harus waspada. Karena mereka harus mencari ke mana arah bola yang sudah saya lempar lalu menangkapnya,” terang mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi ini. Sementara, Tintrim Rahayu, pengurus Yayasan yang dihuni oleh anak yatim, cacat dan terlantar ini mengaku senang dengan kedatangan Mobil Kaca. “Kegiatannya sangat bermanfaat. Saya sangat senang melihat mereka senang membaca dan senang dengan berbagai kegiatan yang diadakan seperti ini,” akunya. (rin/can)