Indonesia di Tengah Ancaman Proxy War, Begini Kata Para Pakar UMM

ANCAMAN keterlibatan aktor-aktor eksternal untuk mejadikan Indonesia sebagai arena pertarungan kepentingan, baik ekonomi, politik, maupun keamanan, menjadi hal yang perlu diperhatikan. Terutama di tahun politik dan menjelang Pemilu 2019. Posibilitas ancaman keamanan dari kepentingan negara-negara besar maupun adanya upaya provokasi dan adu domba dari kelompok-kelompok tertentu, menjadi isu yang mengemuka. Dampaknya adalah berpotensi memecah belah serta mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Merespon hal ini, Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Laboratorium Kajian Hubungan Internasional, dan Komunitas Kajian Keamanan Global dan Terorisme (K3GT) HI UMM menggelar refleksi akhir tahun. Bertajuk Refleksi Akhir Tahun: Dari UMM untuk Bangsa. Acara tersebut mengusung tema “Indonesia di Tengah Ancaman Proxy War (Analisa Multi Perspektif)”. Dihadiri oleh berbagai pakar, aparat sipil, militer dan Polri, dan sekitar 200 mahasiswa, acara berlangsung di Aula Lantai 9 GKB IV Kampus III UMM, Kamis (27/12). Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. dalam pandangannya menegaskan, dalam menghadapi ancaman proxy war, Indonesia harus memperkuat sektor ekonomi dan produksi. “Selain itu, harus pula mempersempit kesenjangan ekonomi dengan melakukan pemerataan di mana pembangunan tidak hanya fokus di pulau Jawa,” ucapnya. Sementara menurut Dekan FISIP Dr. Rinikso Kartono, M.Si. yang juga pakar keamanan kesehatan, Indonesia ke depan menghadapi ancaman children stunting dan baby fat salah satunya sebagai akibat pola hidup anak-anak masa kini yang lebih senang mengonsumsi fast food. Komandan Korem 083 Baladhika Jaya Kol. Inf. Bagus Suryadi, yang juga hadir menyampaikan pandangannya. Menurutnya, Indonesia saat ini berada di dalam keadaan yang sangat rentan. “Kita tidak bisa berdiam diri melihat apa yang dilakukan oleh negara-negara di sekitar kita, karena setiap negara memiliki kepentingan. Campur tangan asing tidak akan pernah memberikan manfaat, seperti yang terjadi di Timur Tengah,” katanya. Karena itu, menurutnya, yang harus dilakukan adalah membentengi seluruh warga negara Indonesia sehingga memiliki daya tangkal terhadap kepentingan-kepentingan pihak eksternal. Para pakar tersebut menyampaikan pemaparan dan pandangannya terkait isu-isu keamanan kontemporer di antaranya keamanan pangan dan pertanian, keamanan kesehatan, isu lingkungan, politik dan keamanan nasional, media dan teknologi cyber, serta isu Islam dan terorisme dari berbagai perspektif keilmuan. Selain itu, juga digelar Deklarasi Gerakan Indonesia Anti Adu Domba (#Geraiduda) sebagai bentuk komitmen sivitas akademika UMM terhadap segala upaya provokasi dan adu domba untuk memecah belah kesatuan bangsa. Ketua Prodi HI UMM M. Syaprin Zahidi, MA menyampaikan bahwa acara ini merupakan agenda rutin tahunan yang dimaksudkan untuk menunjukkan kontribusi nyata HI UMM pada bangsa. Tambahnya, hal ini sekaligus untuk menjadikan HI UMM sebagai center of excellent dalam kajian-kajian HI kontemporer di Indonesia. (*/usa/mir/can)
PSIF UMM Gelar Dialog Akhir Tahun, Bahas Moderasi Islam di Tahun Politik

MEMASUKI tahun politik, Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang (PSIF UMM) menggelar Dialog Akhir Tahun yang bertajuk Moderasi Islam di Tahun Politik Perspektif Kaum Muda Milenial, Kamis (27/12). Gelaran ini sekaligus penganugerahan pemenang lomba menulis artikel bertajuk “Tantangan Muhammadiyah di Era Kekinian”. Gelaran ini dalam rangka Milad Muhammadiyah ke-106. Asisten Rektor Bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Dr. Abdul Haris, MA. dalam sambutannya mengemukakan, forum bertukar pikiran sangat penting untuk diadakan generasi milenial. “Sebagai generasi muda, kita harus cerdas dalam membaca perkembangan suasana politik agar tidak larut dalam emosi. Selain itu, kita harus bisa menjadi bagian penting untuk meluruskan arah bangsa,” ujar Haris. Pemateri pertama yang sekaligus Wakil Bupati Trenggalek dan Ketua Umum DPW Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Timur, M. Nur Arifin, mengemukakan, kita tidak dapat lepas dari politik. Ia juga mengkorelasikan kejadian saat ini dengan masa lampau, ketika ideologi Marhaenisme Ir. Soekarno dikritik oleh Darwis Thaib dengan Marhamismenya. Keduanya, disebut Arifin, memiliki akar ideologi Islam. Hasnan Bachtiar sebagai pemateri kedua memaparkan beberapa hasil riset mengenai generasi milenial dan media baru. Dari riset yang ia utarakan, faktor utama yang mendorong generasi milenial adalah media baru. Dari munculnya media baru tersebut, lanjut Hasnan, maka munculah bentuk pekerjaan, cara besosialisasi, cara berkomunikasi hingga manusia baru yang kini sering disebut generasi milenial. “Menurut riset, generasi milenial memiliki ciri-ciri tidak terlalu peduli dengan agama. Namun lebih peduli terhadap kesehatan, kasih sayang, keluarga dan lain sebagainya. Sedangkan generasi non-milenial justru sebaliknya,” ungkap pria yang saat ini menjabat sebagai Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dan alumni UMM yang baru lulus dari Australian Nasional University (ANU) ini. Sedangkan pemateri ketiga, Pradana Boy ZTF yang merupakan dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM dan Asisten Staf Khusus Presiden menjelaskan secara teoritis dasar-dasar bagaimana orientasi beragama pada saat ini. Ia menjelaskan, pada mulanya setiap orang punya orientasi beragama yang moderat. Karena pengaruh teman, pergaulan dan lingkungan, maka orang itu akan condong ke salah satu orientasi, entah fanatik/konservatif atau permisif/liberal. (iel/can)