Miliki 55 Skema, Sertifikasi Kompetensi UMM Tingkatkan Daya Jual Mahasiswa

MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang telah dinyatakan lulus harus melaksanakan sertifikasi kompetensi. Sertifikasi kompetensi merupakan proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi. Sertifikasi ini sebagai respon menghadapi industri 4.0. Selain dijadikan sebagai syarat wisuda, sertifikasi ini dijadikan bukti bahwa mahasiswa yang sudah lulus dari UMM kompeten dalam bidang yang digeluti. “Sehingga lulusan UMM tidak sulit mencari kerja,” jelas Dr. Ihyaul Ulum, S.E., M.Si., Ak., CA. selaku ketua Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UMM saat diwawancara, Senin (7/1). Para penguji atau accesor yang terdiri dari dosen UMM terlebih dahulu diberi pelatihan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) selama 5 hari. “Sehingga accessor memiliki kompetensi yang baik dalam menguji. Saat ini UMM memiliki 93 accessor dan akan bertambah 48 yang masih mengikuti pelatihan,” terang Ulum. UMM menyediakan 55 skema. Sebelum wisuda, mahasiswa wajib memilih satu di antaranya untuk diujikan. Skema yang di rancang LSP disesuaikan dengan masing-masing program studi yang ada di UMM. “Namun ada beberapa skema yang bisa diikuti oleh mahasiswa lintas program studi,” lanjutnya. Juga, terdapat skema yang dirancang di luar program studi yang bisa diikuti oleh seluruh mahasiswa UMM, seperti kewirausahaan. Dalam waktu dekat LSP UMM akan menambah 20 skema sertifikasi kompetensi baru. Sertifikat kompetensi yang didapat oleh mahasiswa akan disandingkan dengan ijazah mereka. Pasca lulus, mahasiswa UMM mempunyai dua bukti legitimasi kompetensi dalam bidang akademik maupun non akademik. Sertifikat kompetensi yang didapat diberikan langsung BNSP melaui LSP UMM. Dengan sertifikasi kompetensi ini diharapkan mahasiswa UMM lebih siap dalam menghadapi industri 4.0. (usa/can)
Stres Mengerjakan Skripsi Bisa Diatasi dengan Berpikiran Positif dan Optimis

DESEMBER 2018 lalu, dua mahasiswa perguruan tinggi negeri ternama di Bandung, Jawa Barat ditemukan tak bernyawa. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi menyimpulkan kejadian tersebut atas dugaan kuat bunuh diri. Usut punya usut, salah satu dugaan bunuh diri ini karena tekanan saat mengerjakan skripsi. Menanggapi hal ini, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Psikolog, Dekan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ditemui di kantornya, Senin (7/1) menyebut, depresi menjadi faktor melakukan bunuh diri. “Depresi ialah tahap seseorang kehilangan harapan. Tentu saja pikiran akan terombang-ambing,” katanya. Pertama, sambungnya, ketika mendapatkan masalah, seseorang akan mengalami stres. Stres menjadi pintu utama sebelum masuk ke tahap depresi. Menurut pria lulusan S3 Psikologi Institute of Neuroscience Newcastle University, Inggris Raya ini, semua orang tentu memiliki masalah. Maka, kata Salis, tentu ada beberapa hal yang harus dipegang teguh. Seperti keyakinan agama. “Orang beriman diajarkan untuk berpikir positif dan optimis, ini kunci dalam setiap jengkal kehidupan,” jelasnya. Meski begitu, agar tidak masuk ke tahap depresi, Salis menyarankan beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama yakni berbagi cerita kepada orang yang dipercaya. Namun, diakuinya, tidak semua orang dapat menjadi partner berbagi cerita. Haruslah orang yang dapat dipercaya. Selanjutnya, bisa juga bercerita kepada ahli atau psikolog. “Psikolog bekerja di bawah sumpah, maka keamanan rahasia akan terjamin sepenuhnya,” terangnya. Berikutnya, bagi Salis, pola pikir seseorang juga mesti benar. “Bila kita anggap diri kita tidak mampu, maka itu kemungkinan besar akan terjadi. Hal tersebut akan sugesti yang bermuara pada usaha-usaha yang akan dilakukan,” tuturnya. Agar tak terjebak dalam tahap depresi, berpikiran positif dan optimis mesti menjadi pegangan hidup. Termasuk saat mengerjakan skripsi. “Jangan berpikir seolah-olah yang mengerjakan skripsi hanya anda. Ini adalah tahap yang mesti dilalui semua akademisi,” tandasnya. Selanjutnya, pola pikir yang musti ditanamkan yakni harus optimis. Karena sudah sekian banyak orang juga mengerjakan skripsi dengan tuntas. (mir/can)