PGSD UMM Helat Festival Ludruk untuk Tumbuhkan Kecintaan pada Kesenian Lokal

KESENIAN LUDRUK mungkin kini kalah pamor dengan tontonan televisi dan bioskop. Ditakutkan, generasi muda mulai meninggalkan dan tak lagi dikenal di masa mendatang. Meski begitu, kesenian yang tercatat lahir di Jombang Jawa Timur ini mesti tetap dilestarikan. Salah satunya dikenalkan melalui bangku perkuliahan. Ikhtiar yang dilakukan sekelompok mahasiswa ini patut diacungi jempol. Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (PGSD UMM) menggelar Festival Ludruk Kampus, Kamis (10/1). Festival ini digelar dalam rangka menuntaskan tugas akhir mata kuliah Karawitan oleh mahasiswa angkatan 2016. Menampilkan lakon Sarip Tambak Rasa, Maling Caluring, Babad Surabaya, Sakerah, Jaran Mayang Seta, dan Jaka Sambang. Lakon yang dipentaskan merupakan cerita lokal yang kebanyakan dengan latar zaman kolonial. Kemudian naskah yang sudah diadaptasi akan dipentaskan yang semua, baik di belakang maupun di depan panggung, diperankan mahasiswa. “Mahasiswa PGSD ini kan calon guru SD, jadi saya rasa perlu untuk paham seni tradisi,” jelas Danang Wijoyanto, S.Pd, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Karawitan. Menurut Danang, perlu untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal sejak dini. Maka mahasiswa PGSD harus dibekali pengetahuan kesenian lokal. Sehingga ketika menjadi Guru SD bisa menyalurkan kepada murid-muridnya. Danang takjub dengan totalitas mahasiswanya ketika melaksanakan tugas. “Hasilnya melebihi batas dan target yang saya tetapkan, saya sangat puas sekali,” papar Danang bangga. Sedangkan Judha Bira Krisna selaku Ketua Pelaksana Festival Ludruk Kampus mengatakan bahwa ini pengalaman yang luar biasa. Ia mengemukakan bahwa Festival Ludruk Kampus kali ini adalah yang pertama kalinya digelar di UMM. “Saya harap langkah awal ini bisa menumbuhkan rasa cinta yang besar dari mahasiswa PGSD UMM kepada budaya lokal,” ujarnya. Pada periode 1920 sampai 1925 ludruk berkembang. Awalnya pertunjukan jalanan yang berpindah-pindah tempat atau ngamen. Berubah dengan tempat pertunjukkannya yang menetap di halaman rumah atau ditanggap. Seperti ditanggap dalam pesta perkawinan, ruwatan, khitanan, dan sebagainya. “Semoga melalui festival ini, Ludruk kembali populer dan kembali digandrungi masyarakat,” pungkasnya. (usa/can)

Masif Mendampingi, LPT Psikososial Wujud Dedikasi UMM Pada Masyarakat

LABORATORIUM Psikologi Terapan (LPT) Psikososial merupakan wujud dedikasi UMM pada bidang Psikologi. Dinaungi langsung Fakultas Psikologi, LPT Psikososial telah masif mendampingi masyarakat sejak peristiwa Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Konflik Poso, Tsunami Aceh dan baru-baru ini pada Gempa Palu serta Donggala. Keberadaan Psikososial selama ini kebanyakan dianggap sebatas untuk bencana. Padahal tidak demikian, seperti dikatakan Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A, staff LPT Psikososial. “Sebenarnya bisa juga untuk ODHA dan trauma-trauma lainnya. Intinya adalah mental (psikis, red.) yang diobati pada psikososial,” tuturnya. Memang, stigma tentang psikososial banyak yang kurang tepat. Disangka, psikososial hanya mengurusi anak-anak penyintas pasca bencana. Alifah mencontohkan, ranah aksi psikososial sebenarnya lebih luas. “Para relawan terbagi menjadi beberapa bagian, di antaranya untuk menangani anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak,” jelasnya. Pendekatan kepada setiap umur tentunya berbeda. Keidentikan Psikososial untuk anak-anak tentu tak tepat. Selain itu, Psikososial tidak hanya beraksi saat bencana. Psikososial juga dapat memberikan treatment misalnya kepada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). “Kita berikan treatment agar siap menghadapi sosial,” kata Alifah. Durasi dalam pemberian Psikososial pada peristiwa bencana biasanya tak lebih dari sebulan. Hal tersebut karena relawan juga membutuhkan energi baru untuk memberikan penanganan Psikososial. Sejauh ini, kerja sama yang paling masif ialah bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Dekan Fakultas Psikologi, Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi, M.Psi, Ph.D, Psikolog. menerangkan, Fakultas Psikologi kosisten menurunkan tenaga-tenaga terbaiknya untuk memberikan pelayanan Psikososial kepada korban bencana maupun konflik. Para relawan telah dibekali langsung beragam kompetensi oleh LPT Psikososial. Selain yang dikerjasamakan dengan MDMC melalui LPT Psikososial, UMM memang tengah banyak melakukan pengabdian terhadap para korban bencana yang belakangan dialami sejumlah daerah di Indonesia. Salah satu di antaranya melaui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang ditempatkan di Palu, Sulawesi Tengah. Termasuk yang dilakukan RSU UMM yang mengirim dokter dan perawatnya ke Donggala, Sulawesi Tengah. Terhitung sejak Oktober 2018 lalu, relawan RSU UMM terjun langsung ke salah satu wilayah terdampak bencana. Berbagai aksi ini sesuai dengan visi dari Rumah Sakit Islam yang menjunjung visi kemanusiaan. Dalam waktu dekat, tepatnya 13 Januari 2019, LPT Psikososial bakal menggelar Diklat Psikososial Dasar bagi mahasiswa dan masyarakat umum. Tak menutup kemungkinan, LPT Psikososial UMM akan menerjunkan relawannya untuk turut membantu pemulihan trauma dari korban bencana Tsunami di Selat Sunda. (nis/mir/can)