Dibaca 74 Juta Kali di Wattpad, Novel Karya Mahasiswi Ini Kembali Difilmkan

ANTUSIASME terhadap peluncuran novel Mariposa karya Hidayatul Fajriyah, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan optimisme bagi penerbit kenamaan Indonesia, Gramedia. Novel ini akan meneruskan kesuksesan novel best seller miliknya yang berjudul “EL”. Meski baru memasuki tahap pre order, novel bergenre teen fiction comedy ini terjual sebanyak 17.849 eksemplar. Proses penulisan Mariposa yang mempunyai arti dari bahasa Spanyol yaitu “Kupu-kupu” ini sudah sejak satu tahun yang lalu. Novel kelimanya ini diawali dari tulisan versi digital di aplikasi Wattpad. Banyaknya minat pembaca, hingga 74 juta kali dibaca dan mendapatkan respon positif dari pembacanya, membuat novel ini naik cetak. Tidak tanggung-tanggung, novel ini sudah dilirik rumah produksi Starvision sebelum diterbitkan oleh Gramedia. “Alhamdulillah, ketika Novel Mariposa masih ditulis di wattpad, pihak Starvision langsung menghubungi dan mengajak kerjasama untuk mengadaptasinya ke layar lebar,” kata mahasiswi Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) ini, Jumat (11/1). Dalam pembuatan film ini, Luluk demikian dia disapa, dapat banyak pengalaman berharga. Terlebih ia juga dilibatkan langsung oleh Starvision dalam pembuatan naskah film Mariposa sendiri. “Dalam pembuatan naskah, saya banyak dimintai saran. Untuk penulis naskahnya sendiri oleh Alim Sudio dan akan disutradari oleh Fajar Bustomi,” ujar gadis asal Lamongan, Jawa Timur tersebut. Novel Mariposa bukan satu-satunya karya Luluk yang difilmkan, tahun 2018 lalu, novel keempatnya “EL” juga telah difilmkan dengan judul yang sama. Berbeda dengan “EL”, Mariposa sendiri mengangkat cerita yang lebih ringan. Tidak hanya menceritakan kisah percintaan saja, tapi juga persahabatan, kekeluargaan dan dunia anak SMA. Novel ini semakin menarik, terlebih dikemas dengan sentuhan komedi khas anak muda kekinian. Menceritakan perjuangan Acha, seorang gadis manja dan hiperaktif yang jatuh cinta kepada Iqbal yang berperangai cuek. Acha berjuang mendapatkan hati Iqbal. Diceritakan, Acha mengibaratkan Iqbal sebagai kupu-kupu. “Kupu-kupu memiliki filosofi jika dikejar ia akan menjauh. Jika tidak dikejar dan didiamkan saja, akan ada kemungkinan tetap lari dan menjauh atau justru akan berhenti dan mendekat,” paparnya. “Semoga di film kedua yang diadaptasi dari novel saya ini, semua pembaca novel Mariposa suka dan puas dengan filmnya, sehingga mau menonton berulang-ulang,” tandas Luluk optimis. Tradisi prestasi senantiasa dipupuk ke tiap civitas akademika UMM. Tidak hanya mendorong mahasiswa untuk berinovasi lewat karya dan pengabdiannya, dosen dan karyawan juga didorong punya kiprah serupa. “Hal ini lantaran komitmen UMM untuk turut berkontribusi pada kemajuan Indonesia melalui ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd di kesempatan berbeda. Prestasi Luluk ini sebagai pembuktiannya. Pantas saja, sejak terdaftar sebagai mahasiswa baru, mahasiswa sudah diarahkan dan didorong untuk mengendepankan nalar ilmiah. Salah satunya melalui dibudayakannya penulisan karya ilmiah berupa Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Selain itu, mahasiswa memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuan akademik, minat dan bakatnya. “UMM merespon secara positif dan antusias dengan menjadikan hari Sabtu sebagai Student Day,” kata Fauzan. Pada hari tersebut, sambungnya, mahasiswa akan melakukan kegiatan secara mandiri maupun kolektif sebagai bentuk aktualisasi dan pengembangan diri dalam berbagai bidang seperti, keagamaan, minat bakat, keprofesian dan kebudayaan. (bel/can)
Menolak Senjakala, Mahasiswa UMM Tetap Kekeuh Jadikan Koran Bacaan Utama Masyarakat

DI TENGAH kemunculan berbagai platform media massa di era digital, tak lantas menyurutkan sekelompok mahasiswa ini untuk tetap memproduksi media tradisional. Meski media massa cetak digadang tak lagi diminati, mereka tetap kekeuh mengkampanyekan koran sebagai bahan bacaan utama masyarakat. Untuk pertama kalinya Peluncuran Koran dan Penganugerahan Praktik Kerja Lapangan (PKL) Jurnalistik diadakan Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sabtu, (12/1) di Auditorium BAU Kampus III UMM. Di penganugerahan ini terdapat 11 nominasi yang disabet beberapa kelompok. Melalui Dr. Dra. Hj. Sugiarti, M.Si., Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM menyebut, “Setiap mata kuliah jurnalistik outputannya adalah koran,” jelasnya. Koran, katanya, masih menjadi media penyampai informasi efektif di Kota Malang. Dijelaskannya, koran ternyata masih diminati kelas masyarakat tertentu. Nyatanya, piranti siaran informasi umum yang mulai diperkenalkan pada tahun 1960 oleh Benjamin Harris –tokoh yang mengawali penerbitan surat kabar Amerika yang pertama- ini masih diminati. “Terkhusus bagi usia 40 tahun ke atas,” ujarnya. Pada penganugerahan ini, Sugiarti mengaku takjub dengan mahasiswanya. Menurutnya, penganugerahan ini sebagai bentuk apresiasi setinggi-tingginya bagi kerja keras selama 6 bulan berproses. “Dengan diberikannya ruang kreasi yang luas, mereka dapat mengeskplorasi kemampuan secara optimal,” ungkapnya bangga. Selain itu, proyek pengerjaan koran yang dilakukan selama 1 semester ini juga tidak hanya belajar tentang liput-meliput. Namun juga manajeman media massa, distribusi hingga pemasarannya dilakukan secara profesional. “Lengkap! Banyak sekali bagian agar para mahasiswa memilih sesuai minatnya,” kata Sugiarti. Menariknya, Komisaris Harian Malang Post Husun N. Djuraid turut mendampingi langsung mahasiswa ini dalam pengelolaan media massa cetak. Mulai dari ilmu memimpin perusahaan media, menjadi pemimpin redaksi, manajer keuangan, manajer periklanan, manajer pemasaran, hingga mencari berita langsung di lapangan. Salah satunya Koran Saskara, surat kabar setebal 12 halaman ini berhasil merekam berbagai cerita unik nan inspiratif dari berbagai sudut di Malang Raya. Tak hanya kisah kesuksesan wirausaha mahasiswa, redaksi Saskara juga menyajikan berbagai ulasan mendalam seputar pendidikan, sosial, budaya, hingga dunia kesehatan. Tak hanya itu, koran ini juga membuka jasa iklan secara profesional. Seperti layaknya pengelolaan profesional, jasa iklan yang masuk dijadikan pembiayaan operasional prototype media yang mereka jalankan. Sugiarti berharap, pengalaman ini dapat dijadikan pelajaran berharga untuk terjun di dunia media sesungguhnya. Hal lain yang tentu didapatkan dalam proyek ini adalah kemampuan berkomunikasi. Meliput berita tentu harus tahu cara berkomunikasi dengan baik. Selain itu tak tanggung-tanggung, koran yang diterbitkan terbatas ini dijual secara mandiri. Sehingga, juga dapat dinikmati masyarakat Kota Malang secara luas. (mir/can)