Perdana! UMM Bikin Layar Tancap di Pakisaji

SELAIN Mobil Kamis Membaca (KaCa), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) makin giat memberikan manfaatkan kepada masyarakat. Mengawali tahun 2019, UMM kembali mengeluarkan program teranyarnya, yakni Mobil Bioskop Keliling atau Bioling. Mobil hibah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) ini bakal berkeliling ke seluruh pelosok Jawa Timur khususnya, juga ke sejumlah wilayah di Indonesia untuk menyajikan tontonan dan tuntunan edukatif. Pemutaran film melalui layar tancap ini juga bertujuan memberi informasi tentang kebudayaan terkait budaya lokal. Masyarakat diajak untuk mengenal berbagai film yang memiliki nilai edukasi dan kebudayaan melalui layar tancap. Panti Asuhan Muhammadiyah Pakisaji Kabupaten Malang jadi tujuan perdana Bioling. Hujan gerimis tak menyurutkan antusias warga Pakisaji untuk menghadiri gelaran sekaligus peluncuran Mobil Bioling UMM. Warga sekitar memadati pelataran Panti Asuhan, Sabtu (12/1). Rozy selaku pengurus Panti Asuhan mengaku senang dengan hadirnya Mobil Bioling ke panti asuhannya. “Baru pertama kali ada layar tancap yang mau datang jauh-jauh dari Kota Malang untuk mengedukasi anak-anak panti asuhan mengenai film,” katanya. “Saya bertemakasih kepada pihak UMM yang mau datang kesini, karena anak-anak kalau mau ke bioskop itu jauh sekali, juga mahal,” ujar Rozy. Selain menyediakan film-film teranyar, Bioling juga menyediakan film garapan mahasiswa UMM sendiri. Mohammad Isnaini selaku Sekertaris Humas dan Protokoler UMM mengatakan bahwa dirinya berterimakasih kepada warga juga anak-anak Panti yang sudah berkenan datang dan mengizinkan untuk melaunching di Panti Asuhan Muhammadiyah Pakisaji. Dia mengatakan, tidak semua orang punya kesempatan untuk pergi ke bioskop. “UMM akan berperan untuk mengedukasi dan melayani masyarakat yang tidak memiliki kesempatan ke bioskop untuk tahu film-film Indonesia,” tandasnya. Kedepan sambung Isnaini, seperti jangkauan Mobil KaCa, Bioling bakal menyasar tempat-tempat khusus untuk lebih menyentuh lapisan masyarakat lebih luas. Seperti ke lembaga pemasyaratakan, panti jompo, dan tempat-tempat khusus lainnya. Melalui Mobil KaCa, Mobil Bioling, serta konsep menarik lainnya, UMM ingin memberikan kemanfaatan seluas-luasnya kepada masyarakat. Beberapa aksi ini, sambung Isnaini, sebagai kiprah nyata pengabdian UMM untuk masyarakat. “Karena memberikan edukasi dengan konsep hiburan kepada masyarakat kurang beruntung sangat perlu. UMM ingin terus mengambil peran dalam mengedukasi masyarakat tanpa mengekslusifkan siapapun,” ungkapnya. (usa/can)
Mobil KaCa UMM di CFD IJen: Sediakan Banyak Buku hingga Kenalkan Asyiknya Bermain Rangku Alu

AWAL tahun 2019 ini, Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengaspal untuk menggaungkan gerakan literasi kepada masyarakat umum. Berbeda dengan biasanya, kali ini mobil KaCa mengunjungi Car Free Day jalan Ijen, tepatnya di depan Perpustakaan Kota Malang, Minggu (13/1). “Ini kali pertama Mobil KaCa mengaspal di Car Free Day. Lain dari biasanya, di tahun 2019 ini kami ingin berbagi kepada masyarakat yang lebih luas. Mobil pintar ini memberikan alternatif bacaan yang mudah dengan pilihan yang banyak. Masyarakat bisa bebas memilih buku yang disenangi,” ujar Maharina Novia Zahro selaku koordinator Mobil KaCA. Targetnya tahun 2019 ini, Mobil KaCa UMM akan menjangkau ke tempat yang lebih luas lagi. Jika biasanya mobil KaCa UMM mengunjungi sekolah dan tempat tertentu yang tersegmentasi, kali ini akan menjangkau semua usia dan kalangan. “Sekarang lebih luas jangkauannya. Tidak hanya di tempat yang segmented, Mobil KaCa akan menyapa korban bencana di Lombok, Kampung Pank, Kelompok Tani, perkumpulan Ibu-Ibu dan juga ke daerah bekas prostitusi,” terang Maharina. Kehadiran mobil KaCa UMM langsung menjadi serbuan pengunjung di sekitar Car Free Day. Ada sekitar 456 koleksi buku yang terdiri dari ensiklopedi, cerita, novel dan literasi lainnya. Di belakang mobil juga dilengkapi LED monitor yang dapat menampilkan film-film edukatif. Tidak hanya membaca dan menonton saja, pengunjung yang hadir juga dapat belajar mengenali berbagai macam permainan tradisional. Sebagai upaya melestarikan kebudayaan tradisional, mobil KaCA mengajak pengunjung untuk ikut serta bermain, Rangku Alu atau tarian tongkat. Permainan asal Manggarai, Nusa Tenggara Timur ini dimainkan oleh 2 tim. Tim pertama berisi empat orang yang berjaga menggerak-gerakkan bambu. Mereka duduk membentuk bidang persegi dan memegang dua bambu. Sementara tim lain menjadi pemain yang mendapat giliran menghindari jepitan bambu. Sejumlah pengunjung terlihat sangat antusias memainkan Rangku Alu. Tidak hanya anak-anak yang meminkan, remaja hingga dewasa juga ikut bermain bersama. Dengan lincah, pemain masuk dalam bidang persegi dan melompat-lompat sesuai ayunan dan irama ketukan bambu. “Kita mesti pahami bersama, bahwa kegiatan literasi tidak hanya berhenti pada membaca buku. Kegiatan literasi banyak macamnya. Rangku Alu, kami kenalkan ke kemasyarakat untuk mengembalikan kejayaan permainan tradisional sebagai media penguatan interaksi sosial antar masyarakat. Anak-anak juga menjadi tidak melulu disibukkan dengan gadgetnya,” tukasnya. (bel/can)