Bakesbangpol di UMM: KPU Harus Kerja Ekstra Jaring Pemilih Pemula

PEMILIHAN Umum (Pemilu) serentak pertama di Indonesia akan diadakan pada 17 April mendatang. Momen ini menjadi tantangan baru. Bagaimana tidak, untuk menekan angka golput, Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus bekerja ekstra. Ditambah lagi, angka pemilih pemula meningkat pada tahun ini. Maka perlu beribu cara untuk menarik minat pemilih pemula. Sekaligus menepis anggapan bahwa antri di Tempat Pemungutan Suara (TPS) tidak sekedar membuang-buang waktu. Demikian kata Heru Mulyono, S.IP. M.T., sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang, Sabtu (2/2). Prodi Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga menaruh perhatian lebih pada situasi ini. Heru didaulat sebagai pemateri dalam Workshop Pemberdayaan Masyarakat bagi mahasiswa tingkat akhir IP UMM . Hadir pula sebagai pemateri Dr. Oman Sukmana, M.Si, Kepala Prodi Kesejahteraan Sosial (Kesos) UMM di sesi pertama. Pendampingan masyarakat dalam bidang partisipasi politik bukanlah pekerjaan sulit. Menurut Heru, bila sudah memiliki strategi yang matang dan mau turun lapang, tugas ini akan menjadi mudah karena jelas dipraktikkan. Data lainnya menjelaskan, separuh lebih pemilih di Indonesia adalah perempuan. “Dalam pendampingan, yang jadi tantangan adalah perempuan. Karena pemilih perempuan lebih tinggi jumlahnya daripada laki-laki,” jelas Heru. Kemudian ia menjelaskan undang-undang nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik. Salah satunya terdapat pada pasal 2 ayat 5, bahwa pendirian dan pembentukannya menyertakan paling rendah 30 persen keterwakilan perempuan. “Perempuan harus berpartisipasi dalam politik. Karena aturan minimal 30% harus melibatkan perempuan,” ungkapnya. Lebih lanjut, Heru mengarahkan para peserta workshop untuk bersungguh-sungguh dalam mendampingi masyarakat. Pemberdayaan, kata Oman, perlu dedikasi yang tinggi. “Sebagai seorang intelektual sosial, berdampingan dengan masyarakat adalah hal yang tidak bisa ditawar. Dan sekali-sekali jangan mau main uang,” tutupnya. Sementara itu, Ketua Laboratorium IP UMM Yana S. Hijri, S.IP, M.IP. menyatakan workshop sehari ini diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan calon wisudawan untuk memahami kembali pentingnya pemberdayaan masyarakat. “Selain itu, melalui kegiatan workshop ini mahasiswa diharapkan dapat mempersiapkan diri sebagai fasilitator (pendamping) yang handal dan mumpuni untuk ikut serta menyelesaikan permasalahan yang muncul di tengah masyarakat,” papar Yana. Di sesi kedua, workshop ini menghadirkan Dr. Rahmad K. Dwi Susilo, M.A., yang memberi materi pemberdayaan Bidang Konservasi Lingkungan dan Mitigasi Bencana. Serta, Yunan Syaifullah, S.E., M.Sc. di Bidang Ekonomi Pembangunan. (mir/can)

Prodi Keperawatan UMM 3 Besar Uji Kompetensi Ners Jawa Timur

PROGRAM Studi (Prodi) Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih peringkat III uji kompetensi ners regional Jawa Timur periode Oktober 2018. Kabar baik ini disampaikan langsung Dekan FIKES UMM, Faqih Ruhyanudin, M. Kep., Sp. Kep.MB usai menghadiri pertemuan Yayasan/Pimpinan Perguruan Tinggi Keperawatan dan LLDIKTI Jawa Timur di Surabaya, Jumat (1/2). Penganugerahan ini diberikan oleh Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Regional IX Jawa Timur. Rincian jumlah peserta mengikuti ujian dari Prodi Ners UMM sebanyak 58 peserta, dengan persentase kelulusan 97 persen pada periode Oktober 2018. Selama 2 tahun berturut-turut, S1 Prodi Keperawaran UMM selalu konsisten berada di posisi 3 besar di regional Jawa Timur. Pada periode sebelumnya, yakni Maret 2017 di peringkat III, Agustus 2017 di peringkat II, Maret 2018 di peringkat III, dan Oktober 2018 di peringkat III. Dengan rata-rata persentase di atas 95 persen. Pemeringkatan ini didasarkan kepada 50 perguruan tinggi yang terdaftar di AIPNI Regional IX Jawa Timur. Di tingkat nasional, Prodi Keperawatan UMM berada di peringkat 12 dengan persentase kelulusan 96,55 persen. “Program Studi S1 Keperawatan UMM bertekad menghasilkan lulusan Sarjana Keperawatan profesional dan kompeten dengan memiliki kekokohan intelektual, kedalaman spiritual, moral yang tinggi dan ketrampilan yang handal. Konsistensi kami 3 besar dalam uji kompetensi ini sebagai bagian ikhtiar kami mewujudkannya,” terang Kaprodi S1 Keperawatan, Nur Lailatul Masruroh, MNS. Paradigma model pembelajarannya, sambung Nur, dengan prinsip Student-Centered Learning (SCL) yang konsekuensinya adalah dosen sebagai fasilitator dan motivator. Yakni dengan menyediakan beberapa strategi belajar yang memungkinkan mahasiswa bersama dosen memilih, menemukan dan menyusun pengetahuan serta cara mengembangkan ketrampilannya atau method of inquiry and discovery. Dilanjutkan Nur, proses yang saat ini tengah digiatkan oleh Prodi Keperawatan UMM di level akademik yakni menyiapkan mahasiswa untuk mampu berkompetisi di level global. Di antaranya melalui strategi penguatan kemampuan bahasa asing. Yakni dengan adanya mata kuliah Foreign Language for Specific Purposes (FLSP), dan English for Professional Nurses (EPN), bahasa Jepang. Pembelajaran berbasis hasil riset, meningkatkan kerjasama luar negeri untuk menyalurkan alumni. Di antaranya dengan pihak Jepang, yakni Meito Care. Sementara dengan Taiwan dengan  Taipei Medical University dan Universitas Nasional Cheng Kung. “Selain itu, Prodi Keperawatan juga mengaktifkan kembali program student and lecturer exchange dengan institusi keperawatan di luar negeri,” papar Nur. Sedangkan untuk meningkatkan tingkat kelulusan dalam uji kompetensi di level pembelajaran profesi, Prodi Ners mendesign sistem pembelajaran praktek sedemikian rupa. Di antaranya bedside teaching, meet the experts, direct observed practice, mini clinical exam, journal analisys dan final exam, serta menjalin kerjasama dengan beberapa RS besar di berbagai kota di Jawa Timur. “Yakni di Malang, Bojonegoro, Lamongan, serta puskesmas di Kota Malang sebagai wahana praktek yang memberikan pengalaman belajar berkualitas bagi mahasiswa. Strategi lainnya adalah dengan mengintensifkan pembekalan untuk menghadapi uji kompetensi nasional melalui try out internal. Baik secara online maupun CBT, serta try out external atau try out uji kompetensi nasional,” tandas Nur. (*/can)