Kata Mendikbud Soal Indonesia: Saatnya Indonesia Jadi Negara Maju

INDONESIA lahir sudah menjadi negara yang besar. Baik dari segi kualitas maupun kuantitas sumber dayanya. Hal ini dapat dibuktikan dari warisan terbesar di dunia, yaitu luas wilayah dan banyaknya jumlah penduduk di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memiliki kekayaan alam dan juga budaya yang beraneka ragam. “Warisan termahal dari Republik Indonesia adalah persaudaraan, persatuan, kesatuan. Jadi harus menghindari potensi perpecahan. Menjaga warisan tersebut merupakan kuncinya,” tutur Muhadjir Effendy, Mendikbud RI dalam orasi Kebangsaan Pra-Tanwir Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (7/2). Jika sebelumnya dikatakan Indonesia negara yang besar, sebut Muhadjir, sudah sepatutnya saat ini menjadi negara yang maju. “Negara yang besar merupakan prasyarat menjadi negara yang maju. Untuk menjadi negara yang maju salah satunya harus didukung dengan infrastruktur,” tegas Rektor UMM periode 2000–2016 ini “Pembangunan tanpa infrastruktur bagai shalat tanpa wudhu. Tidak ada negara maju tanpa infrastruktur. Dan Indonesia baru memiliki 40% prasyarat infrastruktur untuk menjadi negara maju. Jadi tugas kita saat ini adalah memanfaatkan segala potensi yang tersedia untuk menjadi negara berkemajuan,” tambahnya. Ia melanjutkan, memang tidak hanya infrastruktur yang menjadi prasyarat negara maju. Melainkan juga sumber daya manusia yang terampil dan bermoral. Penanaman pendidikan etika sangat penting sebelum pendidikan formal. Demikian Muhadjir di masa menjabat sebagai Mendikbud RI menekankan pentingnya pendidikan karakter. “Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi yang bertanggungjawab untuk mengawal pembentukan karakter masyarakat Indonesia. Dapat kita lihat dari tapak tilas tokoh-tokoh Muhammadiyah, bagaimana membangun negara dengan watak dasar Muhammadiyah,” ungkap Muhadjir yang juga wakil Ketua Badan Pembina Harian UMM. Muhajir mencontohkan, peran Ir. Djuanda pencetus Deklarasi Djuanda yang hingga saat ini dirasakan oleh negara-negara kepulauan ini. Djuanda sebagai tokoh Muhammadiyah yang melakukan klaim wawasan Nusantara, bahwa seluruh daratan dan lautan Indonesia merupakan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Jika kita lacak petilasan-petilasan, Muhammadiyah sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa kita mempunyai andil yang bermakna dengan semangat kasih sayang versi Muhammadiyah untuk membangun NKRI. Dan sekarang tugas kita untuk melanjutkannya,” tandas Muhadjir di hadapan lima ratusan peserta yang hadir. (bel/can)

Haedar Nashir: Adil dan Ihsan, Perekat Hidup Berbangsa dan Bernegara

PERGOLAKAN sosial-politik di Indonesia pasca reformasi membawa sedemikian banyak problematika. Hal tersebut disampaikan Dr. Haedar Nashir M.Si, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada agenda Sarasehan Kebangsaan Pra Tanwir Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (7/2). Menurut Haedar, pasca reformasi ada dua kecenderungan pemikiran yang mengeras. Satu mengeras ke kanan, dan satunya mengeras ke sebelah kiri. Situasi ini akhirnya melahirkan pandangan keagamaan dan politik yang keras serta serba absolut. “Saat ini keduanya menutup ruang toleransi, dialog dan perbedaan,” kata Haedar. “Islam itu Ad-Diinurrahmah, agama penuh dengan kasih sayang. Kasih sayang dalam Islam itu begitu kaya. Bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga alam, hewan dan tumbuhan, disamping kepada Allah,” jelas Haedar. Ketika kasih sayang ini tidak digunakan dalam kehidupan beragama, maka akan kembali ke masa jahiliyah. Ujian bersikap adil dan ihsan kini hadir di depan kehidupan setiap insan beriman di negeri ini. Kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan saat ini selain memerlukan sikap adil yang autentik, juga memerlukan nilai mulia ihsan. “Allah memerintahkan kaum beriman untuk berbuat adil dan ihsan di surat an-NAhl ayat 90,” katanya. Para mubaligh, sambung Haedar, ketika berkhutbah bahkan selalu mengutip ayat al-Quran itu sebagai pengunci pesan khutbah dan tausyiyah. “Sebarkanlah nilai adil dan ihsan itu sebagai perekat hidup berbangsa dan bernegara sebagai cermin risalah Islam rahmatan lil-‘alamin atau rahmat bagi semesta alam,” ungkap Haedar. Dalam konteks menggelorakan “Beragama yang Mencerahkan”, kata Haedar, seganap pimpinan Muhammadiyah penting menyuarakan sekaligus mempraktikan pesan-pesan keislaman yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Peran tarjih dan tabligh secara khusus penting untuk dioptimalkan dan dininamisasi. Dipesankan juga Haedar, kepada semua angggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah untuk melandasaan dan membingkai pandangan-pandangan keislaman pada orientasi Islam yang mencerahkan dengan merujuk pada Manhaj Tarjih. Yakni mengembangkan pendekaatan Bayani, Bunrani, Irfani secara melintasi. Di tengah lalulintas dan dinamika paham keagamaan yang beragam dan tidak jarang ekstrem, sambung Haedar, Muhammadiyah dituntut perannnya sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang mencerahkan. Dalam hal berdakwah tentu para mubaligh dan anggota Muhammadiyah penting untuk menggelorakan dakwah yang mencerahkan. Hal ini dilakukan sebagaimana misi gerakan pencerahan dalam Muhammadiyah. Dakwah niscaya dilakukan dengan hikmah, mauidhat hasanah, dan bermujadalah dengan cara terbaik. “Sesuai surat Al-Nahl ayat 125, sebagaimana menjadi prinsip dan cara berdakwah yang diajarkan Allah dan dipraktikan Rasulullah,” bebernya. Dakwah yang serba menghardik, memvonis, lebih-lebih yang memusuhi dan takfiri bukanlah dakwah yang mencerahkan. “Berdakwahlah sebagaimana Nabi menyeru untuk menyempurnakan akhlaq manusia disertai uswah hasnah serta menjadikan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin dalam kehidupan semesta,” tandasnya. (mir/can)

Franz Magnis Suseno: Masa Depan Indonesia Ada di Tangan Islam

SARASEHAN Kebangsaan Pra Tanwir Muhammadiyah yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan budayawan, rohaniwan yang juga pemikir Prof. Dr. Franz Magnis Suseno. Ia hadir sebagai panelis dalam gelaran jelang Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu 15-17 Februari mendatang. Di sesi pertama, Franz  membeberkan materi dengan topik “Tantangan Fragmentasi Kebangsaan dan Revitalisasi Peran Agama sebagai Perekat Ikatan Keadaban”. Di diskusi ini Franz mengemukakan bagaimana Pancasila dapat menghadirkan perdamaian di Indonesia. Pancasila yang dicetuskan Bung Karno menjadi kuncinya. “Ketika Bung Karno mencetuskan Pancasila, ia membuat paham negara alternatif yang bisa menaungi negara sekuler dan negara agama,” jelas Franz. Dilanjutkannya bahwa berkat Pancasila menjadikan Indonesia dikenal sebagai negara yang tidak perlu diragukan toleransinya. Semua agama bisa hidup dengan tenang di sini. “Meskipun 87% masyarakat Indonesia menganut agama Islam, mereka bisa menghormati orang-orang minoritas,” lanjut Franz. Ia menyatakan bahwa masyarakat beragama Islam tidak mendiskriminasi masyarakat penganut agama lainnya. Mereka bisa bekerja sama dengan baik dan tetap bisa hidup damai. Indonesia sebagai negara penganut sistem demokrasi memiliki resiko dimanfaatkan oleh kaum radikalis, fundamentalis, dan terorisme. Masyarakat Islam sebagai mayoritas di Indonesia, memiliki tanggung jawab menjadikan negara ini tetap harmonis. Lebih jauh, kata Franz, masa depan Indonesia ada di tangan umat Islam. Mengutip buku Yuval Noah Harari “Homo Deus”, disebut Franz bahwa revolusi pengetahuan sangat penting dilakukan untuk memajukan bangsa. Muhammadiyah yang didirikan K.H Ahmad Dahlan sudah melakukan revolusi itu. “Muhammadiyah harus tetap mendidik masyarakat Islam yang membuat gembira,” tandas Franz. (usa/can)

UMM adalah Bentuk Aktualisasi Beragama yang Mencerahkan

LIMA puluh tahun lebih yang lalu, ada beberapa orang lewat di atas sebuah tebing tinggi. Beberapa orang ini tengah melihat tanah yang berada tepat di bawahnya. Ketika itu tanah ini dikenal sebagai tanah yang tidak laku, bahkan sering dikatakan tanah ini tempat di mana makhluk tak kasat mata bersemayam. Suram. “Beberapa orang tersebut saling bersepakat untuk membeli tanah ini. Kemudian, jadilah tanah ini tercerahkan menjadi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM, red.),” demikian Sa’ad Ibrahim Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dalam sambutannya pada Sarasehan Kebangsaan, Kamis (7/1). Demikian kata Saad, penjelasan sejarah ini cara paling mudah untuk menjelaskan tema Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu 15-17 Februari 2019 mendatang, “Beragama yang Mencerahkan”.  Saad menceritakan bagaimana kisah di balik Kampus III UMM yang terletak di Jalan Raya Tlogomas ini dibangun. Saad lantas memberi penjelasan bahwa semangat Tanwir mesti terus digelorakan. Diceritakannya pada tahun 1923 murid KH. Ahmad Dahlan yang bernama Kiai Badawi mengaktualisasikan pemahamannya terhadap al Quran. Utamanya terkait ungkapan Nabi Ibrahim AS. yang diabadikan di surat Asy-Syu’ara ayat 80. Ayat ini berbunyi, “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” Berdasarkan muatannya, Kiai Badawi tidak hanya ingin sekadar memahami juga menafsirkan, melainkan Kiai Badawi ingin mewujudkannya dalam bentuk konkrit. Yakni melalui pendirian rumah sakit pertama milik Muhammadiyah di Yogyakarta. Satu tahun usai pendiriannya rumah sakit pertama ini, yakni tahun 1924, juga berdiri rumah sakit Muhammadiyah lainnya di Surabaya. Singkat cerita, sambung Saad, istilah Tanwir atau pencerahan sudah menjadi kultur Muhammadiyah sejak masa-masa awal pendirian Persyarikatan Muhammadiyah di masa silam. (*/can)

Begini Penjelasan Beragama yang Mencerahkan Menurut Wantimpres RI

Prof. Dr. H.A Malik Fadjar M.Si. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia (RI) menyebut tema Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu 15-17 Februari 2019 mendatang, “Beragama yang Mencerahkan” sesuai dengan kondisi umat beragama, khususnya bagi kondisi umat Islam masa kini. Tema tersebut dinilai Malik sangat tepat bagi Muhammadiyah untuk merenungkan kembali sekaligus membaca realitas dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dalam perspektif agama. Utamanya jika dilihat dari perspektif Muhammadiyah secara khusus. Dilanjutkan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (7/1), Malik mengisahkan saat K.H. Ahmad Dahlan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah ditanya tentang, “Apakah Islam itu?” Jawaban Kiai Dahlan, bagi Malik, sangat sederhana dan sangat mendasar. “Islam itu ialah, setelah iman yakni kemanusiaan,” tegas Malik saat didapuk memberikan sambutan pada pembukaan Sarasehan Kebangsaan Pra-Tanwir Muhammadiyah di Theater Dome UMM. Mengusung tema “Revitalisasi Keberagamaan yang Mencerahkan menuju Indonesia Berkemajuan”. Lantas, apa dasar pertimbangan Kiai Dahlan menyatakan hal ini? Selain menjelaskan melalui dasar-dasar perintah Al Quran melalui banyak ayat yang tercantum di dalamnya, Kiai Dahlan mengaktualisasikan berbagai perintah dalam al Quran melalui aksi nyata. Demikian disebut Malik sebagai amal sholeh. “Amal sholeh adalah amal yang sejalan dengan hati nurani. Hati nurani pasti selalu memihak kebenaran, kemanusiaan dan banyak hal baik lainnya,” sebut Malik. Lalu, sambung Malik, diwujudkan oleh Muhammadiyah dengan gerakan al Ma’un atau Teologi al Ma’un. Yakni terminologi pemikiran dan praktik keberagamaan Dengan surat al Ma’un itu lahirlah sekian banyak gerakan kemanusiaan yang dilakukan oleh Muhammadiyah setelah melampaui usia satu abadnya. “Sehingga, dalam konteks ini, Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan kepada kita semua bahwa kunci dalam beragama adalah kemanusiaan,” ungkap Malik. Malik lantas mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Kamu tidak akan mampu mencukupi kebutuhan manusia, mendamaikan seluruh persoalan kemanusiaan sekadar dengan harta kekayaan dan pangkat kedudukanmu. Tetapi kamu akan bisa mewujudkan kehidupan yang mensejahterakan dengan akhlakmu,” ujarnya. “Maka menaburkan keberagamaan itu harus dalam suasana mencerahkan,” tandas Malik. Demikian juga, sambungnya, dalam kehidupan ber-Muhammadiyah. Bermuhammadiyah itu, sebutnya, harus menyenangkan, mengasyikkan, sekaligus mencerdaskan. Lebih jauh lagi sampai pada tahapan memberdayakan. (*/can)

Rektor UMM: Islam Menjunjung Tinggi Kemanusiaan

ELANG perhelatan Tanwir ke-51 Muhammadiyah tanggal 15-17 Februari 2019 di Bengkulu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Sarasehan Kebangsaan. Acara terselenggara di Theater Dome UMM, Kamis (7/2). Hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, M.Si. Tema Tanwir “Agama yang Mencerahkan” disebut Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengandung unsur imperatif atau memerintah. Yakni Muhammadiyah mengajak warganya untuk tidak sekadar menjadi warga yang beragama, melainkan beragama yang mencerahkan. Karena aksi ini merupakan bagian dari perintah agama Islam. Demikian selanjutnya Fauzan mengutip sebuah hadits , “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” Fauzan sekaligus membuka acara yang dihadiri para tokoh, aktivis, akademisi, organisasi otonom dan pimpinan Muhammadiyah, mulai dari pusat, wilayah, daerah dan cabang. Selain itu, dikuatkan Fauzan, dalam hadits lainnya Rasulullah SAW menyebut, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Dua hadits ini, menurut Fauzan, sebuah doktrin kemanusiaan yang tidak boleh dilupakan. Sampai-sampai Nabi menyebut, seminimal mungkin manusia berbuat baik dengan sesamanya melalui senyum. “Bukan hanya sekadar senyum secara simbolik. Melainkan memberikan kedamaian kepada orang lain, memberikan kenyamanan kepada orang lain,” kata Fauzan. Dilanjutkannya, tema yang diangkat dalam Tanwir Muhammadiyah kali ini sarat akan makna menjunjung tinggi kemanusiaan. Seperti yang dikehendaki Islam. Dalam artian lain, sambung Fauzan, Muhammadiyah diajak bersama-sama untuk memperjuangkan pemartabatan bangsa ini. Yang saat ini, diungapnya, ditengarai adanya cara-cara beragama yang paradoks. Demikian Fauzan menekankan bahwa tugas manusia adalah khalifah fil ardh atau wakil-wakil Tuhan di muka bumi. “Tuhan Maha Pemaaf. Tuhan senantiasa memberikan kedamaian. Tuhan selalu berbuat baik tanpa perhitungan kepada makluk-makhluknya. Sifat-sifat ketauladanan itulah sebenarnya menjadi tanggung jawab kita semua. Persoalannya adalah, dunia, khususnya Indonesia tengah dihadapkan pada fenomena berkebalikan,” ungkapnya. Yakni, lanjut Fauzan, tidak menjadikan nilai-nilai dan norma-norma agama sebagai pijakan dalam mengimplementasikan kehidupannya. Sarasehan Kebangsaan yang digelar satu hari di UMM ini diharapkan Fauzan akan memberikan penyadaran kepada para peserta. Juga, dapat berdampak luas pada masyarakat. (*/can)