Dosen UMM Wakili Indonesia di 2nd ASEAN-India Youth Summit 2019

TAHUN 2019, ASEAN berkolaborasi dengan India Foundation melahirkan 2nd ASEAN-India Youth Summit 2019. Agenda tersebut dilaksanakan di Guwahati, Assam, India. Hajat besar ini mengumpulkan para pemuda seantero Asia Tenggara dan India. Tujuannya, membincang gagasan untuk mewujudkan tatanan kehidupan lebih baik. Novin Farid Setyo Wibowo, S. Sos, M.Si, staf pengajar program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mewakili Indonesia dalam perhelatan ASEAN-India Youth Summit, 3-7 Februari 2019 lalu. Novin bersama 9 perwakilan lainnya menebar gagasan perihal isu terkini seputar politik, budaya dan media. Kepala laboratorium Prodi Ilmu Komunikasi ini berangkat setelah melewati seleksi panjang oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). Pada agenda yang mengusung tema “Connectivity – Pathway to Shared Prosperity” ini, Novin dinyatakan lolos seleksi mewakili Indonesia di bidang Media and Cultural Studies. “Di forum ini masing-masing negara menyampaikan kondisi di negaranya,” jelas dosen yang concern di dunia perfilman ini. Novin menerangkan bahwa ASEAN dan India memiliki sumber daya manusia (SDM) usia muda yang cukup baik. Memasuki era industri 4.0, SDM muda tersebut perlu menyatukan pikiran demi kemajuan bersama. Disamping itu pemuda perlu memiliki skill, identity dan netwoking. Hal tersebut ia sampaikan saat Indonesia memaparkan kondisi objektif Indonesia sekaligus menawarkan rumusan solusinya. “Indonesia masih unggul. Kita patut bersyukur dengan atmosfer kebebasan dalam berekspresi dan bertindak di Indonesia,” ungkapnya. Dilanjutkan dosen yang juga banyak melakukan riset perfilman dan studi media ini, pemuda adalah penggawa perubahan. Pikirannya masih terbuka dengan hal-hal baru dan tentu idealismenya terpatri kuat. “Maka dari itu, persoalan nilai toleransi, pluralisme dan keragaman, pemudalah yang punya andil besar mewujudkannya,” pungkasnya. (mir/can)

Mahasiswa Bekali Penghuni Lapas Penanganan Mandiri Nyeri Pinggang

LOW BACK PAIN atau nyeri pinggang bisa dialami siapa saja. Utamanya orang yang banyak duduk dan tidak banyak gerak, serta sering mengangkat barang berat. Tak terkecuali para penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Kota Malang. Misalnya di Lapas Perempuan Kelas IIA Sukun, Kota Malang setidaknya memiliki 35 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang mengalami nyeri pinggang. Sedangkan di Lapas berkapasitas 600an orang ini belum tersedia tenaga ahli fisioterapi. Hal tersebutlah yang mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui mahasiswa praktikum kelembagaan prodi Kesejahteraan Sosial dan Fisioterapi UMM, Rabu (6/2), membekali para WBP melakukan penanganan mandiri nyeri pinggang. “Melihat respon positif dari WBP kami berharap program ini dapat berkelanjutan, Kami merekomendasikan agar diadakannya program fisioterapi di klinik Lapas ini. Kalau perlu kita adakan kerjasama,” kata Wofi Toyyibatul Chusna, mahasiswa praktikan. Usulan inipun disambut baik salah satu WBP, Fenny. “Banyak WBP disini mengeluh sakit pinggang. Sepertinya karena aktivitas yang dilakukan cukup berat seperti mengangkat barang, galon air, dan ditambah dengan faktor usia,” ungkapnya. “Saya harap program ini dapat berlanjut dalam bentuk kerjasama antara Lapas dengan kampus UMM,” terangnya. Dalam eksekusinya, para praktikan bekerjasama dengan salah satu komunitas kesehatan Sportphysio Prodi Fisioterapi UMM. Ali Multazam, S.Ft. M.Sc, dosen UMM yang menggawangi Sportphysio UMM menyatakan bahwa agenda tersebut diharapkan membawa dampak positif bagi WBP. Juga, menjadi momen memfamiliarkan profesi fisioterapi kepada masyarakat. “Sebenarnya fisioterapi dibutuhkan oleh masyarakat. Karena fisioterapi berbicara fungsi dan gerak serta bagaimana menjaga raga agar tetap terjaga,” jelas pria yang akrab disapa Azam tersebut. Ia juga berharap agenda ini dapat berkelanjutan. (*/mir/can)