UMM-Aisyiyah Bekali Para Guru Menulis Buku Cerita untuk Bangun Karakter Anak

BERCERITA merupakan bagian dari materi pembelajaran di tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Adanya Kurikulum ini sebagai sarana membangun karakter anak. Untuk menunjang hal ini, para guru tak cukup bermodalkan pandai bercerita saja, tapi keterampilan menulis cerita anak. Untuk meningkatkan kompetensi guru tersebut, Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar workshop menulis cerita anak bekerjasama dengan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur di Ruang Sidang Senat UMM, Selasa (19/2) siang. Workshop yang diikuti 83 Guru TK/PAUD se-Jawa Timur ini menghadirkan dua pemateri berkompeten yaitu dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM Dr. Sugiarti, M.Pd dan Solikhatul Fatonah Kurniawati alias Watiek Ideo, penulis buku cerita anak kenamaan Indonesia. Dra. Thathit Manon Andini, M.Hum, Ketua LP3A berharap melalui tema “Membangun Karakter Anak Melalui Cerita Anak” yang diusung dalam workshop kali ini, guru TK/PAUD ‘Aisyah se Jawa Timur dapat mempersuasi anak didiknya agar dapat terbangun karakter positifnya melalui nilai-nilai yang disajikan cerita.  “Dari cerita kita dapat meningkatkan imajinasi anak. Dapat juga membangun karakter anak didik kita. Baik sosial maupun individual. Kita tanamkan dalam buku cerita anak saat ini nilai-nilai karakter yang islami,” tutur penulis yang salah satu karyanya mendapatkan kehormatan dari Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo. Sementara Dr. Sugiarti, M.Pd mengatakan, cerita anak dapat menjadi perantara yang sangat efektif untuk mendidik anak. Terlebih di masa golden age atau saat masa-masa keemasan tumbuh-kembang anak. Sehingga penulis tidak hanya menulis kreatif saja, akan tetapi juga melakukan penanaman nilai. “Proses kreativitas harus dilakukan oleh guru untuk mengolah imajinasi. Selain itu, kita juga harus menyisipkan hikmah-hikmah yang sebaiknya memang terkandung di buku cerita anak-anak. Kita mengemas nasihat dan pelajaran penting yang seharusnya didapat anak melalui kreativitas buku cerita anak,” terangnya. Peserta juga diajak untuk berpraktik langsung menulis cerita anak. Latihan ini dimentori langsung oleh Watiek Idoe. Hasil dari workshop ini akan dikemass berupa kumpulan buku cerita anak yang akan di dilaunching pada perhelatan pengajian Ramadhan PW Muhammadiyah Jawa Timur Mei mendatang. (bel/can)

Kasubdit Kemenristekdikti: Pemberdayaan Masyarakat Bukan Sekedar Pengguguran Kewajiban

Di tahun 2018, tak kurang dari 12 ribu proposal pengabdian yang masuk ke Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Meski begitu, yang lolos untuk didanai hanya 2 ribuan proposal saja. Hal ini disampaikan Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Kemenristekdikti, Suwitno, S.E. MM. Laporan ini disampaikan Suwitno di Ruang Sidang Senat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat tengah melakukan sosialisasi mengenai pemberdayaan oleh dosen, Sabtu (16/1). Pemberdayaan, disebutnya, merupakan kewajiban yang harus ditempuh oleh dosen sesuai UU nomor 20 tahun 2003 pasal 20 ayat 2 tentang Sisdiknas. Meskipun pengabdian dosen tercantum sebagai kewajiban, saat melakukan pemberdayaan masyarakat, dosen juga harus melakukannya dengan semangat ingin membawa perubahan yang lebih baik. “Maka kalau hanya dijadikan sarana untuk menggugurkan kewajiban sangat disayangkan,” ujar Suwitno. “Banyak proposal yang berpotensi tapi tidak bisa menjadi daya jual. Dengan begitu tidak dibiayai,” jelas Suwitno. Hal ini dikarenakan Kemenristekdikti menyeleksi sangat ketat proposal yang berpotensi dan tidak. Untuk mendongkraknya, Suwitno berharap Kemenristekdikti bisa bekerjasama dengan perguruan tinggi. Disebut Suwitno, Kemenristek dikti membutuhkan perguruan tinggi dengan predikat baik dalam pemberdayaan untuk membantu percepatan pemetaan kebutuhan masyarakat. UMM melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) punya rapor baik karena jumlah proposal yang didanai paling banyak. Proposal UMM yang didanai Kemenristekdikti paling banyak di Jawa Timur, yaitu 34 proposal. Evaluasi dari Kemenristekdikti UMM mendapat predikat sangat bagus dalam pemberdayaan masyarakat. “Hal ini dikarenakan UMM memiliki banyak desa binaan,”  jelas Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes selaku Direktur DPPM-UMM. (usa/can)