Warga Palestina Belajar Budidaya Perairan ke UMM

SEJUMLAH warga Palestina datang secara khusus ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk belajar membuat berbagai temuan budidaya pertanian, peternakan, juga perairan Jumat (15/2) lalu. Kehadiran mereka dalam rangka menindaklanjuti kerjasama antara Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM dengan Department of Aquaculture, Palestinian Ministry of Agriculture. Diterangkan Dony Prasetyo, S.Pi. M.Si., dosen program studi (Prodi) Perikanan UMM, tertariknya warga Palestina belajar budidaya, khususnya perairan ke UMM karena pengelolaannya masuk standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan telah tersertifikasi. Selain ke tempat pembudidayaan ikan, mereka juga diajak melihat produksi jamur, hasil pertanian dan juga pembuatan roti yang terpusat di satu lokasi. Prodi Perikanan turut memperkenalkan program unggulannya, Aquaponik atau sistem Bio Natural (Biona). Sistem ini tidak menghasilkan limbah dalam kolam.yang ditempati oleh ikan selama 3-6 bulan. “Penerapan sistem seperti ini bisa menjadi lebih efisien untuk diterapkan di wilayah Timur Tengah seperti Palestina. Sistem ini yang membuat mereka belajar ke UMM karena lebih hemat lahan serta air,” lanjut Doni. Lebih jauh Aquaponik, sambung Doni, adalah sistem pertanian berkelanjutan yang mengkombinasikan aquakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. “Dalam aquakultur yang normal, ekskresi atau proses pembuangan sisa metabolisme dan benda tidak berguna dari hewan yang dipelihara akan terakumulasi di air dan meningkatkan toksisitas (kadar racun, red.) air jika tidak dibuang,” terangnya. Selain itu, salah satu hasil riset terkini UMM yang diperkenalkan dan menjadi solusi bagi masyarakat urban di Palestina yaitu konsep one house one pond (satu rumah satu kolam) yang digagas dosen Prodi Perikanan, FPP UMM, Riza Rahman Hakim M.Sc. Dalam konsep tersebut, Riza memiliki strategi memanfaatkan lahan sempit di perkotaan atau urban untuk berternak ikan dengan hasil maksimal dan efisien. Dalam konsep ini, Riza menggabungkan antara budidaya ikan lele di kolam terpal dengan budidaya sayuran melalui sistem aquaponik. Ada dua sistem yang dikembangkan Riza, yaitu sistem budidaya lele biona berbasis bio-natural serta budidaya lele bionik yang merupakan kombinasi antara bio-natural dan aquaponik. Dengan konsep ini, penggantian air hanya 30% dan hanya seminggu sekali. Secara umum, one house one pond menjadikan kotoran lele sebagai pupuk tanaman di atas kolam yang terus berulang. Selain hemat dalam memberi makan lele, konsep ini juga meminimalisir pemakaian air. “Dalam konsep ini, penggunaan air sangat sedikit. Sementara pada budidaya lele tradisional, sekitar 50% air diganti dan dilakukan hampir setiap hari. Airnya juga berbau tak nyaman,” ujarnya. Dalam kesempatan berbeda, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyebut, penguatan riset berbasis kepakaran ini menjadi ciri khas UMM untuk mengembangkan mutu akademik agar bisa bersaing di level internasional. Hal itu selaras dengan ikhtiar UMM yang terus berupaya melakukan pemetaan kepakaran para dosen agar memiliki keahlian yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. (riz/can) Shared:
Mahasiswa UMM Jadi Guru Bahasa Inggris Bagi Anak-Anak Polandia

SEBAGAI seorang mahasiswa, tanggung jawab mengembangkan masyarakat adalah suatu keniscayaan. Selain mendapatkan asupan pengetahuan yang cukup, mahasiswa membutuhkan laboratorium untuk mempraktekkan seluruh teori. Hal inilah yang dilakukan tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Polandia. Mereka adalah Fahreza Firdaus Permana dari Ilmu Pemerintahan, Emeralda Narulita Halim dan Akhmad Syafik dari Prodi Psikologi. Melalui program International Educations 2.0 AIESEC UMM, mereka berada di Polandia sejak 11 Januari lalu. Selama di sana, Emerelda dan kawan-kawannya terbagi lagi ke beberapa tempat. Fahreza sendiri bekerja pada bidang kesehatan di Kota Wroclaw, sebuah kota yang terletak di sebelah barat Polandia. Sementara Emeralda dan Syafik menjadi tenaga pendidik di Taman Kanak-kanak (TK) Publiczne Przedszkole Nr 25 Uniwersytet Opolski di Kota Opele, Polandia Selatan yang berpenduduk sekitar 128.000 jiwa. “Selama di sini senang banget karena bisa memberitahu bahwa bahasa asing juga penting untuk dipelajari,” ungkap Emeralda. Perempuan kelahiran Banjarmasin 2001 ini menceritakan pengalamannya memperkenalkan permainan indonesia kepada anak-anak TK. Salah satunya melalui sarana bermain board game, ular tangga. Selain suasana belajar-mengajar yang mengasyikkan, bagi Emerelda, masyarakat Opole sangatlah toleran dan ramah. Terbukti dari penerimaan masyarakat yang saling menyapa. “Beberapa waktu lalu kami diliput media Polandia. Mereka sangat mengapresiasi aksi kami,” terang perempuan yang punya hobi jalan-jalan ini. Senada dengan Emeralda, Syafik juga merasakan kehangatan dalam suasana mengajar. “Adik-adik mengungkapkan rasa sayangnya kepada kami dengan memeluk, itu yang seringkali membuat kami haru,” ungkapnya. Di Polandia, diakuinya, akan membuat siapapun betah berlama-lama untuk tinggal. Emeralda dan kedua temannya akan kembali ke Indonesia, Sabtu (23/2). Sesudah enam minggu di Polandia, mereka berencana menularkan semangat berbagi kepada mahasiswa lainnya. Juga, menebar semangat pluralisme saling menghargai setiap perbedaan yang ada, seperti yang mereka rasakan saat di Polandia. (mir/can)
Rezka Mardhiyana, Debater UMM yang Lulus dengan IPK Nyaris Sempurna

Meski tidak pernah menargetkan menjadi wisudawan terbaik, segala usaha Rezka Mardhiyana selama menempuh program sarjana di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berbuah manis. Rezka, ia akrab disapa, menjadi wisudawan terbaik tingkat universitas dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3,99. Tidak hanya pandai di kelas, selama kuliah Rezka mendulang banyak prestasi. Juara I debat psikologi Nasional Psychedelic Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Juara I lomba debat politik nasional POLITE Universitas Brawijaya,dan banyak lainnya. Di bidang akademik, Rezka peringkat II mahasiswa berprestasi UMM tahun 2018. Gadis asal Banjarmasin ini menyatakan, dengan mengikuti banyak perlombaan debat, wawasan yang ia miliki semakin bertambah. “Kalau ikut debat kan selalu ada temanya sendiri. Jadi kita dipaksa untuk belajar materi-materi baru. Bahkan yang terakhir aku jadi Best Speaker di kompetisi debat politik nasional,” tuturnya. Menjajaki pengalaman internasional tak juga dilewatkan Rezka. Satu di antaranya di tahun 2018, Rezka tercatat sebagai peserta program Learning Express di UMM bersama dengan mahasiswa Singapore Polytechnic untuk mengenal metode design thinking. Yakni salah satu metode baru dalam melakukan proses desain. Rezka bersama tim Singapuranya menciptakan prototype alat bernama Express Bakso Machine. Alat ini diciptakan untuk menjawab keresahan pedagang bakso di Desa Temas, Kota Batu. Ia berhasil meretas permasalahan produksi bakso dalam jumlah banyak dengan waktu singkat di tengah permintaan konsumen yang tinggi. Rezka sangat aktif berkegiatan karena termotivasi oleh orang tuanya. “Orang tua saya lulusan SMK, tapi ayah saya selalu mendapatkan beasiswa ketika sekolah. Dari situ saya banyak belajar dan termotivasi. Mungkin hal itu yang membuat saya selalu melakukan yang terbaik dari setiap keputusan yang saya ambil,” tuturnya. Meski kegiatannya yang bertumpuk, tak lantas membuatnya menunda merampungkan tugas akhirnya. Melalui judul ‘Pengaruh Intolerance of Uncertainty terhadap Generalized Anxiety Disorder pada Remaja’, Rezka membahas pengaruh kognitif seseorang menoleransi suatu ketidakpastian. Ia memperoleh predikat sangat baik. Diakuinya, atmosfer belajar dan berprestasi di UMM yang membuatnya terdorong untuk senantiasa berprestasi dan menimba banyak pengalaman berharga. Tempaan juga motivasi yang diperolehnya selama menjalani proses perkuliahan di UMM diyaniki Rezka yang bakal membuatnya lebih optimis dan bertumbuh di masa depan. (bel/can)