Di Zaman yang Serba Berubah, Teori Sosial Juga Harus Ikut Berubah

PROGRAM Studi (Prodi) Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghelat kuliah perdana dengan tema “Produksi Ilmu Sosial Mutakhir di Era Revolusi Industri 4.0” di Aula BAU UMM, Rabu (27/02). Kuliah Perdana ini mendatangkan Prof. Dr. Der. Soz. Rochman Achwan, MDS., guru besar Sosiologi dari Universitas Indonesia. Menurutnya, sejak dari era hortikultura, industri, informasi, hingga masyarakat digital seperti saat ini, perubahan melekat pada masyarakat. Seperti sekarang, digitalisasi sudah menjadi bagian keseharian masyarakat. “Jadi sebagai Sosiolog, haram hukumnya tidak tahu menahu perubahan yang terjadi di masyarakat,” lanjutnya. Ia berpendapat untuk menyongsong era digital atau era Industri 4.0, kita harus memahami situasi sosial yang kita hadapi. Dikarenakan peranan sosial akan mempengaruhi cara kerja ekonomi, politik, dan lain-lain. “Jika kita tidak bisa memahami situasi sosial yang kita hadapi, kita tidak bisa memahami apa-apa,” paparnya. Pada era digital, perguruan tinggi mempunyai peranan penting dalam masyarakat. Bahkan, disebutnya, banyak universitas yang berbondong-bondong menjadi universitas riset. “Hasil riset itu harus dipublikasi agar bisa dibaca siapa saja. Sehingga bisa menjadi pertimbangan kebijakan untuk pemerintah maupun masyarakat,” lanjutnya. Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ketua program studi Sosiologi UMM mengemukakan, Sosiologi perlu meninggalkan teori-teori lama karena lingkungan sosial masyarakat sudah mulai berubah. Jika terus menggunakan teori-teori lama maka sosiolog akan terjebak di masa lalu dan tidak bisa menafsirkan fenomena masyarakat terkini. Rachmad juga memaparkan hal yang bisa dilakukan dosen juga mahasiswa untuk menghadapi Industri 4.0. Dosen dan mahasiswa harus mempunyai teori sosial yang digemari dan dikuasai untuk melihat fenomena sosial. “Meskipun pakai teori barat, saat diterapkan di Indonesia nantinya juga bisa kita kritik kekurangannya,” tandasnya. (riz/can)
Semnas PBSI UMM-UMMI: Literasi Dosen Juga Mesti Dikuatkan

BERDASARKAN data Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 64 dari 72 negara yang rutin membaca. Bahkan, menurut The World Most Literate Nation Study, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Temuan data ini diistilahkan oleh Dr. Sugiarti, M.Si., ketua program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bahwa generasi Indonesia sekarang rabun membaca dan lumpuh menulis. Hal ini disampaikan Sugiarti saat agenda program studi PBSI UMM bersama PBSI Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) dalam gelaran seminar nasional dengan tema “Gerakan Literasi Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran di Era Industri 4.0”. “Padahal literasi itu sangat penting. Dengan literasi kita bisa memahami berbagai masalah dalam kehidupan dengan nalar kritis,” tegasnya. Pada seminar nasional ini sekaligus dilakukan kerja sama di bidang akademik antara kedua belah pihak. Ditambahkan oleh dosen program studi PBSI UMMI Deden Ahmad Supendi , M.Pd., ia mengatakan bahwa yang perlu digerakkan literasinya bukan hanya mahasiswa sebagai generasi milenial. Namun, dosen juga perlu memperkaya literasi. Dosen, disebut Deden, tidak cukup mempelajari bidangnya saja. “Dosen ketika mengajar itu harus kaya kasus-kasus terbaru. Bukan kasus-kasus lama yang ada di buku panduan saja,” tegasnya di hadapan ratusan peserta seminar. Diskusi ini ditutup oleh Dr. Poncojari Wahyono M.Pd dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM dengan mengutip surat Al-Alaq. Ia mengatakan bahwa surat pertama yang turun ke Nabi Muhammad SAW saja tentang pentingnya membaca. “Nabi Muhammad SAW itu buta huruf, jadi maksud membaca itu bukan membaca tulisan saja, tapi juga membaca fenomena kehidupan,” paparnya. Demikian dimaksudkan Poncojari, bahwa literasi tidak hanya berhenti pada tekstual. Poncojari lantas menjelaskan bagaimana Jepang bangkit dari Perang Dunia II dengan menggalakkan gerakan literasi. “Sekarang Jepang berada di atas negara-negara lain. Lihatlah, di jalanan Indonesia dibanjiri mobil dari Jepang,” ujarnya. Anak-anak kejuruan mampu membuat mobil listrik, tapi mereka akan kalah bertarung di pasaran karena literasi manajemen pemasarannya kurang. Jadi siapapun terlebih dosen, harus memperkaya literasi di bidang apa saja,” tandasnya. (usa/can)